Selasa, 17 Maret 2015

Catatan untuk Sang Mawar





Hari itu ada salah satu akhwat—anggota grup ODOJ kami yang mengirimkan sebuah voice note. Isinya tausyiah, bukan suara random karena salah pencet seperti yang biasa terjadi di grup Whatsapp. Tidak ada keterangan, siapa ustaz yang berbicara di voice note itu—seolah itu rekaman siarannya di radio yang sudah mengalami beberapa kali potong, dan hanya menyisakan konten tausyiahnya. Kisah yang ia bawakan konon luar biasa, ia telah menuliskannya secara berulang di dua buku karyanya. Maka, mulailah ia bercerita.

“Saya jadi ingat kejadian waktu tahun 1998. Waktu itu saya sedang mengisi sebuah training motivasi di kota Bogor, pesertanya waktu itu adalah anak-anak SMA kelas satu dan kelas dua, sampai kemudian saya kasih mereka selembar kertas ukuran A4, dan saya meminta mereka menggambar sebuah gambar—yang gambar itu bisa menjelaskan tentang siapa mereka, apapun yang mereka maksud tentang dirinya. Kalau ada yang mengertinya cita-cita, gambarlah cita-cita, kalau ada yang mengertinya keadaan diri dan keluarganya sekarang, gambarkan itu. Semua menggambar. Karena pesertanya anak-anak SMA, nggak ada yang serius gambarnya, semua bercanda, ada yang gambar inilah-itulah.

Sampai kemudian, ada seorang perempuan namanya Ummu, waktu itu ia masih kelas satu SMA. Dia menggambar sesuatu yang berbeda, dia menggambar mawar, ada duri-durinya, kemudian di belakangnya ada background warnanya gelap, hitam. Kemudian saya tanya, “Kamu menggambar apa?” Dia bilang, “Saya menggambar mawar berduri.” Saya tanya lagi, “Apa maksudnya?” Dia bilang, “Mawar itu sempurna karena ada durinya. Mawar itu sempurna justru karena punya duri. Namun, banyak orang bilang, duri pada mawar itu mengganggu keindahan mawar, merusak keindahan mawar, mengganggu mawar. Padahal justru duri itulah yang membuat mawar dikatakan mawar. Duri itulah yang membuat mawar dikatakan sempurna. Kemudian saya tanya, “Lantas apa hubungannya dengan kamu?” Lalu dia bilang, “Saya gambarkan diri saya, perempuan, seperti mawar, dan duri itu adalah aturan Tuhan bagi setiap perempuan, aturan Tuhan bagi setiap wanita. Seperti duri pada mawar, banyak orang bilang, aturan Allah bagi setiap perempuan itu merusak keindahan perempuan, membuat perempuan susah gaul, susah kerja, susah beraktivitas. Padahal seperti duri pada mawar, aturan itu juga yang membuat wanita dikatakan wanita. Maka dia katakan, saya mawar berduri, saya wanita dengan apa yang Tuhan mau untuk saya akan saya lakukan, dengan apa yang Tuhan mau untuk saya kenakan akan saya kenakan, apa yang Tuhan mau untuk saya rasakan akan saya rasakan, apa yang Tuhan  mau untuk saya katakan akan saya katakan. Maka saya mawar berduri, saya perempuan dengan apa yang Tuhan mau, Tuhan mau, Tuhan mau ada pada diri saya.”

Waktu itu seluruh suasana di ruangan itu, 200 orang mungkin pesertanya, terdiam, karena ternyata ada satu orang yang serius di antara puluhan orang yang sudah maju sebelumnya, dan tidak ada yang serius. Kemudian saya tanya lagi, “Lalu, kenapa di belakangnya dikasih warna gelap, hitam? Kan bisa pilih warna hijau, kuning, biru, merah, atau yang lainnya. Kenapa dikasih warna gelap?”
Lalu dia bilang begini, “Saya tidak mau jadi mawar berduri di tengah taman. Kalau saya jadi mawar berduri di tengah taman, gampang bagi orang untuk memetik saya, mudah untuk memetik saya. Hanya ada denda 50.000 atau 2 bulan kurungan, lalu orang memetik saya dengan sangat mudah. Saya tidak mau seperti itu. Saya ingin jadi mawar berduri di tepi jurang, makanya saya beri warna gelap di belakangnya.

