Tampilkan postingan dengan label mawar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mawar. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 April 2016

Mawar yang Terenggut dari Tangkainya




Lelaki tak pernah usai menebar bunga, namun menyayatkan luka pada akhirnya. Sementara perempuan berlebihan menimang harapan dan mimpi-mimpi tak pasti.

“Apakah selalu seperti itu, Yunda? Kenapa harus selalu perempuan yang menerima luka?”

Aku menggeleng perlahan. Tidak, Dinda. Tidak semua laki-laki berengsek, pun tak semua perempuan rapuh pula.

“Lantas?” Gadis berkerudung biru toska di sampingku membenarkan letak duduknya. Ada nada keresahan dalam sebilah tanya yang ia lontarkan.

“Kita hanya sedang tertatih belajar,” ucapku kemudian.

“Maksud Yunda?” Aku bergeming, sebelum kemudian ia melanjutkan kisahnya.

“Aih, tentu aku masih belum bisa lupa. Lelaki itu telah mengincarku sejak lama. Namun, sejak awal aku telah menegaskan kepadanya untuk menjaga hijab komunikasi di antara kami, kecuali dia memang telah benar-benar serius dan siap untuk melamarku. Kupegang janjinya untuk itu dan kulihat pula bagaimana ia konsisten dengan ucapannya. Setahun berlalu dan ia memegang janjinya untuk tetap menjaga. Hingga aku menamatkan kuliahku dan diwisuda, ketika itulah ia mulai mendekatiku lagi, mengatakan bahwa ia serius dan siap untuk melamarku. Orang tuaku memang mengharapkanku segera menikah usai wisuda, Yunda. Lantas, orang tua mana yang tidak berbunga hatinya mengetahui pria yang datang berniat meminang putrinya adalah seorang hafiz Quran? Aku maupun ayah-ibu tidak sedikit pun meragukan keluasan pengetahuan agamanya. Insya Allah dia mampu menjadi imam yang baik kelak dalam rumah tangga. Baiklah, akhirnya ia berencana melamarku dua bulan kemudian, dengan konsep akhir tahun akad nikah kemudian resepsi digelar di awal tahun berikutnya.”

Ada jeda sebelum ia melanjutkan kisahnya. Aku bersiap mendengarkan kembali dengan seksama.

“Namun, itulah kuasa Allah, Yunda. Adindamu ini benar-benar tidak ingin memiliki sejarah kotor dalam mencapai mahligai rumah tangga. Lelaki itu ternyata tidak sabaran. Dia terus saja menghubungiku dengan gaya bahasa yang tak ubahnya seperti lelaki kebanyakan. Padahal, dulu-dulu aku menjauhinya sebab ia juga tak bisa menjaga hijab komunikasi. Awalnya ia memang berubah, namun muncul lagi dengan gaya yang seolah tak ada wujud perubahan itu, Ayunda.

Ketika itu aku sempat yakin bahwa dia berubah karena sudah setahun lebih dia bagai orang hilang dan sukses menjaga batasan komunikasi denganku. Maka, ketika ayah berkata usai wisuda sebaiknya aku menikah, saat itu pulalah ia muncul kembali memberanikan diri menghubungi keluargaku untuk melamar. Tentu niatan baiknya itu disambut baik oleh keluargaku, sebab ia lelaki baik, juga hafiz 30 juz. Awalnya, aku agak ragu karena pernah tak suka dengan caranya. Namun, karena dia telah membuktikan setahun lebih tidak menggangguku dengan niat hanya akan menghubungi lagi kalaulah tiba masa siap untuk melamar, maka aku memberinya kesempatan.

Ternyata, kau tahu apa yang kemudian terjadi, Yunda? Sebulan sebelum tanggal lamaran itu, dia malah parah menggodaku. Bukan terpesona, namun aku semakin muak dengan caranya. Entah bagaimana, langsung dengan cepat hasil istikharah lagi dan diskusi dengan guru ngaji, aku mantap membatalkan rencana lamaran itu. Aku menangis tersedu di telepon ketika menghubungi ayah dan ibu, aku bilang terus terang bahwa aku tidak siap menikah, sebab ada keraguan dengan sifatnya yang kebablasan melanggar hijab komunikasi.”

Ada kekecewaan berwujud kaca-kaca air mata di pelupuk matanya yang kemudian tumpah jua.

