Tampilkan postingan dengan label Memoar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Memoar. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Februari 2016

Kepada Hujan yang Jatuh Ritmis





Matanya tengah merindukan hujan. Padahal jendela besar berkaca itu masih menyisakan titik-titik air di permukaannya. Daun-daun pepohonan di luar sana juga masih terlihat basah. Angin semilir yang menggoyangkan pucuk-pucuk dedaunan membuat sisa-sisa air yang menempel di sana berjatuhan, bak guguran kristal. Mereka jatuh ke tanah, jatuh ke danau, jatuh ke genangan air, menciptakan riak-riak bergelombang. Andai telinga manusia mampu menangkap bunyi paling mikro di dunia ini, mungkin episode butir air yang jatuh itu akan menciptakan nada, meski hanya sebentar saja. Bunyi yang mungkin kelak akan membuatnya berpikir, bahwa sekecil apapun kejadian sesungguhnya memiliki makna. Ia tidaklah jatuh hanya untuk sia-sia.

Matanya tengah merindukan hujan. Padahal hujan belum lama usai, ini tidak sedang kemarau. Hujan telah membuat ujung rok panjangnya basah di sepanjang perjalanan. Hujan pula yang membuatnya harus kerepotan mengembangkan payung di tengah lalu-lalang orang. Ah, namun suara deras hujanlah yang akhir-akhir ini mampu memupusnya dari perasaan kesepian nan membosankan. Baginya, hujan tak lain adalah bahasa alam paling merdu dan indah yang dihadiahkan tuhan. Rasanya, ia tak memerlukan lagi alasan-alasan, mengapa hujan yang kadang tak disukai sebagian orang itu justru selalu ia nantikan.

Sama seperti rinai hujan yang jatuh ke bumi, ia pernah jatuh berkali-kali. Entah hatinya, entah perasaannya, entah harapan, entah menjatuhkan pilihan, dan tentu saja... sepasang keping matanya yang bening itu pernah berkali-kali menjatuhkan rinai pula. Meskipun terkadang, ingin sekali ia menghindari jatuh. Ya, untuk apa terjatuh, jika kelak akan patah? Lalu, yang patah dan terencah itu harus ia tata ulang dengan susah payah. Sebagai hawa, sulit sekali rasanya menghindari jatuh. Perempuan tak bisa disandingkan begitu saja dengan logika, ia adalah konstelasi perasaan, lantas harapan-harapan dan keinginan. Perempuan tak bisa diibaratkan begitu saja dengan kerasnya karang di tepi samudra. Bahwa setegar apapun jiwanya, ia tetaplah daun kering yang luruh terkena tempias hujan. Rapuh. Tapi, bukankah tak jarang pula, cintanya tersembunyi. Rahasia. Dalam diam dan menunggunya, hening dalam doa adalah jalan cintanya. Hanya karena ia terlalu malu untuk mengutarakan sebelum rasa itu menjadi halal baginya.

Perempuan itu melangitkan doa-doa tiap usai menghadap Sang Pencipta meski dalam sehening-heningnya suara, tanpa seseorang nun jauh di sana itu pernah tahu, apalagi mendengarnya. Semoga Ar-Rahmaan meneguhkan langkahnya, menguatkan ikhtiarnya, menambah iman dan rasa cintanya kepada tuhan, meluruskan niatnya, memudahkan urusannya, melembutkan hati orang-orang terdekat kalian untuk senantiasa membukakan jalan, juga menjaga hati-hati kalian agar tetap berada di jalan tuhan selama perjalanan itu belum sampai ke titik pertemuan, dan semoga Ia segera turun tangan. Bersama sebilah keyakinan dan harap-harap cemas, ia tepis keraguan demi keraguan. Bukankah keraguan itu muasalnya dari setan? Ahai, banyak sekali ‘semoga’ yang ia panjatkan. Namun, ia tak peduli. Ia percaya, Allah selalu senang mendengar permohonan hamba-Nya. Apakah nama yang ia doakan kali ini juga mendoakannya? Ia tak tahu, juga tak peduli. Yang ia dambakan, doa yang ia langitkan segera turun menjelma jawaban dari Sang Penguasa Alam.

Apakah kali ini ia telah jatuh kembali? Tidak-tidak. Seorang sahabat mengajarinya bahwa sebagai kata kerja, cinta haruslah diperjuangkan semampunya, diupayakan sebisanya. Tanpa perjuangan, seorang hamba tak akan pernah bisa menghargai cinta. Bukan membiarkannya jatuh dengan semena-mena, untuk kemudian patah berderaian begitu saja. Bangun cinta, bukan jatuh cinta. Cinta: bukan untuk dijatuhkan, namun ditumbuhkan di tempat yang layak, yang semestinya. Namun, bukankah tak selamanya jatuh itu bermuara pada pecah atau patah? Jatuh di ruang yang aman, seperti bola kristal yang jatuh di permukaan busa yang empuk, seperti ranting kayu yang jatuh di permukaan air yang tenang. Apabila saat ini hatinya tengah jatuh, apakah benar-benar telah menemukan tempat berlabuh?

