Sabtu, 29 April 2017

Jalan Pulang




Two roads diverged in a yellow wood
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth

-Robert Frost-

Jika setiap jalan lurus tanpa kelokan dan tanjakan, jika setiap kisah selalu bermuara pada ekspektasi sebelumnya, jika semua cerita selalu berakhir bahagia tanpa kegagalan-kegagalan yang menjadi konfliknya, bisa jadi akan sulit sekali syukur terucap dari bibir kita. Bisa jadi pula kita yang lemah ini tak akan kunjung menarik pelajaran demi pelajaran yang dihidangkan semesta.

Setiap jalan adalah rawan, mengandung bahayanya masing-masing. Dan kita sepenuhnya berhak menentukan jalan mana yang paling aman, meski itu semua menghajatkan hati yang lapang, kesabaran tiada berbatas, serta sepasang kaki yang kuat untuk terus melangkah.

Mungkin jalan itu terjal mendaki. Mungkin ruas jalan yang kita tempuh tak pernah luput dari semak belukar maupun duri-duri yang menajam. Mungkin bentangan jalur yang harus dilalui itu menikung-nikung, naik turun, dan berkelak-kelok. Namun, untuk sebuah tempat pulang paling lapang yang kelak akan kita temukan setelahnya, tak ada perasaan paling melegakan selain bahagia, tak ada ungkapan paling merdu selain kesyukuran yang tak terungkapkan oleh kata-kata.

Untuk segala ujian sepanjang perjalanan, semoga tak ada sesal yang hinggap, tak ada sedih yang turun, tak ada dendam yang mengendap bertahun-tahun. Kita tak akan menyesali pilihan yang telah kita ambil, walaupun mungkin pilihan itu pada akhirnya menemui titik gagal yang membuat kita tak bisa meneruskan perjalanan. Kita hanya perlu memutar arah, kemudian mengusahakan jalan-jalan lain yang disediakan oleh tuhan. Seraya berprasangka baik bahwa kemudahan-kemudahan akan selalu dihadirkan, seiring kuatnya munajat dan ikhtiar yang benar.

Kita percaya, suatu saat kita akan pulang ke tempat terbaik, kita juga percaya cepat atau lambat segala cerita ini akan mencapai ujung pangkal alias ending-nya. Meski lamanya waktu dan kerasnya upaya menjadi syarat yang harus ditunaikan sebelumnya. Meski konflik demi konflik menjadi penghias alurnya. Meski kita tidak benar-benar tahu ujung pangkal segala cerita ini akan seperti apa, itu rahasia-Nya. Lambat laun kita akan memahami, betapa baiknya Allah ta’ala yang selalu menghadirkan tanda-tanda bagi setiap pengelana. Kita semakin yakin bahwa setiap yang istimewa tak akan diraih dengan mudahnya. Semoga kuat melangkah seraya menguntai kesabaran yang tiada berbatas, esok dan seterusnya.

Selasa, 07 Maret 2017

Renjana #3



Kita tertatih mengurai takdir, meski tangan kita terlalu rapuh untuk memunguti keping-keping hikmah sepanjang jalan. Kita mencoba menerka jawaban, atas mengapa kegagalan-kegagalan nan menyakitkan harus menjadi penyeling dalam setapak perjalanan. Kita mencoba belajar menerima segala kemungkinan dan ketentuan, seraya masih terus memanjangkan sabar dan memperkuat ikhtiar. Kita mematut diri di depan cermin, mencoba untuk mencerna pemahaman bahwa pantulan seperti itulah nanti yang akan kita dapatkan sebagai teman. 

Kita berupaya menahan rasa yang mulai menggejala. Tak boleh sekali-kali kuncup dan mekar sebelum waktunya. Kita mengadu di atas sajadah, memperbanyak jumlah doa dalam sehening-heningnya munajat di malam-Nya yang sepertiga. Kita tetap belajar melabuhkan harapan tinggi jauh ke langit sana. Sebab membangun harap kepada sesama tak ubahnya bersiap jatuh ke jurang kecewa. Kita berupaya memperbaiki niatan, supaya tak berbelok, lantas malah mematahkan keinginan. Kita berusaha menjadi apa adanya, sebab kita sadar kita jauh sekali dari sempurna.

