Tampilkan postingan dengan label Rinai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rinai. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Februari 2016

Kepada Hujan yang Jatuh Ritmis





Matanya tengah merindukan hujan. Padahal jendela besar berkaca itu masih menyisakan titik-titik air di permukaannya. Daun-daun pepohonan di luar sana juga masih terlihat basah. Angin semilir yang menggoyangkan pucuk-pucuk dedaunan membuat sisa-sisa air yang menempel di sana berjatuhan, bak guguran kristal. Mereka jatuh ke tanah, jatuh ke danau, jatuh ke genangan air, menciptakan riak-riak bergelombang. Andai telinga manusia mampu menangkap bunyi paling mikro di dunia ini, mungkin episode butir air yang jatuh itu akan menciptakan nada, meski hanya sebentar saja. Bunyi yang mungkin kelak akan membuatnya berpikir, bahwa sekecil apapun kejadian sesungguhnya memiliki makna. Ia tidaklah jatuh hanya untuk sia-sia.

Matanya tengah merindukan hujan. Padahal hujan belum lama usai, ini tidak sedang kemarau. Hujan telah membuat ujung rok panjangnya basah di sepanjang perjalanan. Hujan pula yang membuatnya harus kerepotan mengembangkan payung di tengah lalu-lalang orang. Ah, namun suara deras hujanlah yang akhir-akhir ini mampu memupusnya dari perasaan kesepian nan membosankan. Baginya, hujan tak lain adalah bahasa alam paling merdu dan indah yang dihadiahkan tuhan. Rasanya, ia tak memerlukan lagi alasan-alasan, mengapa hujan yang kadang tak disukai sebagian orang itu justru selalu ia nantikan.

Sama seperti rinai hujan yang jatuh ke bumi, ia pernah jatuh berkali-kali. Entah hatinya, entah perasaannya, entah harapan, entah menjatuhkan pilihan, dan tentu saja... sepasang keping matanya yang bening itu pernah berkali-kali menjatuhkan rinai pula. Meskipun terkadang, ingin sekali ia menghindari jatuh. Ya, untuk apa terjatuh, jika kelak akan patah? Lalu, yang patah dan terencah itu harus ia tata ulang dengan susah payah. Sebagai hawa, sulit sekali rasanya menghindari jatuh. Perempuan tak bisa disandingkan begitu saja dengan logika, ia adalah konstelasi perasaan, lantas harapan-harapan dan keinginan. Perempuan tak bisa diibaratkan begitu saja dengan kerasnya karang di tepi samudra. Bahwa setegar apapun jiwanya, ia tetaplah daun kering yang luruh terkena tempias hujan. Rapuh. Tapi, bukankah tak jarang pula, cintanya tersembunyi. Rahasia. Dalam diam dan menunggunya, hening dalam doa adalah jalan cintanya. Hanya karena ia terlalu malu untuk mengutarakan sebelum rasa itu menjadi halal baginya.

Perempuan itu melangitkan doa-doa tiap usai menghadap Sang Pencipta meski dalam sehening-heningnya suara, tanpa seseorang nun jauh di sana itu pernah tahu, apalagi mendengarnya. Semoga Ar-Rahmaan meneguhkan langkahnya, menguatkan ikhtiarnya, menambah iman dan rasa cintanya kepada tuhan, meluruskan niatnya, memudahkan urusannya, melembutkan hati orang-orang terdekat kalian untuk senantiasa membukakan jalan, juga menjaga hati-hati kalian agar tetap berada di jalan tuhan selama perjalanan itu belum sampai ke titik pertemuan, dan semoga Ia segera turun tangan. Bersama sebilah keyakinan dan harap-harap cemas, ia tepis keraguan demi keraguan. Bukankah keraguan itu muasalnya dari setan? Ahai, banyak sekali ‘semoga’ yang ia panjatkan. Namun, ia tak peduli. Ia percaya, Allah selalu senang mendengar permohonan hamba-Nya. Apakah nama yang ia doakan kali ini juga mendoakannya? Ia tak tahu, juga tak peduli. Yang ia dambakan, doa yang ia langitkan segera turun menjelma jawaban dari Sang Penguasa Alam.