Lantas, di saat yang tak lama berselang, apakah kali ini ia telah patah kembali? Patah untuk ke sekian kali? Apakah ia telah salah menjatuhkan pilihan? Lalu, apa sebenarnya makna ‘yakin’ yang selama ini perlahan ia lekatkan di dasar hatinya yang paling dalam? Apakah ia harus mengulang pertanyaan ini lagi: ke mana gerangan perginya doa-doanya yang rahasia? Mengapa harapan yang perlahan bertunas itu harus terinjak dan mati kembali? Kecewa di ujung harap, dalam bahagia yang nyaris mendekap. Bahwa menyandarkan harap seutuhnya kepada tuhan bukanlah semudah-mudahnya perkara. Ya, sama beratnya dengan belajar bersabar dalam setiap proses dan ujian. Kemudian, doanya pun berubah: jika itu takdirnya semoga Allah membukakan jalan, dan jika bukan mohon dijauhkan sejauh-jauhnya. Sejauh-jauhnya, hingga benar-benar lenyap dari pandangan. Sejauh-jauhnya, hingga tak bisa saling menyapa atau berkirim salam. Atau, jika jauh itu merupakan sebentuk ujian, maka hanya dia yang terpilihlah yang akan mampu memupus sekat-sekat jarak dalam memperjuangkan tujuan. Jika sekat itu berupa waktu yang tak menentu, maka hanya dia yang terbaiklah yang mampu bersabar dengan sebaik-baik kesabaran dalam mencapai tujuan. Jika hari ini ia berupaya menjaga apa yang seharusnya dijaga, maka ia juga akan dipertemukan dengan yang mampu menjaga pula. Jika hari ini ia berupaya menjadi seistimewa kembang di tepi jurang nan curam, maka hanya pejuang yang mau berjuang dengan setangguh-tangguh upaya yang kelak mampu memetik tangkainya. Sebab, memang tak ada sesuatu yang berharga bisa didapatkan dengan mudahnya. Sedangkan manifestasi cinta kepada Rabb Semesta Alam pun adalah perjuangan, tiada kata ‘gampang’, tiada kata mulus dan instan di jalan menuju surga-Nya. Pun jalan memenuhi cinta itu dengan penyelamatan setengah agama.

Matanya masih selalu merindukan hujan. Baginya, hujan tak lain adalah bahasa alam paling merdu dan indah yang dihadiahkan tuhan. Ada ayat kauniah yang berseru di tiap rinainya: akulah ciptaan-Nya yang paling berani, aku tak pernah takut jatuh meski berkali-kali. Ya, air curahan langit itu bertasbih di tiap jatuhnya. Sebab hujan jatuh di bumi yang lapang, dan tanah yang bersedia menampung setiap tetesnya sebagai sebentuk karunia. Ia percaya, suatu saat nanti ia akan jatuh tanpa patah jua untuk seterusnya.... di hati seseorang yang paling lapang daripada hati-hati sebelumnya, yang mampu menerimanya dengan sebaik-baik penerimaan, sekaligus mampu memberi dengan setulus-tulusnya pemberian. Ia pun belajar melalui semesta, bahwa pelangi tak bisa hadir tanpa hujan yang mendera. Sesederhana itu.

Matanya masih selalu merindukan hujan. Tentu saja karena hujan adalah salah satu waktu yang sangat mustajabah bagi keterkabulan sebuah doa. Kusyuk, ia akan biarkan hujan mengawal doa-doa yang terlantun hingga ke angkasa.

Matanya masih merindukan hujan. Kelak, biar deras guyurannya menghapus jerejak kenangan tak menyenangkan di hari-hari yang telah lalu, lenyap mengabu, tak bersisa.


Depok, di Februari yang membasah 2016

Senin, 26 Oktober 2015

Romantika Skripsi



Ro.man.ti.ka a liku-liku atau seluk-beluk yang mengandung sedih dan gembira.
Skrip.si n karangan ilmiah yang wajib ditulis oleh mahasiswa sebagai bagian dari persyaratan akhir pendidikan akademisnya.
--Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, 2003—


Skripsi, agaknya satu kata ini memang ajaib buat mahasiswa tingkat akhir. Tentu saja, dia menentukan lulus-tidaknya sang mahasiswa dari perguruan tinggi. Dalam perjalanan bersamanya, tak sedikit yang menjumpai kesusahan, namun banyak juga yang lancar jaya. Tak sedikit yang menyebutnya “momok” hingga ada ungkapan “jangan tanya skripsi!”. Malahan, belakangan ini bermunculan akun-akun di twitter semacam @skripsit, Derita Mahasiswa: aku ingin kuliah seribu tahun lagi, dll. Lumayan menghibur. Setidaknya, jika kita telah penat dengan kuliah dan skripsi, kicauan-kicauan di sana cukup bisa mengundang tawa, asal jangan ikuti kicauan yang melunturkan semangat saja.

