Kamis, 17 Februari 2011

Mematahkan Mitos Origami Tsuru



Judul Buku : 1000 Bangau Kertas
Penulis : Ezokanzo
Penerbit : Gema Insani Press (GIP), 2005
Tebal : 150 halaman

“Aku akan menuliskan tentang perdamaian pada setiap kepak sayapmu, dan engkau harus terbang mengelilingi dunia agar anak-anak tak perlu lagi mati dengan cara ini…”

Itulah penggalan haiku (semacam puisi Jepang) yang ditulis Sasaki Sadako di saat-saat terakhirnya, ketika ia berjuang melawan leukemia. Ya, kisah bocah perempuan berumur sebelas tahun ini memang cukup fenomenal di Negeri Sakura tersebut. Terjadi pasca perang dunia II, ketika sang negeri adikuasa menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Sadako yang ketika itu masih bayi, harus menerima efek dari bom atom, dan ia tumbuh bersama kanker darahnya.
Di rumah sakit, di mana ia menunggu maut, tangan-tangan kecilnya sibuk melipat origami-tsuru (dari kata oru: melipat, kami: kertas, tsuru: bangau. Jadi, origami tsuru berarti bangau kertas) sambil sesekali berharap akan kesembuhannya. Ia percaya jika ia berhasil membuat seribu bangau kertas, maka permintaannya akan terkabul. Lalu, ia memanjatkan harapan nomor duanya untuk terciptanya perdamaian dunia.
Sadako tak dapat mengelak ketika maut menjemputnya saat ia baru membuat 642 bangau kertas. Hal itulah yang menginspirasi anak-anak seluruh dunia untuk mengirim seribu bangau kertas ke Jepang setiap Hari Perdamaian Dunia tanggal 6 Agustus.
Mungkin itu pula yang menginspirasi Ezokanzo—penulis yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena (FLP) Jepang ini—untuk menciptakan fiksi berjudul 1000 Bangau Kertas. Novel bergenre fiksi Islami bersetting Sapporo-Bandung ini memang cukup charming dengan covernya yang bernuansa biru-putih, ditambah ilustrasi warna-warni bangau kertas yang berserakan di atas meja. Itulah yang membuat saya menariknya dari deretan buku di bookstore selain karena saya memang suka mempelajari budaya Jepang.
Lembar pembuka novel ini—yang menjadi semacam intro—adalah terjemahan lirik lagu Kimura Yumi berjudul ‘Itsumo Nando Demo’ yang kata-katanya indah dan menyentuh.
Tokoh utama dalam novel ini, Anggie, adalah mahasiswi Indonesia di fakultas Engineering salah satu universitas di Jepang. Ia bersahabat dengan Naomi, gadis Jepang cerdas yang terobsesi dengan origami tsuru. Melalui mulut Naomi, Anggie tahu seluk-beluk mitos bangau kertas yang sudah berurat akar di negeri tempatnya menuntut ilmu. Sejak kecil, Naomi selalu tidak percaya diri sebelum bangau kertas yang dibuatnya mencapai seribu. Pun ketika ia hendak menghadapi ujian. Ia tidak yakin akan berhasil sebelum origami-nya komplit berjumlah seribu.
Hal itu lantas membikin konflik dalam diri Anggie. Bagaimana bisa Naomi yang intelektualitasnya tinggi mudah sekali percaya dengan mitos? Itu pula yang seringkali mendorong Anggie untuk tetap bersikukuh dengan iman Islamnya. Jika Naomi saja percaya dengan bangau kertas yang tidak bisa apa-apa—bahkan pasrah ketika dilipat-lipat tangan manusia—maka ia harus lebih percaya kepada Allah, Tuhan Semesta Alam.
