Tampilkan postingan dengan label muslimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label muslimah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 April 2018

Parameter Sekufu #2





“Untuk mampu diajak berjalan bersama, sepasang sandal memang haruslah berbeda. Namun, tidak mungkin pula untuk memasangkan sandal jepit dengan sepatu berhak tinggi, bukan?”

“Kalau kalian berjodoh, itu artinya kalian sekufu,” lontar seseorang melalui sebuah pesan WhatsApp, suatu hari, sekitar 2 tahun yang lalu. Kalimat itu terngiang-ngiang di kepala saya berhari-hari lamanya. Ketika itu, rasanya saya sudah tidak ingin ambil pusing dengan yang namanya sekufu, selevel, setara, atau apalah sebutannya itu ketika memutuskan membuka pintu untuk seseorang. Siapalah saya, hamba biasa yang tak tahu apa-apa perkara yang terbaik untuk diri saya sendiri di masa depan. Itu sepenuhnya hak prerogatif Sang Maha Pengatur Semesta. Lagipula, apakah sebenarnya parameter yang hakiki dari ‘sekufu’ itu sendiri? Telah bertahun-tahun berlalu semenjak saya menulis ini, telah berlalu pula fase single menjadi sold-out, namun entah kenapa rasanya ingin menulis tentang ini lagi.

Baiklah, mentang-mentang kami sudah menikah, jadi, apakah saya dan suami benar-benar sekufu? Jika berdasarkan lontaran teman di atas, tentu saja jawabannya “iya”. Tetapi, jujur, ketika taaruf dengan si Abi dulu, saya sudah nggak mikir sekufu-sekufuan lagi. Yang penting kami berkomunikasi untuk saling mengenal satu sama lain, dan nyambung, merasa cocok, ya sudah, lanjut! 

Cocok? Eh, kata satu ini juga sempat bikin saya mikir lumayan lama. Sebenarnya kaidah cocok itu apa dan bagaimana? Lha gimana, orang-orang yang sedang galau mencari belahan jiwa selalu mengandalkan kata satu ini, tapi sering enggak menyadari kalau... first thing first, enggak ada dua insan yang benar-benar cocok satu sama lain di muka bumi ini (kalau maunya gitu mah nikah aja sama diri sendiri, berkembang biak dengan cara membelah diri. *eh). Kedua, banyak juga pasangan yang sudah lama menikah malah memutuskan bercerai dengan alasan yang... ehm... “Kita udah nggak cocok lagi!” Nah lhoooo. Ketiga, sesungguhnya seringkali kita juga nggak bener-bener paham, cocok itu apa dan bagaimana (tapi pengennya teh jodoh yang cucok meong sama ngana. Bingung kan?).

Apakah kalau saya hobi baca buku dan dia sukanya naik gunung itu artinya nggak cocok? Apakah ketika kami satu jurusan dan satu pekerjaan itu cocok? Apakah kalau dia koleris yang hobi marah-marah dan saya plegmatis yang gampang nangis itu nggak cocok sama sekali?

Keempat, men are from Mars, women are from Venus. Mengertilah bahwa sampai kapan pun, laki-laki dan perempuan berbeda di banyak hal yang sesungguhnya butuh effort untuk menyatukannya. Perkara cocok dan tidak cocok sejatinya adalah persoalan seberapa lapang ruang penerimaan dalam hati kita sendiri, juga seberapa luas kadar penerimaan seseorang itu tentang kita. Sebab, kita menikah, hidup bersama dalam kurun waktu yang lama dengan manusia biasa yang tentu tidak luput dari keburukan-keburukan yang mungkin kita akan susah menerimanya.