Kita bergerak pasrah seperti daun-daun luruh. Entah di mana kita akan jatuh. Sekecil apapun kemungkinan untuk jatuh di tempat yang sama, kita percaya itu sangat mudah bagi-Nya.




(Disalin dari caption di instagram)

Mengeja Kesendirian




Sesungguhnya, apa yang tengah dipikirkan orang-orang tentang kesendirian? Adakah kebanyakan manusia berasumsi bahwa sendiri selalu berkawan akrab dengan kesunyian? Sesungguhnya, apa yang selalu dipikirkan orang-orang kebanyakan tentang kesendirian? Adakah mereka selalu menganggap bahwa sendiri berarti hampa, sepi, dan penuh kesedihan nan tak berkesudahan?

Orang-orang yang merasa kesepian selalu mencari tempat-tempat ramai. Orang-orang yang jemu akan kesendirian memupus kehampaan melalui berjumpa dengan banyak manusia-manusia lainnya, menyibukkan diri dengan aneka kegiatan, berbincang, berdiskusi, bertukar cerita, atau sekadar menciptakan senda gurau tak penting sambil menyeruput kopi. Namun, ada pula orang-orang yang memberantas kesepian cukup melalui menenggelamkan diri sendiri pada musik yang sibuk ia dengarkan, atau membenamkan dunianya pada buku cerita yang tekun ia telusuri kisahnya. Di sisi lain, ada masanya kesendirian begitu mengasyikkan. Ia tak lagi dimaknai sebagai wujud kesepian atau keterasingan, namun lebih sebagai kebebasan yang membahagiakan.

Kau menikmati sebuah perjalanan tanpa teman dan hanya bisu sepanjang kereta itu mengantarmu ke tempat tujuan. Kau menikmati melemparkan pandang ke luar jendela sembari merenungkan banyak hal atau membuat kontemplasi demi kontemplasi tanpa ada yang mengusikmu hanya untuk sebuah pertanyaan basa-basi. Kau pun menikmati kesendirian di sepertiga malam, di mana kau bebas mengadu, menumpahkan air mata, mengutarakan segerombolan sesak dan keinginan kepada tuhan. Bagaimana mungkin kau akan sebebas itu menumpahkan tangis dan sedu-sedan di tengah keramaian? Kau tentu malu. Bahkan dalam kesendirian pun jiwamu tetaplah ramai, riuh mempertengkarkan banyak persoalan dan pertanyaan. Lalu, kau juga menikmati kesendirian sebagai waktu terbaikmu untuk menulis berbagai hal yang melesak di benak. Kesendirian mengajakmu memikirkan ulang kejadian-kejadian, mengurai hikmah dan pelajaran-pelajaran yang berserakan. Tak jarang, kesendirian menciptakan ruang pula bagi perbaikan demi perbaikan. Ada kalanya, sendiri terdengar jauh lebih merdu diucapkan daripada berdua, bertiga, berempat dan seterusnya.

Kemudian orang-orang yang mencintai kesendirian bertanya, apakah yang tak lagi sendirian benar-benar menemukan hakikat kebahagiaan? Tak jarang, kebersamaan bukan lagi perkara kehangatan, namun memunculkan konflik alias pertikaian-pertikaian. Kebersamaan adalah peleburan ego individu-individu dengan isi kepala yang berbeda.

Kebahagiaan bisa saja hadir dalam kesendirian, namun juga selalu hadir dalam kebersamaan. Kesedihan dan kegembiraan sesungguhnya berada di neraca yang sama, begitu ujar Kahlil Gibran. Kita tak bisa selamanya mengatakan kesendirian rawan akan kesedihan, namun juga tak bijak menghakimi kebersamaan selalu dihiasi pertikaian-pertikaian. Ada masanya kita mendamba kebersamaan ketika sedang sendirian. Ada masanya kita ingin mengasingkan diri sejenak dari keramaian. Ada kalanya kita melihat pasangan-pasangan yang selalu harmonis dan bahagia, genap-menggenapkan, sehingga kita merasa tak utuh dengan kesendirian. Ada kalanya ketika telah bersama kita merasa tak sebebas ketika masih berstatus sendirian.