“Ikhlas ya, Sayang. Aku tidak bisa membantu apa-apa, selain turut mendoakan semoga adindaku yang salehah ini segera dipertemukan dengan yang jauh lebih baik daripada lelaki terdahulu. Kau tahu? Seringkali, kita terjebak pada label atau tampilan luar. Kita memandang ia adalah ikhwan aktivis dakwah, atau lulusan pesantren, atau hafiz Quran. Siapa sangka, perilakunya justru berbeda dengan simbol-simbol yang melekat pada dirinya, bisa saja. Kita memang sesama manusia, tidak berhak menghakimi iman dan takwa seseorang, karena itu semata urusan mereka dengan Yang Maha Kuasa. Namun, bukankah beratus tahun silam Baginda Rasulullah saw telah bersabda, bahwa mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya, bahwa simbol-simbol relijius yang melekat pada seorang hamba belum tentu menjamin kesalehannya? Lagipula, menikah bukan hanya urusan di dunia saja kan, Adinda?” ujarku.

“Iya, Yunda. Kini, aku tak peduli lagi dengan ucapan-ucapan sumbang di kanan-kiri. Ada yang mengatakan aku perempuan yang terlalu pemilih dan angkuh. Ada yang berlagak mengingatkan bahwa tiada manusia sempurna di dunia ini, begitu pun dia. Ada yang berkoar bahwa aku tidak bersyukur, di luar sana banyak perempuan yang masih lajang karena belum ada yang meminang, sedangkan aku malah menolak lelaki yang hendak meminang. Sakit memang. Ah, sungguh mereka tak tahu apa-apa, Yunda. Ini urusanku dengan Allah, hasil istikharahku yang terakhir mengatakan ‘tidak’.

Lantas, bagaimana denganmu, Ayunda? Tidakkah semua peristiwa yang lalu itu begitu perih untuk masih kau simpan di dalam ingatan?”

Aku menghela nafas. Sungguh, ingatan itu masih sering berkelindan di ruang benak, namun perih itu berangsur hilang berkat doa-doa penyembuh yang kupanjatkan.

“Sebagai perempuan yang telah menjejak di usia dewasa pula, ayundamu ini tidak mau sembarangan membuka pintu. Dulu-dulu itu, kau tahu, memang ada yang mendekat. Telah berteman cukup lama, dan ia dulu juga seorang aktivis di lembaga dakwah kampus yang sama. Namun, aku tidak menyangka ia seenaknya mendekat dengan cara yang tidak sopan, seolah melecehkan. Ayunda tidak ingin terjebak pada label atau simbol belaka, Dinda. Maka ketika seseorang yang baru itu datang setahun kemudian, ketika aku tahu ia memang masih berusaha belajar dalam hijrahnya—yang mungkin baru beberapa tahun belakangan, aku mempertimbangkan untuk menerimanya.

Awal-awalnya ia memang datang dengan cara yang baik. Pria yang hanif, begitu informasi yang kudapat tentangnya. Kami dijaga oleh sebuah proses yang memakai perantara. Ada hijab komunikasi yang menyekat di antara kami, selain terkendala jarak. Bagaimanapun, aku masih ingin menjaga batasan-batasan, karena belum tentu segala proses itu akan berujung pada hari akad, sangat mungkin untuk kandas begitu saja di tengah jalan. Kami tetaplah bukan siapa-siapa, meski niatan untuk melangkah ke tahap yang lebih serius itu telah menjadi kesepakatan bersama.”

“Sebab, proses menjadi baik itu memang sepanjang hayat, setiap orang berhak menjadi baik. Setiap orang memiliki jalan cinta yang tidak sama untuk mendekat kepada Rabb-nya, tidak bisa dipukul rata. Siapa tahu setelah bersamamu kelak ia memang benar-benar berubah menjadi semakin hanif. Jika ia memang bukan lelaki baik, tentu ia tidak akan mencari perempuan salehah sepertimu, Yunda. Ia akan mendekat dengan cara-cara tak baik dan mengajak pacaran seperti lelaki kebanyakan. Lantas, bagaimana kelanjutannya?”

“Setelah mempertimbangkan, kuyakinkan diri ini bahwa ialah orang yang tepat, usai ia mengatakan telah mantap dan mampu menerimaku ketika itu. Ia juga mengutarakan akan kesanggupan bersabar menunggu ayundamu yang masih belum selesai dengan urusan studi dan belum memiliki pekerjaan ini. Kutolak tawaran demi tawaran lain mengenai pinangan yang datang silih berganti, demi seorang yang tengah berproses denganku ketika itu. Lantas, ada benih harapan yang perlahan tumbuh. Ya, perempuan mana yang tidak memiliki harapan?