Well, duluuuu sekali, saya punya list kriteria calon lelaki yang ideal menurut saya (tapi ujungnya mostly nggak pernah saya tulis di biodata taaruf. Haduuh, maaf ya, Pak Suami :p). Pertama, agamanya harus baik—paling tidak, lebih baik dari sayalah ya (ini udah pasti). Kedua, harus GANTEEEENG! (parameter ganteng saya ituh; putih, minimal kuning langsat, tinggi dan berat proporsional, good-looking menurut banyak orang, gak sipit-sipit amat matanya, dan berkacamata kayak itu tuh... Kanata Hongo pas berperan jadi Izumi #eaa). Ketiga, dia punya hobi yang sama dengan saya, yakni menulis dan baca buku—wabilkhusus buku-buku fiksi dan sastra. Impian absurd saya waktu itu, saya ingin bisa menulis buku berdua dengan suami. Ngomong-ngomong soal impian nulis buku bareng, sudah bisa ditebak, saya mendambakan lelaki yang bisa ROMANTIS. Romantis ini maksudnya, dia juga lihai berkata-kata puitis macam Fahd Pahdepie atau Pak Sapardi. Dia juga bisa main gitar atau sedikit-sedikit menyanyi, soalnya saya suka orang yang punya jiwa seni (wah, kok impian gue dulu ala sinetron atau drama remaja banget gini ya. Haha. Embuhlah). 

Berikutnya, saya ingin nikah sama orang yang sudah saya kenal jauh-jauh hari sebelumnya, bukan dadakan sebulan-dua bulan sebelumnya lalu dia ngajak married. Saya sudah jatuh hati dengannya sebelumnya, kemudian kami menikah (and we live happily ever-after. *langsung inget film Shrek -.-)
Terakhir, karena saya berkarakter plegmatis-melankolis, saya berharap semoga pasangan saya adalah orang sanguinis atau koleris, biar setidaknya bisa mengimbangi saya.

Sekarang, mari kita cocokkan dengan kenyataan yang ada.

“Li, dia ganteng nggaaak?” tanya seorang teman, H minus entah berapa hari menuju hari pernikahan. “Siapaaah?” tanya saya balik, sok bego. “Calon elu.” Saya cengo. “Kok pertanyaanmu gitu sih?” Jawab dia, “Kan kamu biasanya suka sama yang ganteng.” Etdah. *tepok jidat. Dan sebagai sahabat baik, dia tahu parameter ganteng absurd saya seperti apa. Saya harus jawab gimana? Hahaha. Sejak taaruf pertama kali, saya sudah tidak mempersoalkan ganteng-tidaknya secara fisik. Terpenting, agamanya baik, saleh. Gantengnya akan ngikut sendiri, itu sudah cukup. Ini juga tergantung mata hati masing-masing bagaimana menilai orang lain sih. Tapi kemudian, parameter ganteng saya berubah, paling tidak, mukanya harus ada hawa-hawa masjidnya. Adem alias menyejukkan jika dipandang (iyalah, qurrata a’yun kan tidak harus tinggi, putih, berkacamata). Lagi-lagi, perkara ini cuma hati yang bisa menilai.

Lalu, romantis? Hmm, suami saya tidak hobi menulis seperti saya. Bahkan, jurusan kami berseberangan—baik secara jarak maupun disiplin ilmu. Saya dibesarkan di lingkungan ilmu sosial humaniora, dia anak ilmu teknika. Fakultas Ilmu Budaya dan Fakultas Teknik di UGM itu jauh-jauhan, bro. Sudah jauh, tak pernah bertemu di organisasi atau kegiatan yang sama pula. Secara pola pikir mungkin kami akan jomplang dan banyak tak sejalannya. Saya pernah bilang ke diri sendiri kalau saya nggak mau berjodoh sama anak teknik (akibat trauma, pasalnya dulu pernah nemu orang teknik yang kaku dan ampun dah, gak nyambung banget). Namun, perkara jodoh, Allah-lah yang berkuasa. Kun fayakuun, jodoh saya anak teknik. Maka, hati-hati dengan ucapan anda sendiri ya. ^^v

Jangan bayangkan di bawah sinar rembulan dia akan berpuisi, apalagi sok-sokan bersenandung “Zaujati, Antii habiibati anti...” atau Sakinah Bersamamu ala-ala Romantic Duo Kang Suby dan Teh Ina, saya pernah ketawa-ketiwi baca biodata yang dia tulis karena penuh typo. Mak, impianku kandas. L Apatah lagi berani merayu dengan gombalan semacam, “Duhai bidadariku, Ainul Mardhiyahku...” Nggak pernah. Kalau benar terjadi mungkin malah saya akan bergidik lantas membatin, “Kenapa Abi jadi mendadak dangdut gini?”

Kesimpulannya, suami saya tidak romantis. Ia tidak bisa romantis seperti standar saya sebelumnya. Namun, romantisnya ditunjukkannya dengan cara yang berbeda, bukan dengan kata, namun perbuatan. Love is not an adjective, it is a verb. Ye kan?