Apapun alasannya, apapun keadaannya, kita pada hakikatnya tak ingin selamanya berkelumun hening dengan menapakkan kaki sendirian di setapak jalur kehidupan. Kita membutuhkan—setidaknya satu saja—teman dalam perjalanan, yang akan membantu menguatkan langkah, menyemangati, memberi arti bagi episode-episode di lembar-lembar selanjutnya, demi mengayun langkah ke satu tujuan. 

Namun, selama waktu tunggu, selama belum menemukan teman dalam perjalanan, semoga kesendirian semakin mengajarkan kepada kita tentang sebijak-bijaknya pemahaman. Bahwa kesabaran adalah juga sebaik-baiknya perjuangan. Bahwa doa selalu didengar oleh Sang Penguasa Alam. Bahwa kesendirian berbanding lurus dengan upaya penjagaan diri dari segala hal yang mungkin bisa menjauhkanmu dari tuhan. Bahwa kesendirian adalah menjaga cintamu utuh sepanjang jalan. Bahwa dengan kesendirian, kau masih mampu mengerjakan kebajikan-kebajikan dan mencetak karya-karya luar biasa.

Kita tak ingin selamanya sendiri. Tetapi, berkawan akrab dengan sepi membantumu mengerti, kesendirian tetap membuatmu mengulum senyum, tak mengurangi kadar bahagiamu barang sesenti pun. Lalu kau ingin berteriak lantang kepada dunia: mari bahagia apapun keadaannya.

Jumat, 03 Februari 2017

Bagaimana Jika




Bagaimana jika aku tidak seperti yang kau lihat menurut pandangan terbatasmu sepanjang ini? Bagaimana jika aku tidak sesuai dengan ekspektasimu selama ini? Bagaimana jika suatu hari nanti kamu akan mengalami banyak sekali keterkejutan karena aku jauh sekali dari sangkaanmu selama ini? Bagaimana jika aku ternyata nyaris tidak memenuhi aneka daftar kriteria tentang seorang yang kau harapkan menjadi pendamping diri? Bagaimana jika aku ternyata tidak secantik aku yang terdokumentasi dalam gambar atau foto-foto dunia maya? Apakah kamu akan tetap menjatuhkan pilihan kepadaku? Apakah aku tetap menjadi sebuah kemungkinan yang akan selalu kamu semogakan? Apakah kamu akan tetap meneguhkan langkahmu demi memangkas bentangan jarak itu, seraya tetap bersabar soal lamanya waktu dan menjaga diri sebelum terjadi pertemuan yang kapan pastinya masih menjadi tanda tanya itu?

Ah, lantas, bagaimana jika pertanyaan yang sama ditujukan kepadaku? Bagaimana jika kamu jauh sekali dari sangkaanku selama ini? Bagaimana jika karaktermu jauh sekali dari sesuai dengan karakterku, apakah hari-hari kita nanti harus diwarnai dengan pertengkaran? Bagaimana jika cemburumu terlalu minimalis, sedangkan aku begitu rawan dan mudah tersulut api cemburu? Padahal bukan orang seperti itu yang kuinginkan mampu menjagaku. Ia haruslah memiliki nyala api cemburu yang tiada padam, sebab aku yakin itu adalah sebuah wujud cinta yang teristimewa. Jika yang ada padamu ternyata tidak sepenuhnya memenuhi harapanku, apakah aku akan tetap menjatuhkan pilihan kepadamu? Apakah aku akan tetap setia merapal doa-doa yang kusimpan namamu di dalamnya? Apakah aku akan tetap meyakinkan hati ini untuk bertahan dan memperjuangkan apa yang telah diam-diam kita sepakati?

Mari kita tanya kepada diri sendiri, ketika kita telah terlanjur bersepakat untuk pulang, maka bukankah sudah seharusnya jauh-jauh hari kita telah mempersiapkan diri untuk menjadi rumah? Rumah adalah tempat kembali, tempat berteduh dari hujan dan panas terik matahari, tempat kita bisa leluasa menyandarkan diri dan merebahkan badan yang lelah, pun tempat menyimpan bermacam-macam rahasia yang kita tak ingin orang lain mengetahui. Rumah apa adanya, biasa. Sebab kita bukanlah hamba yang cukup kaya untuk hidup dengan banyak gaya. Hati kitalah yang menentukan untuk memilih syukur atau kufur. Diri kitalah yang akan menentukan nyaman atau tidak, lapang atau tidak.