Saya bukan tergolong mahasiswi yang menjumpai banyak kesulitan ketika mengerjakan skripsi, juga bukan golongan yang lancar tanpa hambatan sama sekali. Lha di mana? Tengah-tengah. Haha. Alhamdulillah, sekarang sudah lulus dan ikut wisuda sarjana Universitas Gadjah Mada periode IV, 27 Agustus 2013. Saya sungguh terkagum-kagum dengan teman-teman saya yang berhasil menyelesaikan skripsi tepat waktu: satu semester selesai! Di sisi lain, saya juga terheran-heran kepada saudara-saudari yang bertahun-tahun tidak lulus-lulus, meski saya juga tidak tahu-menahu problem mereka sebenarnya apa (no suudzon!). Kalau saya boleh membandingkan (at least bagi saya sendiri lho ini), mengerjakan skripsi itu jauh lebih menyenangkan dari pada menghadapi UAN. UAN menuntut kita bisa semuanya, bisa Matematika, bisa Kimia, bisa bahasa Inggris, bisa Fisika, blablabla. On the other hand, kemampuan tiap manusia beda-beda. Setidaknya, skripsi hanya menyuruh kita menulis karya ilmiah tentang bidang yang sesuai jurusan, minat, dan bakat kita di perkuliahan. Kau kuliah bahasa, nggak bakal ada ceritanya kau disuruh menulis tentang dunia peternakan. Lho, saya kan salah jurusan, udah nggak minat dari dulu (lame excuse). By the way, berapa persentase mahasiswa yang merasa salah jurusan dengan yang tidak? Banyak teman-teman saya yang mengaku dulu tidak ingin masuk jurusan kami sekarang, termasuk saya. Sejak masih memakai seragam putih-biru saya sudah ingin masuk Sastra, tapi Sastra Jepang, kalau tidak ya Sastra Indonesia. Sama sekali tidak match dengan anjuran ortu, karena ibu ingin saya masuk Psikologi, dan bapak menganjurkan ke Sastra Inggris. Setelah istikharah, saya memutuskan memilih sastra semua. Dari pada Psikologi yang saya nggak ngeh itu ilmu macam apa dan bagaimana, mending saya ke bahasa, bidang yang sudah lumayan akrab bagi saya. Namun, ternyata takdir berkata lain. Cerita lengkapnya bisa dibaca di sini.

Saya uring-uringan sampai semester tiga, masih saja merasa salah jurusan. Kuliah ya dijalani seperti biasa dengan hasil yang juga biasa, sungguh saya bukan mahasiswi istimewa. Kalau teman-teman saya suka nonton film-film barat, tontonan saya malah dorama dan anime Jepang. Kalau koleksi mereka lagu-lagu barat, saya justru kolektor lagu-lagu Jepang. Rasanya, suatu saat pengen balas dendam atas kegagalan masuk Sastra Jepang dengan ke Jepang sungguhan, entah bagaimanapun caranya. “Bener-bener salah jurusan elu, Li. Someone Like You aja nggak ngerti. Lagu Inggris yang lu tahu itu apa sih?” #sigh. Tak jarang saya mengalihkan kejenuhan saya ke kegiatan-kegiatan yang lain, bergaul dengan teman-teman jurusan lain. Bertukar ilmu dengan mereka. Sampai-sampai, saya dikira Sastra Arab, dikira Sastra Jepang, dikira Sastra Indonesia. Baiklah, saya memang tak ada potongan Sastra Inggris. #nooffense

Okelah, selalu salahkah salah jurusan? Nggak ada gunanya juga merutuki nasib sepanjang waktu, kuliah setengah hati, terpaksa karena ortu udah terlanjur ber-euforia gue bisa ketrima di universitas nomor wahid ini dan dibiayai, ya apa boleh buat? Dijalani aja deeeehhh… (nih orang hidupnya kasihan banget sih? Baru salah jurusan kuliah aja putus asanya udah setengah hidup, gimana nanti kalo ngerasa salah pilih pasangan hidup coba? Salto trus lompat indah ke jurang kali ye -_-). Jadi, salah siapa salah jurusan? Ya salah kita! Salah kita karena tidak mau mengambil hikmah dari ini semua. Bisanya cuma mengeluh. Sang Maha Pemberi Ketentuan telah memberikan sebaik-baik pilihan, sebaik-baik yang kita butuhkan. Sebab, kita tak selamanya bisa mendapatkan apa yang kita cintai, namun kita bisa mencintai apa yang kita dapatkan. Cinta haruslah diupayakan. Mencintai ilmu karena Allah, dengan begitu ia bisa mengantarkan kita kepada Allah. Tentu saja berbagai macam ilmu di universitas kehidupan ini (asal bukan ilmu hitam dan sesat), jadi yang bisa masuk surga bukan cuma Sastra Arab saja (lho?).