Kemudian, saya sudah kenal sama dia jauh-jauh hari? Big NO. Perkenalan kami tak lama. Ibarat bulan ini kenalan, kemudian bulan depan lamaran. Saya sudah suka sama dia sebelum-sebelumnya? Enggak juga. Semuanya serba “gercep” (gerak cepat), kalau nggak mau dibilang (digoreng) dadakan (yaelah, tahu bulet dong, Sist).

Pasangan saya sanguinis-koleris? Ini juga salah besar. Ia sebelas-dua belas seperti saya, plegmatis-melankolis. Salah satu dari beberapa persamaan absurd yang saya temukan, selain IPK yang podho plek dan weton (hari lahir menurut penanggalan Jawa yang biasanya digunakan para tetua untuk mencari hari pernikahan kedua mempelai) yang sama persis. -_-

Kesimpulannya lagi, saya tidak benar-benar tahu apa yang terbaik bagi diri saya sendiri. Menurut saya dulu, laki-laki yang tepat bagi saya adalah yang begini-begitu. Namun tidak demikian di mata Allah. Menurut saya dulu, lelaki yang cocok bagi saya adalah A, B, C, D. Namun Allah menggariskan alfabet yang lain. Jadi, saya juga tidak benar-benar mengetahui secara pasti, yang sekufu dengan saya adalah lelaki seperti apa. Maka, ketika istikharah itu berjawaban “ya”, saya yakin ia memang tepat untuk saya, Allah mengatakan bahwa ia adalah yang sekufu dengan saya.

Suatu hari, saya mendapat pesan yang sangat menarik, ditulis oleh Ustaz Fariz Khairul Alam, Pesan itu bertajuk “Mungkin Saja Ia Memang Saleh, Tapi Belum Tentu Kami Cocok.” Lagi-lagi, hadis di bawah inilah yang menjadi dasar pembahasan.