Apakah kali ini ia telah jatuh kembali? Tidak-tidak. Seorang sahabat mengajarinya bahwa sebagai kata kerja, cinta haruslah diperjuangkan semampunya, diupayakan sebisanya. Tanpa perjuangan, seorang hamba tak akan pernah bisa menghargai cinta. Bukan membiarkannya jatuh dengan semena-mena, untuk kemudian patah berderaian begitu saja. Bangun cinta, bukan jatuh cinta. Cinta: bukan untuk dijatuhkan, namun ditumbuhkan di tempat yang layak, yang semestinya. Namun, bukankah tak selamanya jatuh itu bermuara pada pecah atau patah? Jatuh di ruang yang aman, seperti bola kristal yang jatuh di permukaan busa yang empuk, seperti ranting kayu yang jatuh di permukaan air yang tenang. Apabila saat ini hatinya tengah jatuh, apakah benar-benar telah menemukan tempat berlabuh?

Lantas, di saat yang tak lama berselang, apakah kali ini ia telah patah kembali? Patah untuk ke sekian kali? Apakah ia telah salah menjatuhkan pilihan? Lalu, apa sebenarnya makna ‘yakin’ yang selama ini perlahan ia lekatkan di dasar hatinya yang paling dalam? Apakah ia harus mengulang pertanyaan ini lagi: ke mana gerangan perginya doa-doanya yang rahasia? Mengapa harapan yang perlahan bertunas itu harus terinjak dan mati kembali? Kecewa di ujung harap, dalam bahagia yang nyaris mendekap. Bahwa menyandarkan harap seutuhnya kepada tuhan bukanlah semudah-mudahnya perkara. Ya, sama beratnya dengan belajar bersabar dalam setiap proses dan ujian. Kemudian, doanya pun berubah: jika itu takdirnya semoga Allah membukakan jalan, dan jika bukan mohon dijauhkan sejauh-jauhnya. Sejauh-jauhnya, hingga benar-benar lenyap dari pandangan. Sejauh-jauhnya, hingga tak bisa saling menyapa atau berkirim salam. Atau, jika jauh itu merupakan sebentuk ujian, maka hanya dia yang terpilihlah yang akan mampu memupus sekat-sekat jarak dalam memperjuangkan tujuan. Jika sekat itu berupa waktu yang tak menentu, maka hanya dia yang terbaiklah yang mampu bersabar dengan sebaik-baik kesabaran dalam mencapai tujuan. Jika hari ini ia berupaya menjaga apa yang seharusnya dijaga, maka ia juga akan dipertemukan dengan yang mampu menjaga pula. Jika hari ini ia berupaya menjadi seistimewa kembang di tepi jurang nan curam, maka hanya pejuang yang mau berjuang dengan setangguh-tangguh upaya yang kelak mampu memetik tangkainya. Sebab, memang tak ada sesuatu yang berharga bisa didapatkan dengan mudahnya. Sedangkan manifestasi cinta kepada Rabb Semesta Alam pun adalah perjuangan, tiada kata ‘gampang’, tiada kata mulus dan instan di jalan menuju surga-Nya. Pun jalan memenuhi cinta itu dengan penyelamatan setengah agama.

Matanya masih selalu merindukan hujan. Baginya, hujan tak lain adalah bahasa alam paling merdu dan indah yang dihadiahkan tuhan. Ada ayat kauniah yang berseru di tiap rinainya: akulah ciptaan-Nya yang paling berani, aku tak pernah takut jatuh meski berkali-kali. Ya, air curahan langit itu bertasbih di tiap jatuhnya. Sebab hujan jatuh di bumi yang lapang, dan tanah yang bersedia menampung setiap tetesnya sebagai sebentuk karunia. Ia percaya, suatu saat nanti ia akan jatuh tanpa patah jua untuk seterusnya.... di hati seseorang yang paling lapang daripada hati-hati sebelumnya, yang mampu menerimanya dengan sebaik-baik penerimaan, sekaligus mampu memberi dengan setulus-tulusnya pemberian. Ia pun belajar melalui semesta, bahwa pelangi tak bisa hadir tanpa hujan yang mendera. Sesederhana itu.