Jadi ceritanya saya mulai mencintai English. Mau nggak mau, saya harus mengakui jika bahasa satu ini memang prospektif dan dibutuhkan masyarakat luas. Apalagi ketika job menerjemahkan mulai berdatangan meski kadang masih berasaskan pertemanan. Semester pertama hingga lima pun terlalui. Semester enam adalah masa-masa sibuk yang menyita segalanya. Mempersiapkan KKN, jumlah mata kuliah yang masih banyak, tugas-tugas yang masih membludak, ditambah keharusan menyusun proposal skripsi. Di jurusan saya, semester enam sudah wajib menulis proposal skripsi. Dosen-dosen senior sudah mewanti-mewanti agar kami lulus tepat waktu, no excuse! Benak masih sesak dengan berbagai macam jadwal dan agenda-agenda, proposal skripsi hanya saya tulis seadanya. Masih gamang dengan judul, padahal sudah harus dikumpul. Eh, esok harinya dosen meng-acc juga. Entahlah, pikiran saya justru tertumbuk kepada KKN ke luar Jawa. Novel yang menjadi bahan penelitian saya sudah ada, namun belum saya sentuh sama sekali. Buku-buku pendukung teorinya juga belum saya cari. Masa bodoh dengan skripsi, yang penting saya mengabdi ke pulau seberang dulu.

Awal semester tujuh, nama Dosen Pembimbing Skripsi (DPS) masing-masing mahasiswa sudah tertempel rapi di depan kantor jurusan. Nama mahasiswa, nama DPS, judul skripsi dipajang semua di sana. Duh, saya malu menatap judul saya sendiri. Sedangkan DPS yang akan membimbing saya, nama itu belum pernah saya kenal sebelumnya. Deg-degan, jangan-jangan beliau… (beuh, udah mikir aneh-aneh duluan >_<). Berminggu-minggu berlalu dan saya masih bersantai-santai tanpa berinisiatif menghubungi Pak DPS, sok sibuk dengan amanah ini-itu dan satu matkul yang cuma 3 SKS. Yakale si bapak yang bakal nguber mahasiswanya, mana ada ceritanya? Gue yang harus move on lah! Pagi itu, SMS saya yang pertama langsung dibalas oleh beliau dengan ramahnya (duh, senangnya), lantas janjian ketemuan di kampus. Alhamdulillah, DPS saya super-baik, gaul, nggak nyeremin, jauh dari yang saya bayangkan sebelumnya. Pulang-pulang langsung termotivasi. Terngiang kata-kata beliau, “Skripsi kok satu tahun? Padahal cuma begitu-begitu saja, enam bulan sudah harus selesai sebenarnya. Kalau ada kesulitan, bilang saja, nanti saya bantu.”

Kemudian, saya mulai menyepi. Di perpustakaan, di Masjid Kampus lantai dua, atau tempat yang tenang mana saja, menekuni novel yang saya jadikan bahan penelitian dan buku-buku pendukung teorinya dengan sepenuh hati. Saya sungguh menghindari kamar kosan jika ingin mengerjakan skripsi karena sempitnya ruang membuat saya tak bisa berkonsentrasi.

Akhir semester tujuh, beberapa teman saya sudah akan ujian pendadaran. Kaget, ya iyalah! Saya? Oh, Chapter I saja belum beres, bagaimana Chapter II, apalagi Chapter IV. Saya ngapain aja selama ini, ya Rabbi? “Udah sampai mana skripsimu, Li?” tanya ayah suatu kali. “Bab satu,” jawab saya malas. “Dari kemarin bab satu mulu?” Uh, rasanya ingin menenggelamkan diri di balik selimut (terus tidur, lalu mimpi skripsi beres, ujian pendadaran, dan tinggal nunggu pakai toga. hoahm).

Februari 2013. Beberapa teman saya diwisuda. Ikut senang. Kagum, terharu, campur aduk. Mereka layak diberi apresiasi, karena istiqomah dengan apa yang mereka kerjakan, fokus, tidak banyak mengeluh apalagi menggalau. Merekalah salah satu motivator saya, selain DPS dan orang tua. Kalau mereka bisa, mengapa saya tidak? Mereka juga nggak menonjol-menonjol amat di jurusan, tapi mereka bisa lulus duluan. Nah!