“Jika datang padamu lelaki yang kau ridai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Jika tak kau lakukan, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang panjang.” (HR Turmudzi dan Ibnu Majah)
Perhatikan, Nabi saw tidak mengatakan, “Jika datang padamu lelaki beragama dan akhlaknya baik,” namun Nabi saw mengatakan, “Jika datang padamu lelaki yang kau ridai agama dan perangainya.” Apa bedanya? Pernyataan pertama—dan itu tidak diucapkan oleh Nabi saw—bermakna, orang tua harus menikahkan anaknya dengan lelaki saleh, dan bahwa lelaki saleh itu pasti akan menjadi suami saleh.
Namun, pernyataan kedua—yang diucapkan Nabi saw—memberikan pengertian pada kita bahwa orang tua dalam memilih calon menantu, syaratnya harus rida terhadap agama dan perangainya, karena memang tidak semua lelaki saleh, kau setujui cara beragama dan perangainya. Jadi, ada unsur penilaian manusia di sini. Sedang penilaian manusia itu hanya terbatas pada sesuatu yang lahiriah atau tampak.
Kisah Fathimah binti Qays menjelaskan hal ini. Alkisah, Fathimah binti Qays dilamar oleh dua orang lelaki. Tak tanggung-tanggung, yang melamarnya adalah dua pembesar sahabat, yakni Mu’awiyah dan Abu al-Jahm. Namun, setelah dikonsultasikan ke Rasulullah saw, apa yang terjadi? Rasulullah saw menjelaskan bahwa kedua lelaki tersebut tidak cocok menjadi suami Fathimah binti Qays.
Apa yang kurang dari Mu’awiyah dan Abu al-Jahm? Padahal keduanya adalah lelaki saleh yang memiliki keyakinan agama yang baik. Namun, Rasulullah saw tidak menjodohkan Fathimah dengan salah satu dari keduanya, karena Nabi saw mengetahui karakter Fathimah, juga karakter Mu’awiyah dan Abu al-Jahm.
Lebih lanjut, Nabi saw menawarkan agar Fathimah menikah dengan Usamah bin Zaid, seorang sahabat yang sebelumnya tidak masuk “nominasi” Fathimah. Setelah Fathimah menikah dengan pilihan Nabi saw itu, apa yang dikatakannya kemudian?
Fathimah mengatakan, “Allah melimpahkan kebaikan yang banyak pada pernikahan ini dan aku dapat mengambil manfaat yang baik darinya.”
Jadi, kepala rumah tangga yang ideal bagi Anda dan seluruh wanita muslimah adalah: pertama, lelaki saleh. Kedua, memiliki perangai yang sesuai dengan karakter Anda, dan ini nisbi atau relatif, yang tidak mungkin bisa dijawab kecuali oleh Anda sendiri.
Kesalehan seorang lelaki memang menjadi syarat bagi wanita yang ingin menikah. Namun, itu saja tak cukup. Perlu dilihat kemudian munasabah (kesesuaian gaya hidup, meski tak harus sama), musyakalah (kesesuaian kesenangan, meski tak harus sama), muwafaqah (kesesuaian tabiat dan kebiasaan).
Sekali lagi, aspek kedua sifat ini sifatnya relatif, tidak bisa dijawab kecuali oleh wanita yang akan menikah dan keluarganya. Oleh karena itu, kalau ada yang datang melamar, tanyakanlah karakter dan perangainya pada orang-orang yang mengetahuinya, baik dari kalangan keluarga atau teman-temannya.
Terakhir, bagi yang belum menikah dan sedang mencari jodoh, agama mensyariatkan adanya musyawarah dan istikharah. Lakukanlah keduanya. Sementara bagi yang sudah menikah, terimalah keberadaan suami Anda apa adanya, karena menikah itu ‘satu paket’; paket kelebihan dan paket kekurangan dari pasangan. Tinggal bagaimana Anda menyikapi kelebihan dan kekurangan itu. Orang bijak menyikapi kelebihan dengan syukur, menyikapi kekurangan dengan sabar. Orang bijak itu “pandai mengubah kotoran yang tidak bermanfaat menjadi pupuk yang bermanfaat.”
Sesuatu yang baik dari suami, ajaklah dia untuk makin meningkatkannya. Sedang yang jelek darinya, bersama Anda, hilangkan dari lembar kehidupannya. Janganlah memikirkan lelaki lain. Karena boleh jadi lelaki lain itu dalam pandangan Anda baik, namun ternyata ia tak baik dan tak cocok untuk menjadi suami Anda. Boleh jadi Anda melihat sepasang suami istri yang hidupnya bahagia. Lalu, Anda berkhayal seandainya lelaki itu yang menjadi suami Anda, pasti hidup Anda akan bahagia. Wah, itu belum tentu. Karena ternyata, bisa jadi lelaki itu memang cocok untuk perempuan yang sekarang menjadi istrinya, namun tidak sesuai bila menjadi suami Anda.
Satu yang pasti, percayalah bahwa pasangan hidup Anda adalah manusia terbaik yang diberikan Allah untuk Anda.

Tak ada yang salah dengan perbedaan dalam pernikahan—apapun itu, baik berbeda latar belakang kesukuan, perbedaan status sosial, maupun berbeda dalam harakah, karena sejatinya perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Namun, bisa jadi, akan ada usaha yang lebih ekstra untuk menjalankan rumah tangga demi meminimalisasi friksi-friksi atau konflik yang akan timbul setelahnya. Baiklah, pada akhirnya ini memang pilihan masing-masing kita.

Minggu, 25 Desember 2016

Bertahan Setabah Masyithah



Alangkah tak mudahnya mempertahankan ketimbang mendapatkan. Dulu kita mengaduh mencari-cari cahaya terang, namun kini seolah enggan mendekapnya. Sukar. Bak mengikat bayang-bayang.

Alangkah rajinnya engkau dulu, satu juz adalah menu wajib saban hari. Bahkan kau pantang tidur sebelum selesai. Sekarang, beberapa lembar saja kau sudah merasa sok payah. Ujarmu, meluruskan niat itu pun susah. Beberapa lembar dengan niat karena-Nya jauh lebih baik daripada satu juz namun karena disuruh guru ngaji atau teman-teman satu lingkaran. Lantas, bagaimana dengan hafalan? Tak pernah kau ulang lagi, raib entah ke mana rimbanya.