Matanya masih selalu merindukan hujan. Tentu saja karena hujan adalah salah satu waktu yang sangat mustajabah bagi keterkabulan sebuah doa. Kusyuk, ia akan biarkan hujan mengawal doa-doa yang terlantun hingga ke angkasa.

Matanya masih merindukan hujan. Kelak, biar deras guyurannya menghapus jerejak kenangan tak menyenangkan di hari-hari yang telah lalu, lenyap mengabu, tak bersisa.


Depok, di Februari yang membasah 2016

Rabu, 22 Juli 2015

Epitaf






Kepada lelaki yang pernah mendiami salah satu relung tersembunyi di hati adindaku, Rinai.

Elang, perkenalkan, aku Mentari. Surat ini datang kepadamu atas dorongan dari hatiku sendiri. Kutulis dengan sejumput doa semoga engkau sudi menelusuri setiap jengkal kata-kata di beberapa helai kertas lusuh ini, tidak lantas mencampakkannya ke tempat sampah. Namun jika surat ini telah usai kau baca, itu terserahmu, kau membuangnya juga aku tak mengapa. Semoga pesanku tetap sampai ke hatimu.

Kau tentu terkejut dengan kalimat pembuka yang kutulis. Kau tidak pernah menyangka sebelumnya, bukan? Bagaimana mungkin? Selama beberapa tahun ini kalian bersahabat. Sahabat dalam kebaikan, bukan? Sebagai orang yang sama-sama bertekad untuk teguh dalam beragama, kalian tetap berusaha saling menjaga. Kalian sepenuhnya menyadari jika apapun statusnya, kalian tetap bukan mahram. Tidak ada hubungan apapun yang bisa menghalalkan kedekatan kalian lebih dari sepasang teman—kecuali… pernikahan. Namun frasa ‘sahabat baik’ tetap tidak mampu hilang atau musnah begitu saja. Kalian tetap bersahabat apa adanya. Ya, mungkin bagimu itu biasa.

Akan tetapi Lang, kuberi tahu satu rahasia besar yang harus kau camkan baik-baik. Bagi Rinai, kau lelaki yang berbeda daripada umumnya—betapapun kalian berbeda dalam banyak hal. Kau istimewa di matanya. Aku tidak mengerti sejak kapan ia memiliki kesimpulan seperti ini. Namun, tahukah kau, kebaikan-kebaikan kecil yang pernah kau berikan kepadanya itu tidak akan hilang selamanya dari ingatan Rinai. Mungkin kau sudah lupa, mungkin bagimu itu hal sepele nan remeh-temeh. Bagi perempuan—makhluk dengan sejuta kelembutan yang diciptakan Allah—itu bagaikan sebuah sentilan halus yang sedang menyapa hatinya. Ada lawan jenis yang sedang berusaha mengetuk-ngetuk pintu hatinya. Yang kutahu, tidak ada perempuan yang tidak tertawan dengan perhatian. Tidak ada, Lang. Maka, begitulah cara rasa bernama ‘suka’ dan ‘cinta’ bekerja. Ia bermula dari setitik noktah berjudul perhatian, interaksi dan kebersamaan yang mungkin tak kasat mata. Rinai tidak pernah mengatakan bahwa ia menaruh hati terhadapmu, namun diam-diam hatinya bersedih ketika kau sakit—tapi kau malah bungkam tentang sakitmu. Ia gelisah dalam doanya, bertanya-tanya dalam hening, apakah engkau baik-baik saja.