Adinda, doaku di tiap penghujung salat memang tak pernah sekalipun menyebut namanya, tak pernah meminta agar Allah melapangkan jalan kami hingga sampai hari perjanjian kuat itu dibuat. Namun, doaku adalah, jika memang ia tertakdir untukku, semoga Allah segera turun tangan, melancarkan segalanya dan menguatkan langkah-langkah kami. Namun, jika tidak, semoga Allah segera menunjukkan tanda-tanda-Nya, mohon dijauhkan dan digantikan dengan yang lebih baik menurut versi-Nya.

Benarlah, urusan semakin pelik dan rumit hingga rencana-rencana yang kami buat sebelumnya tertunda dan tertunda. Jarak semakin merentang jauh. Dan ternyata, ia memang tak mampu lebih bersabar lagi. Pun masih belum bisa meluruhkan ego dan emosi. Ah, jangan-jangan juga belum bisa membedakan antara bersegera dengan tergesa-tergesa. Bukankah tergesa-gesa itu muasalnya juga dari setan? Sedangkan setiap pencapaian tentu menghajatkan kesabaran soal waktu dan keadaan, aku menganggapnya sebagai sebentuk ujian yang memang harus dilalui. Namun, kalimat tanyanya yang kuterima kemudian nyaris membuatku tersedak: mau dilanjutkan atau tidak? Sementara aku memang tidak ingin menjilat ludah sendiri dengan mundur begitu saja tanpa alasan yang pasti.

Ia beralasan begini dan begitu mengapa kemudian jadi ragu terhadapku. Alasan yang menurutku hanya sekadar dibikin-bikin untuk berkelit saja demi menghentikan segala kerumitan ini. Yaa, semoga prasangkaku salah. Namun, seiring keraguannya, semakin muncul pula keraguanku. Tanya yang dulu hanya mendekam, belum menemukan jawaban yang terang, lantas hadir lagi: apakah dengan perilaku yang sekarang ia tunjukkan mengindikasikan bahwa ia memang seorang yang agamanya baik? Jika sekarang saja ia berani menatapku seperti itu, apakah menjamin ia mampu menjaga pandangannya dari  perempuan lain setelah menikah nanti? Jika sekarang saja ia bisa berucap seperti itu, apakah menjamin kelak ia mampu menjagaku untuk tetap berbakti kepada pintu surgaku yang sebelumnya? Ah, aku tak ingin main-main dalam memilih nakhoda, sebelum terlanjur berlayar di tengah samudra.

Usai keraguan demi keraguan, usai mengadukan semuanya kepada Yang Maha Kuasa, usai memohon supaya hati ini dilapangkan dan dikuatkan, meski sesak, kuputuskan untuk mengakhiri proses itu saja. Melanjutkan hidup masing-masing, menjalani takdir masing-masing. Bahwa mungkin Allah menghendaki masing-masing kami untuk lebih mempersiapkan diri untuk siapapun nanti, selain seonggok niat yang mungkin memang harus diluruskan dan diperbaiki. Bahwa cepat belum tentu bermakna tepat.

Tetap bersyukur dan berterima kasih atas apa yang telah terjadi, atas segenap pelajaran berharga yang telah diberikan. Bahwa usai episode bernama ujian, usai ikhlas yang harus senantiasa disemaikan, kita memiliki jiwa yang lebih lapang dalam menapaki kehidupan, juga hati yang lebih kuat dan tabah menerima setiap ketentuan. Berkali-kali jatuh bukan untuk melemahkan, namun menguatkan.

Ya, kita hanya sedang belajar, Adinda. Belajar memunguti bermacam-macam hikmah yang tersembunyi di tiap potongan kejadian.

Cinta itu menjaga, tergesa-gesa itu nafsu belaka. Sedangkan cinta dan kehormatanmu sebagai seorang perempuan terlalu mulia untuk dinodai dengan ketergesaan dalam melangkah, meski langkah-langkah lelah itu pun tak lain adalah demi pemenuhan ibadah kepada Sang Khalik. Tidakkah setan turut menjadi penyeling, jika kau memperturutkan ketergesaan?

Cinta adalah menjaga apa yang memang seharusnya dijaga, termasuk menjaga nyala ruh niat itu lurus kepada-Nya. Cinta adalah menjaga kesabaran, sebab di dalamnya ada kebaikan-kebaikan, ada pertolongan tuhan yang mungkin tak akan pernah engkau sangka-sangka. Allah bersama siapa saja yang sabar, bukankah juga tak ada jalan pintas dan gampang menuju surga-Nya?