Alangkah tertutup dan santunnya engkau dulu, kerudung panjang dan baju longgar. Auratmu tertutup dari atas hingga ujung kaki. Kau nyaman karena merasa terlindungi dari panas terik dunia, maupun dari kaum adam yang tak baik—menggoda, mengajakmu pacaran dan semacamnya. Ini pun wujud kecintaanmu kepada-Nya, wujud kau mulai memiliki ghirah terhadap agama. Dakwah adalah dunia penuh cahaya, lingkaran cinta yang meruapkan atmosfer surga.

Sekarang, kerudungmu tak lagi mengulur menutup dada. Tak lagi tebal nan menutupi mahkotamu secara sempurna. Padahal dulu kau hafal betul perintahnya di surah apa ayat berapa. Pergi main bersama non-mahram adalah hal biasa. Kau bilang, kita harus mampu menyesuaikan diri di dunia kerja. Realistis, jangan idealis. Padahal rezeki itu Allah yang memberi. Begitukah balasannya?

Sebegitu mudahnyakah berubah? Ke mana istikamah? Kau mengeluh bahwa bertahan itu susah. Tak sabar mempertahankan ikrar cinta pada Rabb yang menciptakanmu. Padahal dulu seorang wanita meninggal disiksa dalam bejana air yang mendidih karena mempertahankan imannya. Langit memuliakannya. Kuburannya pun seharum namanya. Ah, bisakah kita bertahan setabah Masyithah? Apatah lagi setangguh Asiyah, seteguh Bilal bin Rabah,  manusia-manusia mulia di permulaan risalah.

Keteguhan hari ini serapuh kertas tua nan diringkihkan anai-anai. Setipis kulit bawang yang mudah terbang terbawa angin. Menjadi taat hari ini layaknya menggenggam bara api. Siapa pula yang sudi terbakar? Kau tidak ingin, katamu. Kemudian surga yang selalu kau yakini sebagai tempat kembali paling abadi itu seolah hanya sebatas angan di tidur malam nyenyakmu.



-pengingat yang saya tulis di Line pada suatu hari-

Senin, 24 Agustus 2015

Catatan untuk Sang Mawar #2






When you are standing in front of the mirror
Look at your face, your hair and your body
Think that you are ugly and feel like terror
Contemplate that you have made from an error
Your self reflection makes you feel giddy
When you are standing in front of the mirror
(Ugly-Novita T. L.)

Nukilan villanelle (salah satu jenis puisi Inggris) gubahan salah satu teman saya bertitel Ugly (Jelek) tersebut lantas mengingatkan saya akan beberapa iklan yang menjamur bak cendawan di negeri ini. Mulai dari alat peninggi badan, pelangsing tubuh, produk perawatan dan pemutih kulit yang segambreng-gambreng banyaknya, hingga perawatan rambut. Berbagai macam salon dan rumah cantik dengan pelbagai fasilitas yang ditawarkannya juga sudah tak terhitung jumlahnya, seakan-akan kata “cantik” adalah kebutuhan primer bagi semua kaum wanita. Kadang, tanpa disadari, citra “cantik” yang dibangun oleh iklan dan salon di negeri ini tak lepas dari: tinggi, putih, langsing. Sedangkan jelek adalah: pendek, hitam, gemuk. Setidaknya, begitulah bayangan diri yang muncul ketika si tokoh dalam puisi tersebut menghadap cermin, hingga ia merasa terteror oleh bayangannya sendiri, dia berpikir betapa buruk wajahnya, lantas merasa putus asa.

Merawat diri demi kecantikan tentu bukanlah sesuatu yang dilarang, sepanjang itu baik bagi perempuan itu sendiri dan tidak berbahaya bagi dirinya. Penampilan yang bersih dan cantik tentu akan menumbuhkan rasa percaya diri. Di samping itu, merawat diri merupakan salah satu bentuk syukur kita terhadap karunia-Nya. Namun, tak sedikit pula kini, anugerah Allah berupa paras yang rupawan menjadikan banyak perempuan bak reinkarnasi Narcissus masa kini. Bedanya, Narcissus dalam kisah itu seorang lelaki. Konon, setiap hari ia berlutut di tepian telaga untuk berkaca, mengagumi bayangannya yang terpantul di permukaan. Dia memang tampan. Garis dan lekuk parasnya terpahat sempurna. Maka, di tepi telaga itu Narcissus selalu terpana dan terpesona. Wajah dalam air itu mengalihkan dunianya. Dia lupa pada segala hajat hidupnya. Kian hari tubuhnya melemah, hingga suatu hari dia jatuh dan tenggelam.[1]

