Senin, 27 Juni 2011

ORGANISASI MAHASISWA SEBAGAI WADAH KONTRIBUSI BERBASIS KOMPETENSI DALAM MANAJEMEN BENCANA


Diajukan untuk mengikuti Annual Essay Competition (ANNESC) 2011






Ditulis Oleh:

SEPTALIA ANUGRAH WIBYANINGGAR
niM: 09/282956/sa/14940



SUBDIREKTORAT PPKB DIREKTORAT KEMAHASISWAAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2011

“Visi tanpa eksekusi adalah lamunan. Eksekusi tanpa visi adalah mimpi buruk.”
(Pepatah Jepang)

Realitas bahwa Indonesia adalah negara rawan bencana sudah tak dapat dipungkiri lagi. Berbagai macam bencana alam yang terjadi di Indonesia beberapa tahun terakhir ini tak pelak menimbulkan bermacam kerugian. Tak hanya kerugian fisik yang ditimbulkan, namun juga psikis. Dari bencana tsunami di Aceh tahun 2004 lalu, hingga erupsi Merapi di Yogyakarta dan Jawa Tengah yang terjadi akhir 2010, sampai saat ini masih menyisakan puing-puing kerugian yang sepertinya tak mungkin untuk mengembalikannya seperti sedia kala. Kerugian materi berdampak pada kondisi perekonomian bangsa, belum lagi sekian juta nyawa yang terenggut dan menjadi korban, mereka akan mengalami beban mental maupun psikologis akibat bencana yang ditimbulkan. Oleh sebab itu, bencana alam menjadi problematika tersendiri yang tak pernah usai dibahas dan diperbincangan. Dalam hal ini, bukan hanya pemerintah saja yang memiliki tugas besar sebagai problem solver atau pemecah masalah, namun ini juga tugas semua elemen masyarakat di Indonesia untuk selalu sigap dan arif dalam menangani bencana.
Kaum muda, sejak dulu diasumsikan sebagai kaum yang berada di garda depan perubahan. Mereka dipersepsikan kental oleh semangat, keberanian, serta idealisme yang meletup-letup. Mahasiswa, sebagai kaum muda yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, tentu memiliki kriteria atau ciri khas yang membuatnya menjadi lebih ‘istimewa’ daripada sekadar ‘kaum muda’ yang lainnya. Fakta menarik yang patut diketahui, bahwa di Indonesia—negara yang terdiri lebih dari 13.000 pulau ini—menurut Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2004, hanya 2% saja dari sekian ratus juta penduduknya yang berhasil mengenyam pendidikan di bangku perkuliahan. Maka, jumlahnya yang tak banyak tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi yang berarti bagi masa depan bangsa. Sebagai kaum intelektual, mahasiswa dituntut kompetensi dan keahliannya dalam di ranah keilmuan. Ia juga dituntut keprofesionalitasannya dalam menyejahterakan masyarakat.
Sesuai dengan triangular role mahasiswa (agent of change, iron stock, and moral force), mahasiswa merupakan agen perubahan yang memiliki kekuatan moral dan siap menjadi Sumber Daya Manusia (SDM) yang strategis untuk masa depan. Jika tak mempersiapkan diri secara optimal, bukan tak mungkin selanjutnya mahasiswa hanya menjadi ‘pengangguran’ di tanah airnya sendiri, karena tak mampu mengelola sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Karena itulah, di samping triangular role tersebut, mahasiswa juga memiliki beberapa ciri utama dalam aktivitas dan pergerakannya, yaitu: (1) berbasis pada kepakarannya, (2) memberikan solusi sesuai dasar kompetensi yang dimilikinya, (3) melakukan aksi nyata dalam sektor kehidupan bermasyarakat, serta (4) melakukan mobilitas vertikal berdasarkan kompetensi dan profesionalitasnya.
Dalam mengaktualisasikan perannya ketika menanggapi bencana, mahasiswa tak harus hanya berkontribusi sebagai relawan saja. Aksi turun ke jalan menggalang dana bagi korban bencana alam, mendirikan posko bencana alam yang terorganisir, atau terjun langsung ke lokasi bencana dan melayani para korbannya, merupakan gerak nyata mahasiswa yang sudah jamak dilakukan. Mahasiswa, diharapkan bisa membawa perubahan yang lebih daripada aksi-aksi yang sudah jamak tersebut.
Dewasa ini, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kian pesat merambah segala aspek kehidupan manusia, tak terkecuali dunia pendidikan. Mahasiswa sebagai salah satu elemen penting dalam dunia pendidikan, merupakan motor penggerak yang harus mampu memanfaatkan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, khususnya dalam penanganan bencana alam. Pemanfaatan teknologi informatika semisal internet membuka peluang besar dalam upaya penanganan bencana. Kemudahan layanan informasi dan komunikasi melalui beragam situs jejaring sosial di internet (social networking) sangat membantu dalam pengumpulan dana serta dukungan moril maupun materiil dari berbagai belah pihak.