Cinta adalah menjaga, pun merawat apa atau siapa yang dicinta dengan kesungguhan. Ibarat mawar, menyiraminya dengan ketulusan saban hari. Memberinya kehangatan cahaya namun juga memberikan keteduhan. Memetik tangkai bunganya yang telah mekar mewangi dengan hati-hati. Bahwa sang mawar memang terlampau berharga untuk dicerabut paksa, sebab hanya akan melukai tangan pemetiknya.
Baik kau maupun dia sama-sama tidak ada yang ingin terluka, bukan?

Jika kau ingin dipertemukan dengan yang mampu menjagamu, jagalah apapun yang memang sepatutnya dijaga, meski itu bukan perkara yang mudah dan sederhana.”

Ia tersenyum tipis. Membenarkan lipatan kerudungnya, mengusap sisa-sisa linang yang mengaburkan rona pipi merah jambunya. Air mata haru, lebih baik kusebut demikian.

“Kita adalah mawar-mawar mekar yang tengah menunggu tangan terbaik untuk memetik dengan cara terbaik. Tentunya, bukan sembarang tangan.”

Aku tersenyum, mengiyakan.  

Senin, 24 Agustus 2015

Catatan untuk Sang Mawar #2






When you are standing in front of the mirror
Look at your face, your hair and your body
Think that you are ugly and feel like terror
Contemplate that you have made from an error
Your self reflection makes you feel giddy
When you are standing in front of the mirror
(Ugly-Novita T. L.)

Nukilan villanelle (salah satu jenis puisi Inggris) gubahan salah satu teman saya bertitel Ugly (Jelek) tersebut lantas mengingatkan saya akan beberapa iklan yang menjamur bak cendawan di negeri ini. Mulai dari alat peninggi badan, pelangsing tubuh, produk perawatan dan pemutih kulit yang segambreng-gambreng banyaknya, hingga perawatan rambut. Berbagai macam salon dan rumah cantik dengan pelbagai fasilitas yang ditawarkannya juga sudah tak terhitung jumlahnya, seakan-akan kata “cantik” adalah kebutuhan primer bagi semua kaum wanita. Kadang, tanpa disadari, citra “cantik” yang dibangun oleh iklan dan salon di negeri ini tak lepas dari: tinggi, putih, langsing. Sedangkan jelek adalah: pendek, hitam, gemuk. Setidaknya, begitulah bayangan diri yang muncul ketika si tokoh dalam puisi tersebut menghadap cermin, hingga ia merasa terteror oleh bayangannya sendiri, dia berpikir betapa buruk wajahnya, lantas merasa putus asa.

Merawat diri demi kecantikan tentu bukanlah sesuatu yang dilarang, sepanjang itu baik bagi perempuan itu sendiri dan tidak berbahaya bagi dirinya. Penampilan yang bersih dan cantik tentu akan menumbuhkan rasa percaya diri. Di samping itu, merawat diri merupakan salah satu bentuk syukur kita terhadap karunia-Nya. Namun, tak sedikit pula kini, anugerah Allah berupa paras yang rupawan menjadikan banyak perempuan bak reinkarnasi Narcissus masa kini. Bedanya, Narcissus dalam kisah itu seorang lelaki. Konon, setiap hari ia berlutut di tepian telaga untuk berkaca, mengagumi bayangannya yang terpantul di permukaan. Dia memang tampan. Garis dan lekuk parasnya terpahat sempurna. Maka, di tepi telaga itu Narcissus selalu terpana dan terpesona. Wajah dalam air itu mengalihkan dunianya. Dia lupa pada segala hajat hidupnya. Kian hari tubuhnya melemah, hingga suatu hari dia jatuh dan tenggelam.[1]

“Setiap kita memiliki kecenderungan untuk menjadi Narcissus. Atau telaganya,” ujar Ustaz Salim A. Fillah. “Kita mencintai diri ini, menjadikannya pusat bagi segala yang kita perbuat dan semua yang ingin kita dapat. Kita berpayah-payah agar ketika manusia menyebut nama kita yang mereka rasakan adalah ketakjuban pada manusia paling memesona. Kita mengerahkan segala daya agar tiap orang yang bertemu kita merasa telah berjumpa dengan manusia paling sempurna.”

Baik perempuan dalam nukilan puisi di atas maupun Narcissus merupakan contoh manusia yang cenderung mendefinisikan cantik atau tampan sebagai rupa secara fisik, yang terlihat nyata dan bisa dijamah oleh indera penglihatan manusia. Maka, begitu pulalah definisi cantik yang hingar-bingar di masa sekarang. Tak heran, ia pun menjadi obyek komoditas yang diperjual-belikan, bahkan bermetamorfosis menjadi berhala yang tak kasat mata.