“Setiap kita memiliki kecenderungan untuk menjadi Narcissus. Atau telaganya,” ujar Ustaz Salim A. Fillah. “Kita mencintai diri ini, menjadikannya pusat bagi segala yang kita perbuat dan semua yang ingin kita dapat. Kita berpayah-payah agar ketika manusia menyebut nama kita yang mereka rasakan adalah ketakjuban pada manusia paling memesona. Kita mengerahkan segala daya agar tiap orang yang bertemu kita merasa telah berjumpa dengan manusia paling sempurna.”

Baik perempuan dalam nukilan puisi di atas maupun Narcissus merupakan contoh manusia yang cenderung mendefinisikan cantik atau tampan sebagai rupa secara fisik, yang terlihat nyata dan bisa dijamah oleh indera penglihatan manusia. Maka, begitu pulalah definisi cantik yang hingar-bingar di masa sekarang. Tak heran, ia pun menjadi obyek komoditas yang diperjual-belikan, bahkan bermetamorfosis menjadi berhala yang tak kasat mata.

Paras yang menawan. Kita mengerahkan segala daya agar agar tiap orang yang bertemu kita merasa telah berjumpa dengan manusia paling sempurna. Manusia jelita bak bidadari yang diutus ke bumi. Bukankah kini tak perlu bersusah payah menjadi terkenal di televisi demi mendapatkan pujian serta pengakuan dari penduduk bumi? Sejuta sarana dunia modern tak ubahnya telaga tempat Narcissus berkaca setiap hari, atau cermin ajaib milik ibu tiri Putri Salju. Di sanalah letak orang-orang zaman ini memajang wajahnya yang indah sempurna. Dari balik layar, orang lain yang menjadi pemirsanya menyampaikan kekaguman mereka melalui tombol berjudul “suka”. Paras menawan perempuan. Aduhai, siapa lelaki yang tidak tertawan kemudian? Pujian datang bertubi-tubi, seraya nama-Nya tak lupa disebut; “Masya Allah… cantik sekali ukhti ini.” Batin yang melihat berseloroh, tak ada yang salah mengagumi ciptaan Allah. Maka, diteruskannya kekagumannya yang sembarangan dengan memantau foto-foto sang perempuan menawan dari hari ke hari. Lantas pujian yang mengalir itu, bagai ramuan yang menerbangkan sang perempuan ke awang-awang. Membuatnya alpa akan satu hal yang luput digerus bangga pada diri sendiri.

“Tahu nggak Dik, cuma lihat tangan kita aja, kadang-kadang cowok tuh bisa terpesona,” ucapnya suatu kali, bertahun-tahun silam. Saya paham, itulah alasannya para muslimah itu memakai manset lengan, meski agak ribet, supaya pergelangan tangannya tertutup rapi. Satu kebiasaan kecil yang ketika itu mulai saya terapkan.

“Duh-duh, mbak-mbak cantik nan salehah, istikamah itu memang nggak gampang ya.” Saya temukan komentar beraroma sindiran itu di foto yang saya unggah ke media sosial beberapa menit sebelumnya. Foto kami—para perempuan (yang notabene berkerudung panjang) usai berkegiatan. Beliau memang agak strict dengan perkara yang saya anggap sepele itu. Baginya, menampilkan banyak foto diri di dunia maya bukanlah hobi yang pantas dilakukan oleh seorang muslimah.

“Bagaimana jika banyak ikhwan melihat fotomu, lantas mereka jadi merasa gimanaaa gitu? Kamu muslimah yang sudah seharusnya paham menjaga diri, bukan hanya sebatas menutup aurat secara syar’i. Setiap kali rapat, bukankah kalian sudah belajar menjaga dengan memakai hijab pembatas demi menjaga pandangan? Mengapa di jagad maya justru tak sungkan kau perlihatkan paras jelitamu yang bisa bebas mereka pandangi setiap waktu? Kau tidak takut jika timbul sesuatu?” Hati nurani saya berontak suatu hari. Timbul sesuatu?