Skripsi mulai saya benahi lagi, saya rapikan pelan-pelan. Meski godaan untuk malas mengerjakannya jauh lebih banyak dari pada motivasi untuk segera menyelesaikannya, siapa juga yang mau jadi pecundang dengan mengeluh dan mengalah? Hey, ini masih skripsi, belum tesis, belum disertasi. Mencoba meyakinkan diri bahwa ini masih mudah dan tentu saja bisa dilalui. Namun, godaan syaithan dalam diri itu memang sungguh menyebalkan. Ketika mencoba membuka file skripsi, saya malah “kejatuhan” segepok inspirasi untuk menulis cerpen. Hasilnya, satu cerpen selesai dengan happy ending, skripsi terkatung-katung. Apalagi jika koneksi internet sedang lancar-lancarnya, saya malah sibuk bermain di dunia maya. Ketika mencoba meresapi buku-buku teori yang kesemuanya berbahasa Inggris itu, apa daya, yang saya sentuh kemudian justru novel teranyar karangan penulis ternama. What the.... jadi saya harus perang sama diri saya sendiri? Terlepas dari banyaknya dorongan dari luar sana, kalau saya tidak bergerak dan cuma misem-misem sambil bilang terima kasih ke mereka ya sama saja. Kuncinya ada pada saya sendiri. Apa mereka ngerti skripsi saya kayak gimana? Enggak! Tidak ada yang akan mengerjakan skripsi kita kecuali kita sendiri, kita yang tahu, kita yang mampu. So, nggak usah banyak mikir, kerjain aja. Percumalah saya menganalisis terjemahan novel Negeri 5 Menara jika spirit peribahasa Arab man jadda wajada yang menjadi ruh cerita itu tak tertular ke dalam diri saya. Kemudian, saya bertekad bulat, saya harus bisa lulus bulan Mei biar bisa segera daftar S2. Itu artinya, setidaknya akhir Februari 2013 skripsi saya sudah harus beres. Saya tempel tulisan dengan huruf merah tebal-tebal di dinding kamar: “Man jadda wajada, 28 Februari 2013!”

Fokus. Telaten. Sabar. Tawakal. Deretan kata itu sudah selayaknya bersahabat dengan kata “skripsi”. Fokus. Ini yang kadang emang susah banget. Apa boleh buat? Paksa! Saya nonaktifkan FB selama berbulan-bulan, pulang kampung dalam kurun waktu yang lama, tidak merespon SMS tidak penting (dari orang yang juga tidak penting), menyimpan rapi novel-novel yang membuat saya tergoda untuk membacanya. Terlepas dari masih ada amanah di luar sana, maaf-maaf dulu ya, skripsi saya jauh lebih penting. Soalnya, berkaitan dengan amanah orang tua. Mereka yang sudah bersusah-payah membanting-tulang demi anaknya yang calon sarjana, tentu mereka menaruh selaksa harap agar kelulusan anaknya tidak terlambat. Jadi, kalau kau mulai malas, mulai menyepelekan pekerjaan istimewa ini (terkadang kita menyepelekan hal besar, tapi much ado about something—membesar-besarkan hal sepele), mulai ogah-ogahan, ingatlah orang tua. Kesuksesanmu hari ini tak lepas dari pengorbanan mereka, karena doa-doa mereka yang mustajab untuk anak tercintanya. Tega menghancurkan harapan mereka dengan menjadi mahasiswa abadi? Saya yakin, mahasiswa paling bengal pun tak akan berani untuk mengatakan “iya”. Seriously, terkadang egois dalam mengejar cita-cita memang perlu. Tak usah terpengaruh teman-teman yang nyantai, mau-mau saja diajak malam mingguan ngalor-ngidul. Please, mind your own beeswax! Nah, skala prioritasnya harus dibenahi lagi. Harus bisa memilih dan memilah mana yang penting & mendesak, penting & tidak mendesak, tidak penting & mendesak, dan tidak penting & tidak mendesak. Nah, yang agak susah adalah bagi mahasiswa yang sudah kerja dan juga yang sudah berkeluarga. Mereka harus membagi perhatiannya ke banyak hal, nggak cuma skripsi saja. Tapi alangkah kerennya jika mereka bisa mengatur waktu dengan rapi, sehingga yang namanya skripsi tetap tidak terbengkalai. J So, be nitty gritty—fokus pada hal yang terpenting.

Procrastinator. Kata ini melekat pada seseorang bukan karena fitrahnya, punya sifat menunda-nunda sama sekali bukan bakat alamiah manusia, tapi karena dibiasakan, akhirnya jadi karakter. “Ntar aja deh, ngantuk. Bangun tidur ntar gue kerjain.” Bangun tidur eh kelaperan, makan sambil nonton TV, kebetulan tayangannya lagi asyik. Hah! Kelupaan mau ngerjain skripsi. “Kalau begitu, besok lagi aja deh, pasti gue kerjain!” Ah, padahal waktu tak bisa dibeli, tak bisa dikembalikan, tak bisa diputar ulang. Perhatikan ucapan Ibnu Qayyim,
“Perbedaan antara impian dan khayalan adalah bahwa mengkhayal melibatkan kemalasan, di mana seseorang tidak berusaha atau pun berjuang (untuk yang dia inginkan). Impian, akan mengharuskan seseorang berjuang, usaha dan tawakal. Yang pertama ibarat berharap tanah akan membajak dan menanam sendiri untuknya. Sedang yang kedua benar-benar membajak, menanam, dan berharap tanaman tumbuh.” (Madaarij As-Salikin)