Paras yang menawan. Kita mengerahkan segala daya agar agar tiap orang yang bertemu kita merasa telah berjumpa dengan manusia paling sempurna. Manusia jelita bak bidadari yang diutus ke bumi. Bukankah kini tak perlu bersusah payah menjadi terkenal di televisi demi mendapatkan pujian serta pengakuan dari penduduk bumi? Sejuta sarana dunia modern tak ubahnya telaga tempat Narcissus berkaca setiap hari, atau cermin ajaib milik ibu tiri Putri Salju. Di sanalah letak orang-orang zaman ini memajang wajahnya yang indah sempurna. Dari balik layar, orang lain yang menjadi pemirsanya menyampaikan kekaguman mereka melalui tombol berjudul “suka”. Paras menawan perempuan. Aduhai, siapa lelaki yang tidak tertawan kemudian? Pujian datang bertubi-tubi, seraya nama-Nya tak lupa disebut; “Masya Allah… cantik sekali ukhti ini.” Batin yang melihat berseloroh, tak ada yang salah mengagumi ciptaan Allah. Maka, diteruskannya kekagumannya yang sembarangan dengan memantau foto-foto sang perempuan menawan dari hari ke hari. Lantas pujian yang mengalir itu, bagai ramuan yang menerbangkan sang perempuan ke awang-awang. Membuatnya alpa akan satu hal yang luput digerus bangga pada diri sendiri.

“Tahu nggak Dik, cuma lihat tangan kita aja, kadang-kadang cowok tuh bisa terpesona,” ucapnya suatu kali, bertahun-tahun silam. Saya paham, itulah alasannya para muslimah itu memakai manset lengan, meski agak ribet, supaya pergelangan tangannya tertutup rapi. Satu kebiasaan kecil yang ketika itu mulai saya terapkan.

“Duh-duh, mbak-mbak cantik nan salehah, istikamah itu memang nggak gampang ya.” Saya temukan komentar beraroma sindiran itu di foto yang saya unggah ke media sosial beberapa menit sebelumnya. Foto kami—para perempuan (yang notabene berkerudung panjang) usai berkegiatan. Beliau memang agak strict dengan perkara yang saya anggap sepele itu. Baginya, menampilkan banyak foto diri di dunia maya bukanlah hobi yang pantas dilakukan oleh seorang muslimah.

“Bagaimana jika banyak ikhwan melihat fotomu, lantas mereka jadi merasa gimanaaa gitu? Kamu muslimah yang sudah seharusnya paham menjaga diri, bukan hanya sebatas menutup aurat secara syar’i. Setiap kali rapat, bukankah kalian sudah belajar menjaga dengan memakai hijab pembatas demi menjaga pandangan? Mengapa di jagad maya justru tak sungkan kau perlihatkan paras jelitamu yang bisa bebas mereka pandangi setiap waktu? Kau tidak takut jika timbul sesuatu?” Hati nurani saya berontak suatu hari. Timbul sesuatu?

“Setahuku, nggak ada cowok normal yang nggak pernah terkontaminasi hal-hal berbau porno. Paling nggak, nonton yang seperti itu. Sealim apapun, ikhwan sekalipun. Menurut pengamatanku sih. Jadi, zaman sekarang ini susah sekali menahan pandangan. Banyak godaan di sepanjang jalan,” kali ini pengakuan langsung dari salah satu teman laki-laki. Saya jadi mengerti, betapa tak mudahnya bagi mereka meredam gejolak, terlebih bagi yang belum menikah. Wallahua’lam. Benar atau tidaknya hanya Allah yang Maha Tahu. Namun, tak ada salahnya itu menjadi sebuah sentilan bagi kita—kaum perempuan untuk lebih berhati-hati dan menjaga, tak terkecuali dalam perkara yang nampaknya remeh-temeh.

Bukan salah mata lelaki yang memandang, sebab kitalah—perempuan yang menyajikan, kitalah yang memasang umpan. Sementara kita tidak pernah tahu bagaimana alam pikiran dan imajinasi mereka bekerja. Ah, tentu saja kita tidak sampai hati membayangkan yang bukan-bukan, terlalu mengerikan. Selanjutnya, jika sampai terjadi zina mata, hati dan pikiran, mereka jugakah yang patut dipersalahkan? Oh, jangan-jangan semua dosa mereka bermuara kepada kita? Kalikan saja jumlah orang yang memandang dengan dosa mereka, dan itu semua ditimpakan kepada kita—sang penebar umpan. Tak terhitung. Sementara amalan baik yang kita punya sama sekali belum cukup menjadi penolong untuk meraih surga-Nya.