Mengingat core aktivitas mahasiswa yang salah satunya bercirikan “memberikan solusi atas dasar kompetensi yang dimilikinya”, maka peserta didik yang berada di jenjang perguruan tinggi—yang telah menekuni bidang sesuai minat dan kompetensinya—diharapkan mampu memberikan solusi atas suatu problema di masyarakat sesuai dengan kompetensi dan bidangnya masing-masing. Mahasiswa yang ahli di bidang IT misalnya, jika problemnya dispesifikasikan ke ranah bencana alam, maka bagaimana selanjutnya pemanfaatan IT tersebut dapat menjadi salah satu solusi dari bencana alam. Salah satu contohnya adalah social networking tadi.
Di jenjang perguruan tinggi, universitas merupakan salah satu lembaga pendidikan yang paling bergengsi. Universitas adalah perguruan tinggi sebagai lembaga ilmiah yang menyelenggarakan program pendidikan akademik atau profesional dalam sejumlah disiplin ilmu pengetahuan. Universitas merupakan perguruan tinggi yang mempunyai program studi yang paling beragam, dari bidang eksakta sampai sosial, dari teknologi sampai bahasa. Dengan beragam ranah keilmuan yang dimilikinya, tak diragukan lagi jika universitas berpeluang mencetak para akademisi yang multi-kompeten. Berangkat dari universitas, peran multi-kompeten mahasiswa kemudian teraktualisasi ke dalam kontribusi di masyarakat. Ini merupakan sumbangsih yang cukup besar dalam pengelolaan SDM dan SDA, di masa kini maupun di masa yang akan datang.
Hampir semua cabang keilmuan memiliki andil dalam penanganan bencana. Ilmu geografi dan geologi jelas dibutuhkan dalam riset dan penelitian mengenai terjadinya tsunami maupun kondisi gunung api. Ilmu kedokteran sangat dibutuhkan guna menangani para korban bencana. Psikologi juga turut serta dalam penyuluhan kesehatan mental masyarakat di daerah bencana. Matematika dan ilmu pengetahuan alam bersinergi dalam penelitian mengenai bencana tersebut. Para ahli linguistik menjadi andalan ketika dalam penanganan bencana tersebut harus memiliki kerjasama dengan pihak luar. Ahli ilmu ekonomi dibutuhkan untuk mengkalkulasi kerugian materi yang ditimbulkan oleh bencana.
Belajar dari masyarakat Jepang—negara yang memiliki kesamaan keadaan geologi dengan Indonesia—mereka telah memiliki kesiapan yang baik dalam menghadapi maupun menanggulangi bencana. Mitigasi atau penanganan bencana negara Jepang begitu cepat, efisien, dan tepat guna. Jepang telah berhasil meminimalisir korban bencana beserta kerugian materi yang ditimbulkannya. Keberhasilan tersebut merupakan hasil pembelajaran yang lama dan keseriusan masyarakatnya dalam upaya tanggap bencana. Sistem pemerintahan Jepang memiliki kementrian penanggulangan bencana atau Prime Minister of Disaster. Masyarakatnya pun telah terlatih sejak dini dalam penanganan bencana, pelatihan tanggap bencana telah dilakukan semenjak di play group atau taman kanak-kanak. Setiap tahunnya di Jepang diadakan pelatihan evakuasi secara menyeluruh. Hingga dalam dunia pendidikannya, Jepang memiliki kurikulum berbasis bencana yang diajarkan di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi.
Masyarakat Jepang sudah memiliki tindakan ‘reaktif’ dan ‘antisipatif’ dalam menghadapi bencana. ‘Reaktif’ adalah sikap peka atau tanggap ketika bencana terjadi, dan ‘antisipatif’ adalah tindakan pencegahan sebelum bencana terjadi dan menimbulkan banyak kerugian. Disaster awareness atau kesadaran mengenai bencana juga mencakup pemberian pengetahuan kepada masyarakat, sehingga ‘reaktif-antisipatif’ dapat terlaksana dengan baik.
Jika gempa Kobe berkekuatan 7,2 skala Richter di tahun 1995 merupakan titik tolak manajemen bencana di Jepang, maka seharusnya gempa dan tsunami yang melanda Aceh menjadi titik tolak bagi masyarakat Indonesia dalam manajemen bencana.
Sudah saatnya masyarakat Indonesia memiliki inovasi kurikulum pembelajaran seperti di Jepang. Kurikulum tentang manajemen bencana tak hanya diberikan di sekolah-sekolah menengah, namun terlebih lagi di perguruan tinggi, di mana mahasiswa sebagai pemeran utama agen perubahan bisa turut aktif berkontribusi secara nyata dalam upaya manajemen bencana.
Organisasi. Kata ini didefinisikan sebagai suatu kelompok orang yang ada dalam satu wadah untuk mencapai tujuan bersama. Dalam organisasi dikenal adanya ‘partisipasi’ yaitu keterlibatan pikiran dan emosi di dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan.