Mungkin kau juga tidak pernah menyadari gelagat Rinai yang tak jarang cuek terhadapmu. Ia bukannya sebal, jutek, atau marah kepadamu. Ia hanya sibuk menyembunyikan rona parasnya yang bersemu malu-malu, sembari menenangkan degub yang perlahan berdetak dan desir aneh yang tiba-tiba hadir acapkali kalian bertemu. Ia pun bingung, bagaimana agar rasa yang mendiami kalbunya mampu cepat-cepat ia usir. Ia sadar sepenuhnya, kau bak ksatria yang diidamkan banyak hawa. Ia tak ingin turut serta dalam deretan perempuan yang menyukaimu. Ia hanya perempuan sederhana yang ingin dicintai dengan sederhana pula. Lantas, ketika rasa yang selama ini ia hindari datang tanpa diminta, ia ingin mematahkan interaksinya denganmu, namun tentu saja ia tidak bisa menjauhimu begitu saja tanpa alasan. Sementara, tahun berlalu dan kalian tetaplah sahabat dalam kebaikan. Maka, hening adalah jalan cinta yang ia tempuh kemudian.

Usai jeda jarak membentang yang memisahkan kalian, senyum itu masih setia melengkung di bibir tipisnya. Doa-doa dan harapan masa depan yang ia gumamkan dalam hati tersimpan dalam diam yang menjadi bahasanya. Sungguh, aku tak tahu apa-apa tentang semuanya. Hingga ia bercerita tentang pinangan yang ia tolak. Tidak ada yang salah. Lelaki itu saleh nan sederhana, pandai dan sudah bekerja. Namun, usai istikharah, Rinai justru bermimpi bertemu denganmu. Ah, entah itu isyarat tuhan atau malah bunga tidur yang ditiupkan setan. Meski kau tidak pernah menjanjikan apapun, ia yakin, akan ada pertemuan berharga lagi di masa depan. Denganmu, Lang.

Semuanya baik-baik saja hingga hari itu, hari suratmu yang bersampul merah marun sampai di depan pintu rumah kami. Aku masih ingat betul isinya, kau bercerita, “Rinai, aku dijodohkan oleh orang tuaku. Namun, selama ini aku mencintai perempuan lain. Kau tidak mengenalnya, namun ia anggun dan  salehah sepertimu. Ia bernama…”

Sampai pada kalimat itu, semua alinea seakan mengapung, lantas kabur, buram. Wajah adindaku tertekuk. Tak butuh waktu lama setelahnya, tulisan tanganmu telah kabur oleh luh yang berderai-derai dari manik matanya.

…Laras.”

Cukup sudah. Nama itu bukan Rinai. Jelas sudah, sejak saat itu, merpati kecilku itu memendam luka. Cukup sudah untuk semuanya, mungkin namamu memang harus dihapusnya dari lembaran kisah. Mengambil langkah seribu, menghilang tanpa jejak, dan kau tak perlu tahu. Jahatkah Rinai, Lang? Kau tentu menantikan balasan darinya atas suratmu yang sendu. Sungguh, maafkan dia. Bagaimana mungkin ia menasihatimu untuk mengikhlaskan segalanya dan menyandarkan segala harap kepada Yang Kuasa ketika ia tidak bisa mengingkari hatinya yang masih jauh dari ikhlas? Kabura maqtan ‘indallahi antaquulu ma laa taf’aluun. Tentu saja ia tak ingin menyalahi aturan itu.