Maka, cukuplah keindahan yang kita punya tidak dijadikan obyek pemuas mata mereka yang bukan siapa-siapa. Apalah artinya penilaian dan pujian manusia tentang tampilan muka, sementara Baginda Rasulullah saw bersabda jika wanita dunia lebih utama dari bidadari-bidadari bermata jeli karena salat, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Ah, hadis ini mungkin sudah sangat akrab sekali di telinga kita.

Al-Imam Ath-Thabrani meriwayatkan sebuah hadis dari Ummu Salamah ra, bahwa beliau berkata: Aku bertanya, “Ya Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukan bidadari bermata jeli?”
Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari seperti kelebihan apa yang Nampak dari apa yang tidak terlihat.”
Aku bertanya, “Mengapa wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari?”
Beliau menjawab, “Karena salat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati. Kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali. Kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali. Kami rida dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.”

Sekali lagi, jika perempuan diibaratkan sebagai mawar, maka ia yang terjaga bak mawar di tepi jurang nan curam, bukan mawar di tengah-tengah taman nan jamak dan pasaran. Ia menjaga dirinya dengan penuh kehati-hatian hingga ada tangan pemberani yang kelak bersedia menempuh bahaya demi memetiknya: yang bersamanya nanti ia temukan cinta yang sesungguhnya, yang dengan memandang kecantikannya menjadi lading pahala, bukan fitnah penuh dosa.

Sekali lagi, jika perempuan diibaratkan layaknya mutiara, maka ia yang terjaga tersimpan dalam cangkang kerang di dasar lautan, hingga ada penyelam tangguh yang mengambilnya.

Selanjutnya, adalah pilihan masing-masing kita untuk menjadi yang mana.

“Di dalam surga itu terdapat bidadari yang sopan menundukkan pandangannya. Tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka. Tidak pula oleh jin.” (Ar-Rahmaan 56)

“Laksana mutiara yang tersimpan dengan baik.” (Al-Waqiah 23)

“Seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan baik.” (Ash-Shaffat 49)











Judul awal tulisan ini adalah “Beautiful, Am I?”, kemudian diubah setelah ditimbang-timbang lagi. Telah direncanakan untuk ditulis sejak bertahun-tahun yang lalu, namun gairah menyelesaikannya baru muncul beberapa pekan yang lalu.
#Catatanuntukdiri
Semoga selalu terlantun istighfar

Referensi:

A.Fillah, Salim. Agar Bidadari Cemburu Padamu. 2010. Yogyakarta: Pro-U Media.
------------------. Dalam Dekapan Ukhuwah. 2010. Yogyakarta: Pro-U Media.



[1] Seperti yang dikisahkan Ustaz Salim A. Fillah dalam bukunya: Dalam Dekapan Ukhuwah (Pro-U Media, 2010)

Selasa, 17 Maret 2015

Catatan untuk Sang Mawar





Hari itu ada salah satu akhwat—anggota grup ODOJ kami yang mengirimkan sebuah voice note. Isinya tausyiah, bukan suara random karena salah pencet seperti yang biasa terjadi di grup Whatsapp. Tidak ada keterangan, siapa ustaz yang berbicara di voice note itu—seolah itu rekaman siarannya di radio yang sudah mengalami beberapa kali potong, dan hanya menyisakan konten tausyiahnya. Kisah yang ia bawakan konon luar biasa, ia telah menuliskannya secara berulang di dua buku karyanya. Maka, mulailah ia bercerita.

“Saya jadi ingat kejadian waktu tahun 1998. Waktu itu saya sedang mengisi sebuah training motivasi di kota Bogor, pesertanya waktu itu adalah anak-anak SMA kelas satu dan kelas dua, sampai kemudian saya kasih mereka selembar kertas ukuran A4, dan saya meminta mereka menggambar sebuah gambar—yang gambar itu bisa menjelaskan tentang siapa mereka, apapun yang mereka maksud tentang dirinya. Kalau ada yang mengertinya cita-cita, gambarlah cita-cita, kalau ada yang mengertinya keadaan diri dan keluarganya sekarang, gambarkan itu. Semua menggambar. Karena pesertanya anak-anak SMA, nggak ada yang serius gambarnya, semua bercanda, ada yang gambar inilah-itulah.