Just kill the excuses! Alasan adalah ciri orang gagal, karena pencari alasan tak pernah belajar. Alkisah, ada dua orang mahasiswa yang sama-sama sedang skripsian: Pesimus dan Optimus. Setelah beberapa kali bertemu dosen, mereka disuruh revisi. Pesimus menceracau, “Sial! Sial! Sial! Beberapa minggu lalu dosbing bilang bagian yang ini dihapus aja, eh pas udah gue hapus, sekarang suruh nambahin lagi. Maunya apa sih tuh dosen? Udah gue bela-belain begadang semalaman. Capek revisi tau nggak? Gue sebal pangkat lima ratus juta!” Lain halnya dengan Optimus, ia malah bersyukur. “Alhamdulillah, dengan banyaknya revisi, saya jadi banyak belajar kembali. Kan with pain there’s gain, tak ada kesuksesan gratis dan jatuh dari langit begitu saja. Insya Allah nanti jerih payah saya terbayarkan dengan hasil yang sangat memuaskan, atau cumlaude. Aamiin.”

Life is choice. Mau memilih menjadi Optimus atau menjadi Pesimus itu terserah kita. Mau menjadi pemenang atau pecundang itu juga terserah kita. Namun, hidup mengajari kita untuk bergerak ke arah yang lebih baik, dengan usaha yang terbaik. Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan // Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang begitu nasihat Imam Syafi’i.

Impian saya untuk wisuda bulan Mei menguap seiring berlalunya waktu, sementara pada bulan April Chapter III saya masih terkatung-katung. Padahal menurut jadwal wisuda Mei, April itu juga berkas-berkas yudisium dan wisuda sudah harus dikumpulkan, dan saya tak kunjung ujian pendadaran. Apa boleh buat? Target diundur lagi: no excuse, saya harus wisuda Agustus. Begitulah, kita pandai membuat rencana-rencana, namun seringkali kita lebih pandai menunda-nundanya.

Baiklah, setidaknya ada beberapa faktor yang mempengaruhi lulus cepat atau tidaknya sang mahasiswa.
  1. Jurusan. Sebenarnya ini juga relatif, sih. Pendapat sebagian orang, mahasiswa ilmu sosio-humaniora tergolong lebih cepat lulusnya daripada mahasiswa dari disiplin ilmu-ilmu eksak. Ketika mahasiswa eksak disibukkan dengan praktikum (bahkan di akhir pekan), kami kadang malam mingguan nonton pagelaran di kampus. Ketika anak eksak harus kuliah lapangan dulu kalau mau skripsian, kami nonton film, baca novel, baca komik, atau menganalisis lirik lagu saja sudah bisa jadi skripsi (bahkan Doraemon saja bisa jadi skripsi og piye? à anak Sasjep ^_^). Jurusan saya pun hanya mensyaratkan skripsi minimal 40 halaman, sangat tipis jika dibandingkan dengan jurusan lain yang minimal 70 halaman. Tapi faktor 1 ini tetaplah relatif, sangat bisa dipengaruhi oleh faktor-faktor yang lain.
  2. Dosen. Kelakar orang pinter kalah dengan orang bejo itu tentu saja ada benarnya. Sebagai mahasiswa yang baik, tentu kita patuh pada jurusan yang telah berbaik hati memilihkan DPS untuk kita. Ke depannya, DPS ini tak cuma sekadar “pembimbing skripsi” saja, namun beliau haruslah menjadi sahabat, orang tua, motivator penyuluh (dan bukan bukan ‘peruntuh’) semangat bagi mahasiswa yang dibimbing. Sayangnya, DPS bukan dewa bumi yang bisa kita butuhkan kapan saja. DPS juga punya segudang problema yang harus diurus selain skripsi mahasiswa. Mungkin kita sudah selesai, tapi DPS lamban mengoreksi, atau malah sibuk melanglang buana ke mana-mana. Beruntunglah yang mendapat jatah DPS “enak”. Selain mudah ditemui, juga cepat dalam mengoreksi. Sehingga, bukan fenomena langka lagi jika ada mahasiswa IPK dua koma blablabla lulus lebih cepat daripada yang empat koma blablabla. :P
  3. Topik penelitian. Ini ada kaitannya juga dengan dosen. Ada kalanya kita sudah sreg, dosen meminta untuk mengubah judulnya (dengan berbagai pertimbangan). Atau mungkin kita yang sangat tertarik dengan topik tersebut, namun susah dijalani, complicated. Buku teorinya susah didapat lah, objek penelitiannya susah lah, etc.
  4. Faktor internal. Sudah jelaslah, ini sangat penting sekali. Tanpa ada kesungguhan niat dari pelaku utama (baca: mahasiswa), mustahil skripsi bisa selesai dengan lancar jaya. Semudah-mudahnya faktor 1-3, akhirnya kembali ke diri sendiri, bagaimana kita menyikapi rintangan-rintangan yang ada.