Kuyakinkan ia untuk melepaskan semuanya. Cinta, rindu, marah, dendam atau apapun rasa dalam hatinya yang masih berkaitan denganmu. Kuyakinkan dia tentang rumus sederhana, bahwa cinta adalah pemberian yang tulus, tanpa mengharapkan balasan apapun. Di sisi lain, cinta juga adalah sebuah penerimaan. Ikhlas menerima apapun keadaannya. Maka, tak bisa kusebut itu cinta selama ia masih terikat oleh perasaan ingin memiliki dan membersamai, ketika takdir kalian justru tak sama. Tidak mudah baginya menelan segala kalimatku yang mungkin sok bijak. Sama sulitnya dengan menghapus semua kenangan yang sudah terlanjur menetap di memorinya. Namun, Rinai belajar. Ya, Rinai belajar untuk melepaskan. Cinta adalah memberi tanpa mengharap balas. Ia melepaskan semuanya, tanpa dibebani ingin agar kau membalasnya. Maka, ia lepaskan doa-doa menuju langit setiap ia bersimpuh di atas sajadah. Sungguh, ada sejumput rasa bersalah yang menyesaki hatinya usai ia memutuskan pergi menghilangkan jejak tanpa membalas suratmu ketika itu. Namun, lidahnya sudah terlanjur kelu, apatah lagi untuk berjumpa denganmu kembali. Sepertinya lebih baik tidak usah saja. Sebagai gantinya, doa-doa itulah yang ia gumamkan setiap malam. Ia berdoa, semoga engkau dikaruniai pasangan yang terbaik menurut pandangan-Nya. Siapapun itu. Baik engkau telah lama mengenalnya maupun belum. Baik engkau telah memiliki rasa cinta terhadapnya atau belum.   

Untuk doa-doa yang selama ini ia utarakan diam-diam untukmu, sebenarnya aku ingin meminta satu hal darimu. Aku ingin meminta doa yang tulus darimu untuk Rinai. Jika orang itu memang benar-benar bukan kamu, doakan ia mendapatkan kekasih yang terbaik menurut-Nya, yang mampu menggenapinya dengan kasih sayang yang tulus, selayaknya bening cinta dari Yang Maha Kuasa. Doakan Rinai mampu mencintainya dengan sepenuh jiwa.

Namun, sayangnya itu semua tidak akan terjadi.

Dari mana aku tahu semua ini? Lisan adindaku tidak pernah berkisah secara lengkap, Lang. Buku hariannyalah yang bercerita. Kupungut buku kumal itu dari almari kamarnya yang kini tak berpenghuni. Usianya dua puluh empat ketika ia divonis mengidap meningitis. Rupa-rupanya itu jawaban atas sakit kepala luar biasa yang beberapa tahun terakhir menderanya. Rinai optimis ia akan sembuh. Cerita-cerita pendeknya berserakan di banyak surat kabar. Naluri menulisnya tidak pernah menyusut barang sesenti pun. Secara tidak langsung, inspirasi-inspirasinya datang darimu, dari pertemuan kalian yang dulu-dulu itu. Secara tidak langsung, kaulah salah satu alasan yang menguatkan jiwanya untuk tetap menapak menuju kesembuhan. Ah, terima kasih banyak, Lang. Namun, ternyata tidak butuh waktu sampai satu tahun untukku menerima kenyataan pahit itu. Kukira ia yang layu akan bersemi kembali. Tapi tidak, mau tak mau, aku harus selalu memercayai nasihat sederhana ini: Allah menyayanginya lebih dari apapun, lebih dari ayah-ibunya, lebih dari sahabat-sahabatnya, lebih dari kita semua yang mengenalnya.

Tanah merah pusaranya masih basah ketika nuraniku meminta tangan ini untuk menulis surat kepadamu, biar segala kisah dan cinta yang pernah ia simpan tidak selamanya ikut tertimbun dalam liang lahat menjadi rahasia.

Kisah kalian mungkin hanya sepersekian dari beribu-juta bahkan selaksa kisah yang ada di muka bumi ini, kisah yang sudah jamak terjadi. Kisah yang menjadi andalan para pengarang, pujangga dan sastrawan. Kisah yang tidak pernah habis untuk dikisahkan lagi dan lagi. Namun apalah gunanya kita mencintai mati-matian segala sesuatu yang fana, yang sejatinya bukan milik kita?

Maafkan dan ikhlaskan dia. Terima kasih telah memberi warna tersendiri dalam hidupnya yang tidak lama. Jika suatu saat kau ingin menjenguknya, carilah pusara adindaku, namanya tertera di epitaf itu.