Mahasiswa merupakan aktor sosial yang diharapkan mampu mempunyai kesadaran dan kepedulian yang tinggi dalam menyentuh realitas sosial yang diakibatkan sebuah kebijakan, serta mampu menciptakan ranah pembelajaran menuju proses dialektika pendewasaan sisi kehidupan, sehingga mampu menjadi bagian dari generasi muda bangsa yang memiliki tangggungjawab untuk memajukan bangsa, dengan bekal pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan serta gagasan-gagasan yang dinamis progresif dan revolusioner. Maka, untuk merealisasikan harapan tersebut, organisasi adalah jalur yang tepat bagi pengaktualisasian diri. Dari organisasi inilah muncul kader-kader yang intelektual, kritis, serta humanis.
Terkait dengan manjemen bencana, karena Indonesia pada dasarnya masih belum memiliki kesiapan yang matang seperti halnya Jepang dalam mitigasi atau penanganan bencana, ketika kurikulum berbasis bencana sama sekali belum teraktualisasi di segala institusi pendidikan di negeri ini, organisasi adalah jalur yang tepat untuk mengawali. Dengan pemeran utama mahasiswa, organisasi yang berangkat dari dunia kampus adalah upaya strategis untuk merealisasikan tujuan bersama, yaitu manajemen bencana di Indonesia.
Ketika pemerintah masih dililit masalah perekonomian dan masalah-masalah besar lainnya—serta tak ada ketegasan tentang ‘pendeklarasian’ negeri ini sebagai kawasan rawan bencana, maka tak ada alasan lagi bagi seluruh mahasiswa di Indonesia untuk ragu bergandeng tangan mengupayakan solusi bagi permasalahan ini.
Selama ini, organisasi mahasiswa hanya berkutat di lembaga seperti Badan Eksekutif  Mahasiswa (BEM), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Palang Merah Indonesia (PMI), Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dan lain sebagainya. Melihat realitas seperti sekarang ini, tak dapat dipungkiri bahwa perlu didirikannya organisasi yang bergerak khusus di bidang mitigasi bencana.
Organisasi yang bergerak di bidang manajemen bencana tentu tak hanya berwujud relawan yang turun ke jalan-jalan atau menggalang dana di posko-posko bencana alam. Sesuai dengan namanya, organisasi manajemen bencana harus bisa mengatur segala aspek yang terkait dengan bencana. Seperti ide yang saya kemukakan sebelumnya, bahwa kontribusi nyata mahasiswa akan teraktualisasi dengan baik ketika dilakukan atas dasar kompetensi yang dimilikinya. Maka, dalam organisasi yang bergerak di lingkup mitigasi bencana, hampir seluruh akademisi dari beragam ranah keilmuan dapat memberikan kontribusi.
Perlu adanya konsolidasi dengan berbagai pihak di kampus serta pemerintah dalam rangka mensukseskan visi serta tujuan yang telah dibentuk. Bisa jadi, semua organisasi di kampus turut memberikan kontribusi nyatanya dalam organisasi mitigasi bencana, sehingga harapannya organisasi ini bisa merangkul seluruh elemen mahasiswa di perguruan tinggi untuk bersama-sama mengabdi kepada masyarakat. Sekaligus sebagai upaya untuk memupuk sense of social (kepekaan sosial) mahasiswa di tengah-tengah kehidupan berbangsa, bernegara, dan bertanah air.
Organisasi mahasiswa di kampus dijadikan sebagai titik tolak yang mengawali adanya pengelolaan bencana dalam skala lebih besar—yaitu lingkup nasional yang sudah diintervensi oleh pemerintahan. Sehingga, untuk langkah selanjutnya, pemerintahlah yang berhak memutuskan metode penanganan bencana yang lebih efektif dan terorganisir secara sempurna. Namun, masyarakat dan kaum akademisi tetaplah sebagai pengontrol atas kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah.
“Visi tanpa eksekusi adalah lamunan. Eksekusi tanpa visi adalah mimpi buruk.” Kalimat ini menegaskan kepada kita bahwa adanya tujuan (vision) tanpa pelaksanaan (execution) adalah mimpi di siang bolong (daydream atau lamunan). Sedangkan pelaksanaan tanpa tujuan adalah mimpi buruk. Jadi, keduanya adalah kata yang berjalan beriringan dan tak bisa terpisahkan, keduanya bersinergi dalam mencapai harapan atau tujuan. Maka, seperti itulah hendaknya kontribusi nyata mahasiswa. Memiliki tujuan yang jelas, teraktualisasi dalam gerak nyata melalui oganisasi yang positif. Demi menghapus stigma ‘mahasiswa hanya bisa demo’, sense of social (kepekaan sosial) merupakan wujud solidaritas dan salah satu ciri khas yang menghiasi pergerakan mahasiswa. Jika itu sudah dapat terealisasi, maka adalah suatu keniscayaan bahwa negara ini akan segera menghadapi fase kebangkitan dari keterpurukan.


Posting Komentar