Finally, setelah mengalami berkali-kali revisi (entah berapa kali, saking banyaknya -_-), hari yang mendebarkan itu datang juga. Akhir Juni saya ujian pendadaran. Bismillahirrahmanirrahiim. Tiga tahun lebih sembilan bulan untuk menyelesaikan studi, tidak molor sama sekali. Alhamdulillah. Man jadda wajada. He who gives his all will surely succeed. Masih selalu teringat pertanyaan menggelikan dari Pak chairperson alias ketua penguji saya ketika itu, “How you read this? I cannot read this.” Oalah, yang ditanyakan malah motto saya di halaman awal skripsi, 100% huruf hijaiah man jadda wajada. -___- (untungnya beliau tidak sampai mengira saya mahasiswi Sastra Arab yang salah masuk ruang sidang).





Bibliography:
Nataliani, Ratna. 2011. Supermuslimah. Bandung: GAMAIS Press.
Y. Siauw, Felix. 2013. How to Master Your Habits. Jakarta: AlFatih Press.


(Catatan ini saya tulis pasca menyelesaikan sidang skripsi di bulan Juni 2013. Waktu berjalan cepat rupanya. Sekarang, Oktober 2015, saya sedang tahap mengerjakan tesis sebagai syarat kelulusan studi magister. Setidaknya, catatan yang saya tulis dua tahun lalu ini menjadi setitik penyuluh semangat untuk diri sendiri, juga siapapun yang tengah memperjuangkan kelulusan studinya.)

Senin, 03 Agustus 2015

Rizuka




Nama lengkapnya Rizka Purnamasari. Secara harfiah, saya tidak tahu apa makna yang tersembunyi di balik nama itu. Namun, kulit putih dan mata sipitnya membuatnya sepintas seperti perempuan keturunan Jepang. Maka, saya suka memanggilnya Rizuka リズカ」—namanya kalau di-Jepang-kan.

Perjumpaan kami dimulai ketika pagi itu—bertahun-tahun silam, ia datang menjadi anggota baru ke kelompok halaqah kami yang baru berumur beberapa pekan. Ketika itu, kami semua tidak satu jurusan, namun bernaung di atap fakultas yang sama. Saya satu-satunya mahasiswi Sastra Inggris di forum itu. Begitu pun Rizka, ia jurusan Arkeologi. Di mata saya saat itu, ia dan Salsabilla sungguh teman dekat yang kemana-mana selalu bersama. Selain karena mereka satu jurusan di Arkeologi, potongan mereka pun nyaris sama: baju setelan dan kerudung gelap, sandal gunung, serta ransel di punggung. Berbeda dengan saya yang didominasi warna pink dan warna-warna cerah lainnya. Namun, siapa sangka, jika di kemudian hari, saya yang berbeda malah lebih nyaman sering menggeje bertiga dengan mereka.

Ah, sebenarnya, berada satu lingkaran tiap pekan itu bukanlah faktor utama kedekatan kami selanjutnya. Meski tidak tinggal satu atap, rumah kos kami lumayan berdekatan. Tidak terlalu jauh. Jadilah kami sering janjian makan bareng atau belanja bareng ke swalayan terdekat. Terkadang, saya main ke kamarnya, atau ia yang main ke kamar saya. Entah kenapa, kamar kos saya yang begitu sempit selalu terasa lapang justru ketika ada teman yang berkunjung. Ada kehangatan yang tercipta di sela-sela obrolan ngalor-ngidul dan canda-tawa penghapus penat karena kuliah. Aih, jadi kangen kos saya di Jogjaaaa >_<.

Hingga kemudian kami sama-sama berada di jajaran pengurus organisasi yang sama di fakultas. Ia sekretaris umum, dan saya ketua bidang keputrian. Tahun selanjutnya masih di organisasi yang sama, sama-sama sebagai Dewan Pertimbangan. Seringnya rapat bersama menambah kadar kedekatan itu. Saya yang cenderung manja dan “tukang nyampah” ini tidak lantas membuatnya jengah. Sepanjang ini, ia bisa menjadi sahabat saya “kapan saja”, yang bersedia menampung banyak gulana, meski tentu saja tidak semua curhatan-tak-penting saya bermuara kepadanya. Pun ketika jarak memberi jeda antara kami ketika itu, seolah ada benang maya yang menautkan hati-hati kami untuk tetap saling merengkuh dalam pesan-pesan via socmed dan doa-doa. Pun kini, ketika setahun lebih sekian bulan perjumpaan itu tiada lagi, berterimakasihlah kepada jasa teknologi canggih masa kini, kami masih bertemu di antara teks-teks dunia maya, dan terkadang saya masih suka “nyampah”, sementara ia masih selalu sabar menjadi pendengar dengan sekian kalimat penghiburan.