Ketika kita telah memutuskan untuk pulang dan bersiap menjadi rumah, bersiaplah pula untuk meluaskan kadar penerimaan, tetap memanjangkan kesabaran, menambah jumlah syukur yang tiada berbatas, berhenti melemparkan pandang jika rumput di rumah depanmu lebih hijau—sebab kita sendiri justru tengah merawat rumpun bunga-bunga melati di halaman sendiri.

Bagaimana jika aku tidak seperti sangkaanmu dan kau tidak seperti harapanku? Tidak mengapa. Setidaknya kita telah berlatih membangun rasa penerimaan, jauh sebelum kita bertemu.

Selamat mencari jalan pulang. Jika Ia yang menjadi tempatmu bergantung segala pengharapan dan penuntun segala rindu, aku yakin kau tidak akan tersesat. Sesederhana itu.

Minggu, 29 Januari 2017

Lelaki Pagi dan Perempuan Senja





Seperti dua kapal yang berpapasan sewaktu badai, kita telah bersilang jalan satu sama lain; kita tidak membuat sinyal, kita tidak mengungkapkan sepatah kata pun, kita tidak punya apa pun untuk dikatakan. 
(Oscar Wilde)


Lelaki pagi menikmati menyepi usai subuh menyapa hari, menyaksikan cahaya perak mentari pertama kali. Perempuan senja menyenangi langit yang berubah warna menjadi tembaga sore harinya. Lelaki pagi meletakkan pandangan pada logika yang dibangunnya. Perempuan senja adalah konstelasi perasaan-perasaan yg lembut dan keibuan. Dunia lelaki pagi adalah angka-angka, sementara dunia perempuan senja adalah puisi dan kata-kata. Lelaki pagi adalah manusia tergesa, tak ayal itu membuatnya keras kepala. Perempuan senja adalah manusia melodrama, tak ayal itu membuatnya mudah terluka. Jika lelaki pagi adalah karang terjal di tepi samudra, maka perempuan senja kuntum mawar di bibir jurang. Lelaki pagi menyulam kebahagiaan melalui pertunjukan bola, perempuan senja menyulam kebahagiaan melalui buku-buku sastra. Lelaki pagi gemar mendaki bukit-bukit dan menerabas alam. Perempuan senja mencintai riak ombak dan surya tenggelam di horizon barat.

“Pagi dan senja selalu bersimpang jalan, tak akan pernah berjumpa.” Kata-kata ini memenuhi rongga kepalaku.

“Namun apakah yang mampu menghalangi dua hal dengan jurang beda yang terentang jauhnya, seperti pagi dan senja, jika penghubungnya adalah Sang Pemilik Semesta?” jawab suara lain yg kucari-cari muasalnya. Ternyata sama saja, sama-sama dari nuraniku sendiri.


Rabu, 25 Januari 2017

Jawaban Sebilah Doa




“Dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, wahai tuhanku.”

(Quran Surah Maryam: 4)

Pertengahan tahun 2015, dengan malu-malu saya titipkan secarik kertas di dalam amplop yang saya juduli Doa kepada ibu saya yang malam itu berpamitan untuk berangkat ke Tanah Suci. Susah payah saya sembunyikan air mata dan rasa sesak yang menyeruak. Pertama, was-was akan keselamatan beliau sejak berangkat hingga pulang kembali. Kedua, agak sedih karena harus meninggalkan adik laki-laki saya sendirian di rumah karena saya harus segera kembali ke Depok demi menyelesaikan kuliah semester tiga dan proposal penelitian untuk tesis.

Saya sudah lupa berapa persisnya jumlah daftar keinginan yang saya tuliskan di secarik kertas itu. Lumayan panjang. Sudah bisa ditebak, hal-hal apa saja yang ingin saya raih ketika itu. Sebagai mahasiswi magister yang sudah semester tiga, tentu saja saya galau tentang proposal penelitian untuk tesis. Sempat muram berhari-hari ketika ide yang saya lontarkan tak disukai dosen. Ketika tema sudah disetujui pun, sempat khawatir, jangan-jangan saya disuruh ke Jepang untuk melakukan penelitian lapangan, sementara dananya tidak ada dan jatah pengerjaan tesis itu sendiri tidak lama. Ada resah yang timbul-tenggelam, apa saya sanggup menyelesaikan tesis tepat waktu dan memakai toga untuk kedua kalinya pada Februari 2016?