Sampai kemudian, ada seorang perempuan namanya Ummu, waktu itu ia masih kelas satu SMA. Dia menggambar sesuatu yang berbeda, dia menggambar mawar, ada duri-durinya, kemudian di belakangnya ada background warnanya gelap, hitam. Kemudian saya tanya, “Kamu menggambar apa?” Dia bilang, “Saya menggambar mawar berduri.” Saya tanya lagi, “Apa maksudnya?” Dia bilang, “Mawar itu sempurna karena ada durinya. Mawar itu sempurna justru karena punya duri. Namun, banyak orang bilang, duri pada mawar itu mengganggu keindahan mawar, merusak keindahan mawar, mengganggu mawar. Padahal justru duri itulah yang membuat mawar dikatakan mawar. Duri itulah yang membuat mawar dikatakan sempurna. Kemudian saya tanya, “Lantas apa hubungannya dengan kamu?” Lalu dia bilang, “Saya gambarkan diri saya, perempuan, seperti mawar, dan duri itu adalah aturan Tuhan bagi setiap perempuan, aturan Tuhan bagi setiap wanita. Seperti duri pada mawar, banyak orang bilang, aturan Allah bagi setiap perempuan itu merusak keindahan perempuan, membuat perempuan susah gaul, susah kerja, susah beraktivitas. Padahal seperti duri pada mawar, aturan itu juga yang membuat wanita dikatakan wanita. Maka dia katakan, saya mawar berduri, saya wanita dengan apa yang Tuhan mau untuk saya akan saya lakukan, dengan apa yang Tuhan mau untuk saya kenakan akan saya kenakan, apa yang Tuhan mau untuk saya rasakan akan saya rasakan, apa yang Tuhan  mau untuk saya katakan akan saya katakan. Maka saya mawar berduri, saya perempuan dengan apa yang Tuhan mau, Tuhan mau, Tuhan mau ada pada diri saya.”

Waktu itu seluruh suasana di ruangan itu, 200 orang mungkin pesertanya, terdiam, karena ternyata ada satu orang yang serius di antara puluhan orang yang sudah maju sebelumnya, dan tidak ada yang serius. Kemudian saya tanya lagi, “Lalu, kenapa di belakangnya dikasih warna gelap, hitam? Kan bisa pilih warna hijau, kuning, biru, merah, atau yang lainnya. Kenapa dikasih warna gelap?”
Lalu dia bilang begini, “Saya tidak mau jadi mawar berduri di tengah taman. Kalau saya jadi mawar berduri di tengah taman, gampang bagi orang untuk memetik saya, mudah untuk memetik saya. Hanya ada denda 50.000 atau 2 bulan kurungan, lalu orang memetik saya dengan sangat mudah. Saya tidak mau seperti itu. Saya ingin jadi mawar berduri di tepi jurang, makanya saya beri warna gelap di belakangnya.

“Maksudnya apa?” Dia bilang, “Saya ingin jadi mawar berduri di tepi jurang. Karena suatu saat nanti, saya yakin, kalau kelak ada laki-laki yang akan memetik saya, dia pasti laki-laki yang paling berani mengorbankan nyawanya untuk saya. Resikonya besar di tepi jurang, nyawa, bukan denda, bukan sekadar kurungan beberapa bulan.”

Luar biasa. Waktu itu semua tepuk tangan. Terkagum-kagum dengan pemikiran anak kelas satu SMA ini. Lalu, beberapa tahun kemudian, saya dengar informasi, anak ini biasa saja. Dia bukan dari keluarga kaya, dia orangnya sederhana, bahkan dia punya penyakit jantung. Dibilang cantik juga tidak cantik-cantik amat seperti bintang sinetron. Biasa saja. Penampilan, semua biasa saja. Keluarga biasa, ekonomi biasa. Tapi beberapa tahun kemudian, ia lulus diterima PMDK kuliah di Fakultas Kedokteran UI. Sekarang dia sudah berkeluarga, sudah punya anak, sudah berhasil menjadi dokter spesialis di Depok.

Dia menjadi indah, karena dia tidak pernah memburukkan gambarnya. Kalau orang bertanya tentang siapa dia, dia jawab yang indah karena ia yakin Allah akan bantu mengindahkan masa depannya. Kalau orang bertanya tentang cita-citanya, maka ia akan katakan yang terbaik, karena ia yakin apapun keadaannya hari ini, Allah akan bantu mengindahkan cita-citanya di masa depan. Seseorang menjadi besar, karena ia tidak pernah merasa kecil. Karena ia memiliki Allah yang Maha, Maha segala, lantas mengapa kita harus merasa kecil?