Selasa, 21 April 2015

Rinai




Assalamualaikum. Ketika kutulis baris-baris pesan ini, hujan sedang tercurah menderas di Kota Kenangan, Adinda. Rintiknya yang syahdu membuatku teringat padamu. Kau sering bilang jika kau rindu menjejakkan kaki lagi kemari. Ada gugusan rindu teramat pekat yang kau tahan dalam hati. Namun, nikmatilah rindumu, Sayang. Ada rasa pedih namun indah dalam merindu. Sulit mengungkapkannya dalam kosakata bahasa manapun. Percayalah, sejauh apapun jarak terentang, kita akan selalu bertaut dalam doa-doa yang membumbung ke angkasa. 

Ah, hujan membuatku teringat padamu. Dulu, hujan yang meninggalkan genangan di tiap ruas jalan tak pernah menghalangi langkahmu menuju kampus, bukan? Kau mengajakku berpayung berdua di hari-hari penuh rinai. Ada satu rahasia yang tak pernah kau ceritakan di balik setiap lengkung senyum dan semangatmu ketika itu. Bahwa ada seseorang yang membuatmu bahagia, acap kali kau menjumpainya. Aku urung bertanya siapa. Jika ia lelaki, aku paham, menjatuhkan cinta adalah hal yang wajar bagi perempuan seusiamu. Sebagaimana dulu aku juga berkali-kali dilanda rasa aneh yang menggejala itu, sebelum Ar-Rahmaan memperjumpakanku dengan ia yang kini menjadi pemimpinku. Ia yang suatu malam kutemukan dalam munajat di ujung sajadah. Ia yang sebelumnya tak kukenal, dan ia tak mengenalku. Bahkan, ketika kami telah bersanding di pelaminan usai ikrar mitsaqan ghalizaa yang ia ucapkan, rasa bernama cinta itu belum menyapa hatiku, pun mungkin hatinya. Hambar. Namun, cinta bertumbuh seiring waktu, seiring kebersamaan sederhana kami setiap hari. Sungguh, cinta bukanlah perkara seberapa lama kau mengenal seseorang itu sebelumnya. Cinta adalah batu-bata yang pondasinya harus disusun bersama-sama dengan telaten dari hari ke hari, hingga kita bisa menyaksikan bangunan rumah tangga yang utuh dan indah. Sejak itu aku mengalami jatuh cinta yang beda, yang lain dari jatuh cinta sebelum menikah. Demikianlah, aku hanya ingin kau tahu, Adinda.

Belum bisa kulupakan paras sayumu beberapa bulan yang lalu. Kau datang dengan selaksa cerita bernada duka. Sambil mulutmu terbata bercerita, rinai mulai terbit dari kedua pelupuk matamu, kemudian jatuh pelan-pelan membentuk aliran sungai kecil di pipimu yang merah jambu. Kau cengeng? Tidak. Kau hanya ingin aku tahu sepenggal kisah yang sudah bertahun-tahun kau timbun sendirian. Bagimu, ini semua terlalu menyakitkan. Mengapa cinta membuatmu mencintainya, ketika dia justru mencintai orang yang bukan kamu? Rasa itu punya muasal, tentu. Namun bagaimana ia menghampiri kalbumu yang sedang labil, aku tak ingin membahas itu. Bukan hal yang bijak pula untuk menggugat takdir. Mengapa kau tertakdir menjadi perempuan. Ya, kau bilang kau hanya perempuan biasa—yang memenuhi kodratnya selayaknya perempuan pada umumnya: diam dan menunggu. Hening sehening-heningnya. Menutup celah serapat-rapatnya. Perasaan tak perlu diumbar-umbar, ia bukanlah barang murahan. Sebagai perempuan. Ya, sebagai perempuan, kau diam, menyembunyikan semuanya di jurang hati yang paling dalam. Ada sepucuk doa berisikan harapan yang setiap selesai salat kau gumamkan. Ia seolah ketidakmungkinan yang akan selalu kamu semogakan. Ya, kau hanya perempuan. Alangkah tidak mudahnya untuk mengungkap, berkata, berterus-terang. Tidak seperti dia—lelaki yang dengan mudahnya bisa memilih, berterus terang, dan memutuskan. Kau hanya perempuan biasa. Hanya!