“Setahuku, nggak ada cowok normal yang nggak pernah terkontaminasi hal-hal berbau porno. Paling nggak, nonton yang seperti itu. Sealim apapun, ikhwan sekalipun. Menurut pengamatanku sih. Jadi, zaman sekarang ini susah sekali menahan pandangan. Banyak godaan di sepanjang jalan,” kali ini pengakuan langsung dari salah satu teman laki-laki. Saya jadi mengerti, betapa tak mudahnya bagi mereka meredam gejolak, terlebih bagi yang belum menikah. Wallahua’lam. Benar atau tidaknya hanya Allah yang Maha Tahu. Namun, tak ada salahnya itu menjadi sebuah sentilan bagi kita—kaum perempuan untuk lebih berhati-hati dan menjaga, tak terkecuali dalam perkara yang nampaknya remeh-temeh.

Bukan salah mata lelaki yang memandang, sebab kitalah—perempuan yang menyajikan, kitalah yang memasang umpan. Sementara kita tidak pernah tahu bagaimana alam pikiran dan imajinasi mereka bekerja. Ah, tentu saja kita tidak sampai hati membayangkan yang bukan-bukan, terlalu mengerikan. Selanjutnya, jika sampai terjadi zina mata, hati dan pikiran, mereka jugakah yang patut dipersalahkan? Oh, jangan-jangan semua dosa mereka bermuara kepada kita? Kalikan saja jumlah orang yang memandang dengan dosa mereka, dan itu semua ditimpakan kepada kita—sang penebar umpan. Tak terhitung. Sementara amalan baik yang kita punya sama sekali belum cukup menjadi penolong untuk meraih surga-Nya.

Maka, cukuplah keindahan yang kita punya tidak dijadikan obyek pemuas mata mereka yang bukan siapa-siapa. Apalah artinya penilaian dan pujian manusia tentang tampilan muka, sementara Baginda Rasulullah saw bersabda jika wanita dunia lebih utama dari bidadari-bidadari bermata jeli karena salat, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Ah, hadis ini mungkin sudah sangat akrab sekali di telinga kita.

Al-Imam Ath-Thabrani meriwayatkan sebuah hadis dari Ummu Salamah ra, bahwa beliau berkata: Aku bertanya, “Ya Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukan bidadari bermata jeli?”
Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari seperti kelebihan apa yang Nampak dari apa yang tidak terlihat.”
Aku bertanya, “Mengapa wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari?”
Beliau menjawab, “Karena salat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati. Kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali. Kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali. Kami rida dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.”

Sekali lagi, jika perempuan diibaratkan sebagai mawar, maka ia yang terjaga bak mawar di tepi jurang nan curam, bukan mawar di tengah-tengah taman nan jamak dan pasaran. Ia menjaga dirinya dengan penuh kehati-hatian hingga ada tangan pemberani yang kelak bersedia menempuh bahaya demi memetiknya: yang bersamanya nanti ia temukan cinta yang sesungguhnya, yang dengan memandang kecantikannya menjadi lading pahala, bukan fitnah penuh dosa.

Sekali lagi, jika perempuan diibaratkan layaknya mutiara, maka ia yang terjaga tersimpan dalam cangkang kerang di dasar lautan, hingga ada penyelam tangguh yang mengambilnya.

Selanjutnya, adalah pilihan masing-masing kita untuk menjadi yang mana.

“Di dalam surga itu terdapat bidadari yang sopan menundukkan pandangannya. Tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka. Tidak pula oleh jin.” (Ar-Rahmaan 56)

“Laksana mutiara yang tersimpan dengan baik.” (Al-Waqiah 23)

“Seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan baik.” (Ash-Shaffat 49)











Judul awal tulisan ini adalah “Beautiful, Am I?”, kemudian diubah setelah ditimbang-timbang lagi. Telah direncanakan untuk ditulis sejak bertahun-tahun yang lalu, namun gairah menyelesaikannya baru muncul beberapa pekan yang lalu.
#Catatanuntukdiri
Semoga selalu terlantun istighfar

Referensi:

A.Fillah, Salim. Agar Bidadari Cemburu Padamu. 2010. Yogyakarta: Pro-U Media.
------------------. Dalam Dekapan Ukhuwah. 2010. Yogyakarta: Pro-U Media.



[1] Seperti yang dikisahkan Ustaz Salim A. Fillah dalam bukunya: Dalam Dekapan Ukhuwah (Pro-U Media, 2010)