Dalam novel ini, penulis mencoba berdialog dengan pembaca tentang gambaran umum Jepang, juga kebiasaan-kebiasaan masyarakat negeri tersebut. Jalanan yang licin karena salju yang mencair saat musim dingin. Adat disiplin orang Jepang yang tentu bertentangan dengan adat ‘jam karet’ orang Indonesia. Kebiasaan tidak membuang sampah sembarangan, walau hanya sepuntung rokok. Tak ketinggalan pula, pergaulan bebas yang membudaya di kalangan anak muda Jepang. Penulis juga bercerita soal sikap orang Jepang yang cenderung sentimen terhadap suara ribut tetangga, bahkan bisa berbuntut ke polisi. Hm, orang Jepang memang cukup individualistis.
Unsur ‘percintaan’ memang tak bisa lepas dari keberadaan fiksi mana pun. Begitu pula dalam novel ini. Naomi tinggal serumah dengan Taki, pacarnya. Hal itu biasa, kendati belum resmi menikah. Apa lagi, negeri yang mayoritasnya penganut Shintoisme itu minim norma-norma pergaulan seperti dalam Islam.
Inilah awal konflik yang sebenarnya. Naomi dikhianati Taki dalam keadaan hamil. Ia tak bisa berbuat apa-apa kecuali mengadu kepada Anggie, sahabatnya. Naomi yang bersedih merasa tak ada yang bisa menenangkan hatinya kecuali membuat seribu origami tsuru, sebelum ia memutuskan untuk menggugurkan kandungannya atau tidak.
Lewat perhatian dan bantuan Anggie, Naomi batal melakukan rencana buruknya itu dan berusaha melupakan Taki. Naomi kemudian dibawa Anggie pulang ke Indonesia, dan melahirkan di Bandung, tanah kelahiran Anggie. Ironisnya, Naomi tak pernah mengakui anaknya sendiri. Jadilah Anggie yang menjadi ibu angkat anaknya, setelah Naomi pulang ke Jepang.
Zahra, gadis kecil yang dilahirkan Naomi tumbuh tanpa ayah yang seharusnya menjadi pendamping Anggie. Hal itu membuat Anggie murung sebab Zahra mulai berpikir kritis tentang hal itu.
Hingga takdir mempertemukan Anggie dengan Muhammad Taqwa, seorang Jepang yang menjadi atasannya. Mereka kemudian saling jatuh hati dan menikah, sesuai keinginan Anggie untuk memberikan Zahra seorang ayah.
Ternyata, Taqwa tak lain adalah ayah Zahra secara biologis. Ia adalah Takemago Taki yang telah menjadi muallaf, dan bertekad menebus kesalahannya di masa lampau, usai mengetahui Naomi telah meninggal bunuh diri. Naomi bunuh diri ketika dirinya gagal ujian, dan menghadapi kenyataan bahwa seribu bangau kertas ternyata tak bisa membantunya.
Seperti pembukanya, novel ini ditutup dengan bait terakhir lirik ‘Itsumo Nando Demo’ yang belum diterjemahkan, disertai catatan kaki di bawahnya. Petikan-petikan kosakata Jepang memang menambah novel ini jadi lebih semarak, dan penguatan karakter jadi lebih hidup.
Hal yang saya sukai adalah manisnya persahabatan Anggie dan Naomi yang jelas-jelas berbeda negara, bangsa, dan agama. Ketulusan persahabatan melahirkan kepercayaan dan kasih sayang yang indah, serta menghapus jurang perbedaan antara keduanya.
1000 Bangau Kertas adalah novel perdana penulis. Isinya cukup berkualitas. Dikemas dalam bahasa yang fresh dan bernas, serta menjaga dramatikanya dari awal sampai akhir. Dijamin tak akan membuat kening berkerut ketika membacanya. Sehingga, cocok dibaca oleh siapa saja .
Tentunya, seusai membacanya, kita tak hanya terhibur oleh endingnya yang mengharukan. Namun, ada lain lagi yang tertinggal di hati, bahwa nasib tidak ditentukan dengan bangau kertas. Bahwa kepercayaan yang sempurna hanyalah untuk Allah semata. 

Dua foto di atas saya ambil di Lembaga Bahasa Jepang Yogyakarta ^__^
Posting Komentar