Tetapi, hidup kita bukanlah kisah cinta romantis seperti novel-novel besutan penulis ternama yang seringkali kau baca—di mana ending-nya selalu bermuara pada bahagia. Terlalu musykil pula untuk mendambakan kisah seperti Fathimah dan Ali, saling mencintai dalam diam hingga akhirnya takdir menyatukan mereka. Kenyataan terkadang memang menyakitkan, Sayang. Kita tidak bisa menerka guratan takdir yang ditulis Sang Maha Kuasa. Namun, kita harus memiliki keyakinan utuh bahwa guratan yang telah ditulis-Nya untuk kita itulah yang terbaik, meski itu semua tak pernah kita prediksi, tak terlintas dalam harapan-harapan masa depan yang pernah kita tulis. Bisa saja Dia memiliki rencana yang lebih indah untuk-Mu dari yang sekarang kau dambakan. Maka, pasrah—bukan berarti kalah. Pasrah dalam bingkai keikhlasan atau kerelaan, atas segala putusan dari Yang Maha Memutuskan. Jawaban itu bisa jadi dia—nama yang selama ini kau sembunyikan, bisa jadi bukan dia. Tidak ada di antara kita yang bisa menerka, sebab hari depan adalah misteri tak berkesudahan. Namun, siapa pun itu kelak, bukankah kau pernah berujar, mana mungkin engkau menolak nama yang telah diguratkan indah oleh-Nya dalam kitab takdirmu yang terjaga, bahkan sebelum engkau menarik nafas pertamamu di dunia? Ya, siapa pun itu kelak, bukan masalah bagimu sebenarnya, bukan? Kau hanya perlu waktu yang tidak lama untuk melepaskan segalanya, berdamai dengan hatimu sendiri, mengubur pelan-pelan kenangan, dan nama itu; nama yang kau sebut dalam doa, namun mungkin ia malah tak pernah menyebut namamu dalam doanya.

Cinta-Nya adalah yang paling utama, Dinda. Maka, mendekatlah meski sejengkal demi sejengkal. Meski tertatih dan terjatuh. Sungguh, cintamu akan selalu dibalas oleh cinta-Nya yang tak bisa diukur dengan dunia dan seisinya.

Sudah ya, Adinda. Waktumu terlalu berharga untuk kau habiskan berkubang dalam kesedihan tanpa muara. Kau sendiri paham, orang yang membuatmu bersedih tidak akan tahu tentang sedihmu. Lantas, untuk apa? Jikalau doamu kepadanya tetap terlantun, berdoalah yang terbaik untuknya, untukmu juga.

Biarkan semuanya lenyap mengabu. Biarkan rinai yang tercurah menderas menghapus jejak-jejak kenanganmu dengannya di masa lalu. 

Sungguh, rinai di luar sana yang meninggalkan titik-titik air di kaca jendela mengingatkanku akan rinai yang luruh dari kedua keping matamu ketika itu. Tentu saja, ia juga mengingatkanku akan namamu: Rinai. Kau mencintai hujan sebagaimana keping matamu begitu mudahnya meluruhkan luh bening itu. Mungkin itulah mengapa kau tumbuh sebagai perempuan sendu. Karenanya, aku datang untuk menghangatkan hatimu. Esok, atau lusa, jika cahaya matahari yang beradu dengan titik-titik gerimis kau jumpai, tersenyumlah. Allah telah menghadiahimu warna-warni pelangi.

Kuharap, ketika surat ini sampai di hadapanmu, rinai telah kering dari pelupuk matamu.




Kota Kenangan, musim penghujan 2015

Ayundamu, Mentari