Daftar doa selanjutnya tentu saja berkaitan dengan hal-hal selain kelulusan; pekerjaan, menikah sebelum berusia 27 (saya begitu random menulis angka ini, padahal hanya Allah yang tahu waktu yang tepat), dan kemudahan untuk menginjakkan kaki ke Tanah Suci pula. Ah, rasa-rasanya, kebanyakan doa saya terlalu duniawi. Terlalu standar. Bahkan, malu saya mengakui jika di daftar doa itu ada pula saya selipkan bahwa saya ingin segera menghirup udara Negeri Sakura. Mengapa saya tidak meminta doa supaya diri ini istikamah, lebih salehah, pandai menjaga diri dan kehormatan sebagai muslimah, diteguhkan dalam beragama, dikuatkan dalam setiap usaha, bersabar di setiap ujian, semakin mencintai surat cinta-Nya, dan tetap berlaku adil terhadap segala ketentuan yang tuhan tetapkan? Dalam perjalanan kembali ke Depok, saya terngiang aneka macam keinginan yang saya titipkan. Ada sesal yang menyelinap diam-diam. Tapi secarik kertas itu sudah terlanjur mengembara ke Saudi Arabia. Pesan saya, “Jangan dibuka sebelum benar-benar sampai di sana ya, Buk.”

Tidak ada ibu yang alpa mendoakan kebaikan untuk anaknya, tentu saja. Namun, saya tahu, prioritas ibu berangkat ke Mekah ketika itu adalah mendoakan adik saya. Terlalu rumit menjabarkan mengapa ia bisa membuat ibu saya seringkali bersedih. Sebagai seorang single fighter, perempuan sepertinya, meskipun serba bisa, tentu tak akan pernah bisa memberikan sosok keteladanan selayaknya seorang ayah. Sedangkan anak laki-laki sudah barang tentu membutuhkan identifikasi ke laki-laki yang bisa ia jadikan panutan pula.

Ruang kosong yang seharusnya diisi perhatian dan kasih sayang itu kemudian menciptakan semacam ‘pemberontakan terpendam’ dan sampah emosi yang semakin menumpuk. Studinya kerap berantakan, jarang belajar, dan aktivitasnya hanya main-main belaka. Setelah lulus Sekolah Menengah Kejuruan, semua tes masuk universitas yang dia jalani semuanya berujung kegagalan. Sempat mogok tak mau daftar kuliah lagi. Padahal ia laki-laki yang kelak harus mampu bertanggung jawab terhadap keluarganya. Mungkin ada perasaan minder pula sebab sejak kecil kerap dibandingkan dengan kakaknya. Maka, ibu mendoakan supaya ia mau bersemangat menuntut ilmu lagi, di mana pun kampusnya.

Hari itu mungkin ia tengah terisak-isak di tengah doanya di tepi Kakbah, atau ketika di Raudhah, atau ketika di Jabal Rahmah. Memohonkan satu demi satu pinta, juga serentetan daftar doa yang saya titipkan dalam selembar kertas itu ketika masih di Tanah Air. Benaknya lantas memunculnya sebentuk bayangan kampus nun jauh di sana, padahal ia belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di sana. Bukan UGM, bukan pula UI—dua kampus besar negeri ini, tempat anak perempuannya melanglang mengais ilmu. Aneh. Apakah itu pertanda?

Selang beberapa bulan setelah kepulangannya dari Tanah Suci, sebuah kabar membuatnya haru. Bagaimana bisa? Anak lelakinya yang dilihatnya nyaris tak pernah belajar, diterima di kampus itu, yang bayangannya terlintas dalam benak ketika ia kusyuk melantunkan doa di tepi Kakbah—padahal belum sekalipun kakinya pernah singgah ke sana. Ajaib. Apalagi doa seorang ibu, mustajab. Lantas, bagaimanalah ia tidak rindu tempat itu lagi? Tempat segala doa terlantun, berpusar, bercampur dengan doa dari segala penjuru, kemudian membumbung ke arasy-Nya. 

Kemudian, adakah satu demi satu pintanya mulai terjawab? Mungkin juga sederetan doa di kertas lusuh yang dititipkan putrinya ketika itu. Doa-doa yang telah ia langitkan, berjatuhan ke bumi laiknya keajaiban demi keajaiban yang menjelma tetesan-tetesan hujan nan sejuk dan menenteramkan.