Allahu Rabbi... Analogi itu sudah sering saya dengar. Namun, entah kenapa, mendengar cerita itu, naluri keperempuanan saya terusik, kemudian ada bulir bening yang tiba-tiba jatuh. Ada luapan keterharuan yang mendadak muncul. Ada pula sedih yang tiba-tiba mengusik. Betapa diri ini belum pernah berani untuk bertekad menjadi ‘istimewa’ seperti dirinya, namun selalu mengandaikan diri menjadi salah satu wanita yang dirindu surga-Nya sekaligus bidadari dunia. Tak pernah menyadari jika itu semua seolah masih jauh panggang dari api. Saya teringat forum “lingkaran cinta” kami beberapa tahun yang lalu, ada permainan mirip seperti yang dikisahkan di atas. Kami semua menggambar. Saya justru menggambar sekumpulan bunga sakura. Saya bilang, mungkin seperti itu pulalah saya, yang cantik namun rapuh dan mudah luruh. Terlebih ketika musim semi telah memasuki masa penghujungnya. Ia gugur tertiup angin dan meninggalkan dahan-dahan meranggas. Ia simbol sebuah kefanaan, namun kemunculannya yang hanya setahun sekali sangat dinanti di seluruh penjuru negeri. Sakura istimewa, namun ia jamak, pasaran. Ia tumbuh, menguncup, dan mekar di tengah-tengah taman, bukan di tepi jurang.  

Lantas, saya teringat coretan puisi yang saya tulis bertahun-tahun silam demi mengisi kolom buletin muslimah di rohis kampus:

Jika harus kupakai benda-benda di semesta ini untuk menggambarkanmu, entah apa lagi—seperti kehabisan kata, sementara tinta begitu ingin menuliskannya.
Seumpama mawar merah yang siap merekah, indah. Menguarkan semerbak cintamu ke segala penjuru.
Seperti mutiara dalam cangkang kerang di dasar lautan, berkilau, dan tak sembarang orang bisa mendapatkanmu.
Bak melati putih nan suci, tatkala resapan embun pagi di pucuk kelopakmu belum beranjak pergi.
Atau, jika kau menyeberang ke negeri bermusim semi, akan kau dapati kuntum-kuntum merah muda yang mekar bersama. Seperti dirimu jua, “mekar” bersama mewarnai dunia.
Aih, kau juga seperti siluet senja di horison barat ketika sang surya bersiap tenggelam ke peraduan, menyemburatkan jingga-keemasan ke langit dan mega-mega dengan indahnya.
Laiknya kupu-kupu yang bermetamorfosa. Menjadi lebih indah dari hari ke hari.
Bagaikan sinar lembut mentari yang beradu dengan rinai gerimis yang riang, mencipta pelangi dengan spektrum berwarna-warni.
Cantik rupawan yang tak terkatakan.
Sebab kau tunduk dalam syariat-Nya, ridho atas takdir-Nya, tersenyum dalam musibah, tegar dalam ujian, teguh dalam pendirian.
Itulah engkau.
Muslimah sejati yang dicemburui para bidadari surgawi.

Adalah sebuah kenaifan, menginginkan menjadi satu di antara sekian banyak yang ‘istimewa’, namun masih bersuka-cita menjadi yang ‘biasa-biasa’ saja. Analoginya bukan lagi mawar di tepi jurang dan curam, namun mawar di antara banyak mawar di taman kota. Bagaimanalah membuat bidadari cemburu? Ingin menjadi yang istimewa, namun sifat naif membawa kita untuk tidak mau susah-payah menjaga. Lihatlah, berapa banyak orang yang menikmati cantiknya parasmu di jejaring sosial dan dunia maya? Berkacalah, betapa interaksimu dengan bukan mahram telah mengaburkan nuranimu dan perlahan menggoda hatimu menyemai bibit-bibit rindu yang seharusnya tak perlu. Bukankah mutiara tak akan pernah terlihat kilaunya, kecuali jika ada manusia pemberani yang mengambilnya dari cangkang kerang di dasar lautan. Nilainya menjadi sangat mahal karena ia ‘terjaga’. Seperti itu memang seharusnya, ‘menjaga’ hanya untuk yang berhak menerima mahalmu, sebaik-baik perhiasan dunia.

Ah, ‘menjaga’ memang bukan pekerjaan sederhana. Karena itulah hadiahnya surga.

“Sesungguhnya, dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita salehah.” –HR. Muslim