“Oh iya-ya, besok kamu udah pakai toga ya, Li,” ucapnya di SMS sehari sebelum saya wisuda. Ada rasa senang campur sedih yang tiba-tiba menyergap, susah didefinisi. Esok hari bahagia saya, tentu saja, menerima ijazah dari universitas terbaik di negeri ini, namun itu pula yang membuat saya berpisah dengan Yogyakarta dan segala isinya—Kota Cinta, Kota Cita kami selama kurang-lebih empat tahun. “Nanti kalau aku wisuda, masih ada yang datang nggak ya?” Ia pesimis. Satu-persatu dari kami memang telah lulus dan meninggalkan kampus, bahkan meninggalkan Yogyakarta, kota rantauan kami tercinta—seperti halnya saya. “Insya Allah masih ada-lah. Asal kamu segera menyelesaikan skripsi, sidang, kemudian wisuda November esok,” hibur saya. Namun, November itu saya tidak jadi menghadiahinya bunga ucapan selamat wisuda. Ia masih berproses, mungkin kadang tersengal. Saya tidak berhak menghakimi mengapa ia tidak seperti kami yang bisa wisuda tepat waktu dalam kurun waktu empat tahun masa studi. Everyone has their own problems. Hingga keterpisahan kami November itu ditandai dengan sepucuk surat dari saya untuknya. Surat itu sebenarnya surat balasan dari suratnya yang ‘ala kadarnya’ untuk saya ketika itu—sesaat sebelum saya pulang usai wisuda bulan Agustus. Surat dengan tulisan tangannya yang ‘agak berantakan’ :p, namun ditulis dengan ketulusan. Lantas, saya malah membalasnya dengan empat halaman ketikan dengan dalih tulisan tangan saya lumayan ‘nyentrik’, jadi mungkin susah dibaca orang lain. Hahaha. Itu surat kedua dari saya untuknya, setelah dulu saya pernah menyuratinya sebelum saya berangkat KKN ke luar Jawa—sementara ia masih stay di kampus, mengurus agenda besar fakultas: penyambutan mahasiswa baru.

November 2013 yang mendung, saat terakhir kami bertemu di acara wisuda beberapa kawan, ketika saya sudah menyandang status sarjana dua bulan sebelumnya, sementara ia sendiri masih berproses dengan skripsinya.

Memutar ulang memori tiga tahun sebelumnya, tentu saja meruapkan rindu untuk kembali ke masa itu. Atap kosan tempat jemuran baju bagi kami adalah tempat yang istimewa. Usai menuntaskan makan malam di spot tertentu (kadang di warung burjo, kadang di warung bakmi, kadang di rumah makan Padang, dan sebagainya), duduk di sana malam-malam ketika langit sedang bersih adalah momen yang tepat untuk memperbincangkan apa saja. Memperbincangkan kehidupan, masa depan, serta hal-hal remeh-temeh yang kami buat sekadar untuk lucu-lucuan.

Sekali lagi, bukankah bahagia itu perkara sederhana? Kami menyulam canda-tawa melalui kebersamaan-kebersamaan sederhana, dari obrolan-obrolan biasa yang sesungguhnya tak pernah ‘berat’. Bahagia memang tak pernah jauh, ia dekat, ia muncul dari perkara dan hal-hal sederhana. Bahkan, bahagia dan sedih jaraknya setipis benang saja. Seperti ketika sore berhujan itu, langkah kami menuju Masjid Kampus dengan harapan janji yang telah dibuat terpenuhi, pupus seiring seseorang itu yang tak kunjung datang hingga bumi menggelap. Hujan deras dan berangin kencang. Saya terduduk lesu di atas lantai marmer masjid yang dingin. Pulang, itu kata-kata yang terucap selanjutnya. Menanti hujan reda yang entah kapan serasa membuang waktu sia-sia. Maka, kami beranikan menerjang sisa hujan yang masih mendera. Berjalan kaki dengan payung yang tak mampu melindungi kami sepenuhnya dari air hujan, tersebab angin yang masih berhembus. Kuyup sudah, dari kerudung hingga rok. Namun, semangkuk sup di tempat makan pinggir kampus itu menawarkan kehangatan, membuang kekesalan yang sebelumnya menggumpal di hati, aromanya yang meruap menerbitkan selera makan. Ya, kebahagiaan kami sore itu memang sederhana: menikmati sup hangat usai basah kuyup kedinginan karena hujan. Kesederhanaan yang menenteramkan.

Bagi saya, dia juga adalah sosok yang sederhana dan apa adanya. Bukankah sebuah jalinan persahabatan seharusnya juga atas dasar alasan yang sederhana: saudara seiman?

Dia yang saya kenal memang sederhana, sesederhana tiap canda yang dulu kami punya. Dulu, yang saya ingat, ia sering ke kampus memakai sepeda, dengan tas kain yang ia selempangkan di bahunya.


"Hidup ini lucu, kadang manusia tak tahu apa yang sebenarnya ia cari."
-Rizka Purnamasari, Kisah dalam Seribu Rupiah (antologi cerpen Angkasa Rindu, 2014)-