Selang beberapa bulan setelah doa itu dilantunkan di Raudhah pula, usai mengantar adik saya registrasi di kampus barunya, pesan dari seseorang yang datang di senja itu mengejutkan saya.


“Kamu bersedia taaruf (untuk menikah) sama dia?”


Bahkan saya sudah melupakan itu ada di daftar doa saya urutan nomor berapa. Prioritas saya saat itu adalah fokus mengerjakan tesis, kemudian wisuda. Namun seiring dengan kontemplasi-kontemplasi dalam diri, tawaran itu saya sambut jua. Apa jangan-jangan ini jawaban dari doa ibu saya ketika masih di negeri cahaya? Sangat mungkin. Saya kumpulkan sedompol keyakinan seraya membuang seribu ragu yang masih menyelinap acapkali pikiran saya terbang kepadanya. Belum lama patah hati, namun pesan dari seseorang itu membuat saya bertanya-tanya tentang jawaban dari doa ibu saya. Jika ya, alangkah cepat Allah memberikan penawarnya. Allah Maha Baik. Di tengah galau mengerjakan tesis magister, Ia menghadiahi saya galau yang lain. ^_^

Pengerjaan tesis berjalan lancar, bahkan saya sangat menikmati prosesnya. Sebab saya suka dengan tema yang saya angkat. Apalagi saya kebagian dosen pembimbing yang luar biasa baiknya. Makin bertambah syukur dan yakin saya bahwa Allah senantiasa menjawab doa-doa.

Dua-tiga bulan berlalu. Naskah tesis sudah saya serahkan ke jurusan, tinggal menunggu jadwal sidang. Di sisi lain, ada jadwal yang belum purna, rencana silaturahim keluarga antara saya dengan calon yang belum tahu entah kapan. Jarak yang terentang sedemikian jauhnya membuat semuanya tertunda dan tertunda.

Qadarullah, ujian datang. Ada satu dosen penguji yang tidak setuju tesis saya diluluskan saat itu. Berkat negosiasi dari dosen pembimbing saya, beliau memperkenankan saya merevisi tesis dalam waktu empat hari untuk disidangkan ulang. Lumayan menguras energi pikiran dan perasaan. Selesai. Sidang ulang. Lulus, dengan nilai A minus. Pujian dilontarkan, satu persatu dosen menyalami saya. Alhamdulillah. Jika saya tidak sidang ulang, mungkin nilai saya kurang layak, padahal topik penelitian saya menarik. Setelah purna masa studi dan wisuda pun, Allah masih memberi kesempatan saya untuk tampil di dua simposium internasional.

Qadarullah lagi, tersebab tidak kunjung ada titik temu, proses ‘perkenalan’ itu pun disudahi. Bukan karena kami tak bisa memangkas jarak dan waktu dengan usaha, namun Allah jualah membuktikan keraguan yang sejak dulu berdentang-dentang dalam labirin hati saya. Ragu yang entah kenapa sulit untuk ditepis meski telah berulang kali saya memohon dalam istikharah yang didirikan terbata-bata.

Maka jelas sudah, Dia belum memberikan jawaban itu. Orang tersebut bukanlah jawaban dari doa ibu, maupun doa-doa saya. Seseorang hadir dalam hidup kita tentu juga atas seizin-Nya, untuk menguji keteguhan kita, memberikan hikmah dan pelajaran yang kadang tak bisa kita terka. Oleh karena itu, nilainya tak bisa ditukar dengan berapapun nominal uang yang setara dengan biaya kuliah kita. Sekali lagi, Allah Maha Baik. Tentu saja, sangat mungkin, ada sesuatu yang kurang baik jika saya jadi bersamanya. Selain itu, sangat mungkin, Allah masih menggenggam doa-doa lain, dari seseorang lain yang lebih baik menurut versi-Nya, yang meminta supaya saya masih disendirikan hingga saat ini.

Jarum jam berputar. Waktu berlalu. Undangan yang saya terima di permulaan Ramadan itu, jujur, membuat saya setengah tak percaya, sekaligus takjub. Bagaimana tidak? Beberapa bulan sebelumnya, ketika pertemuan terakhir saya dengan Mbak Dita, senpai saya, curhat mengenai jodoh yang masih gelap itu tak pelak diutarakan juga. Mbak Dita malah menggoda saya yang ketika itu tengah “berproses”, namun belum juga menemui titik temu untuk berlanjut ke tahap selanjutnya (dan kemudian menemui titik kegagalannya sendiri).

Saya masih ingat doa-doa yang didiktekan Bang Ippho Santosa di antara riuhnya jemaah Masjid Ukhuwah Islamiyah UI Depok ketika kami disuruh saling peluk dan mendoakan, doa-doa yang dilafalkan Mbak Dita kepada adiknya ini dengan yakinnya: semoga dimudahkan kelulusannya, Dek. Dimudahkan jodohnya, pekerjaannya... Doa yang standar, tentu saja, bagi mahasiswi dengan usia dua puluh sekian, apalagi yang digalaukan jika bukan lulus, kerja dan jodoh? Begitu pun Mbak Dita, lulus sudah, kerja sudah, tinggal menikah, yang sayangnya, waktu itu masih gelap. Sementara ujian seorang lajang di atas seperempat abad sepertinya tak semakin surut, justru bertambah-tambah.


“Iya, Dek. Proses pernikahanku ini semakin menguatkan keyakinanku akan maha kuasanya Allah dalam menjawab doa-doa. Kita, manusia, tak bisa meneropong masa depan karena masa depan sepenuhnya menjadi hak prerogatif Allah. Tugas kita hanya mengetuk pintu. Bila satu pintu tak terbuka, maka kita coba terus mengetuk pintu lainnya. Adalah hak Allah untuk membuka pintu yang mana. Bisa jadi, justru pintu yang tidak kita ketuklah yang terbuka. Maka, semoga kita tidak lelah untuk mengetuk pintu-pintu itu, kemudian terus berdoa sembari memahatkan keyakinan bahwa pertolongan Allah itu dekat,” ujarnya.


Saya menjadi paham, dan keyakinan saya semakin dalam. Bahwa malaikat sepenuhnya mengamini doa-doa baik dari hamba Allah yang mukmin kepada saudaranya, kemudian malaikat mendoakannya. Siapa sangka, doa yang terijabat itu dikabulkan cepat bagi si pendoa, daripada yang didoakan.

Entah berapa kali doa Mbak Dita yang diaminkan malaikat, mungkin tak cuma satu. Tapi saya pun percaya, doa Mbak Dita untuk saya di masjid itu adalah salah satunya yang naik ke langit dan mengetuk pintu-Nya.

Maka, usai doa-doa, usai kepasrahan sepenuhnya kepada Yang Maha Kuasa, saat kau tak tahu lagi harus berbuat apa dan lari ke mana, usai ingin mengikhlaskan segala sesuatu di belakang, terkadang saat itulah keajaiban demi keajaiban bermunculan tanpa bisa diduga. Bagi siapa saja yang percaya, tentu saja bukan kebetulan.

Ketika itulah kau mulai paham mekanisme kerja sebuah doa; satu momen yang membuat hatimu terhubung ke Sang Maha Segala. Sebab, Ia selalu senang mendengar permohonan hamba-Nya yang menghiba, Ia—Sang Penggenggam Takdir, pemegang kunci yang mengurai setiap permasalahan.

Kita memang tak pernah tahu kapan setiap penggal pinta yang kita lantunkan diam-diam akan turun menjelma jawaban. Entah cepat, entah harus melalui rentang waktu lama yang menyuruh kita untuk tetap memanjangkan sabar. Sebab cepat belum tentu bermakna tepat. Kita juga tak pernah tahu, apakah permohonan itu benar-benar sampai ke singgasana-Nya, atau hanya terantuk dan berhenti di langit-langit rumah kita.

Kita hanya harus selalu percaya, bahwa di setiap udara yang kita temukan, di sana akan kita jumpai Allah yang senantiasa mendengar doa-doa. Kita hanya harus selalu percaya, bahwa doa merupakan bahasa cinta paling puitis dan romantis yang pernah ada. Alangkah menyenangkannya waktu tunggu kita jika selalu diiringi yakin, bahwa Allah tak akan pernah sekali-kali mengecewakan kita dengan tiada memberi jawaban atas segala rahasia dalam bentangan takdir kehidupan kita.