“Maksudnya apa?” Dia bilang, “Saya ingin jadi mawar berduri di tepi jurang. Karena suatu saat nanti, saya yakin, kalau kelak ada laki-laki yang akan memetik saya, dia pasti laki-laki yang paling berani mengorbankan nyawanya untuk saya. Resikonya besar di tepi jurang, nyawa, bukan denda, bukan sekadar kurungan beberapa bulan.”

Luar biasa. Waktu itu semua tepuk tangan. Terkagum-kagum dengan pemikiran anak kelas satu SMA ini. Lalu, beberapa tahun kemudian, saya dengar informasi, anak ini biasa saja. Dia bukan dari keluarga kaya, dia orangnya sederhana, bahkan dia punya penyakit jantung. Dibilang cantik juga tidak cantik-cantik amat seperti bintang sinetron. Biasa saja. Penampilan, semua biasa saja. Keluarga biasa, ekonomi biasa. Tapi beberapa tahun kemudian, ia lulus diterima PMDK kuliah di Fakultas Kedokteran UI. Sekarang dia sudah berkeluarga, sudah punya anak, sudah berhasil menjadi dokter spesialis di Depok.

Dia menjadi indah, karena dia tidak pernah memburukkan gambarnya. Kalau orang bertanya tentang siapa dia, dia jawab yang indah karena ia yakin Allah akan bantu mengindahkan masa depannya. Kalau orang bertanya tentang cita-citanya, maka ia akan katakan yang terbaik, karena ia yakin apapun keadaannya hari ini, Allah akan bantu mengindahkan cita-citanya di masa depan. Seseorang menjadi besar, karena ia tidak pernah merasa kecil. Karena ia memiliki Allah yang Maha, Maha segala, lantas mengapa kita harus merasa kecil?

Allahu Rabbi... Analogi itu sudah sering saya dengar. Namun, entah kenapa, mendengar cerita itu, naluri keperempuanan saya terusik, kemudian ada bulir bening yang tiba-tiba jatuh. Ada luapan keterharuan yang mendadak muncul. Ada pula sedih yang tiba-tiba mengusik. Betapa diri ini belum pernah berani untuk bertekad menjadi ‘istimewa’ seperti dirinya, namun selalu mengandaikan diri menjadi salah satu wanita yang dirindu surga-Nya sekaligus bidadari dunia. Tak pernah menyadari jika itu semua seolah masih jauh panggang dari api. Saya teringat forum “lingkaran cinta” kami beberapa tahun yang lalu, ada permainan mirip seperti yang dikisahkan di atas. Kami semua menggambar. Saya justru menggambar sekumpulan bunga sakura. Saya bilang, mungkin seperti itu pulalah saya, yang cantik namun rapuh dan mudah luruh. Terlebih ketika musim semi telah memasuki masa penghujungnya. Ia gugur tertiup angin dan meninggalkan dahan-dahan meranggas. Ia simbol sebuah kefanaan, namun kemunculannya yang hanya setahun sekali sangat dinanti di seluruh penjuru negeri. Sakura istimewa, namun ia jamak, pasaran. Ia tumbuh, menguncup, dan mekar di tengah-tengah taman, bukan di tepi jurang.  

Lantas, saya teringat coretan puisi yang saya tulis bertahun-tahun silam demi mengisi kolom buletin muslimah di rohis kampus:

Jika harus kupakai benda-benda di semesta ini untuk menggambarkanmu, entah apa lagi—seperti kehabisan kata, sementara tinta begitu ingin menuliskannya.
Seumpama mawar merah yang siap merekah, indah. Menguarkan semerbak cintamu ke segala penjuru.
Seperti mutiara dalam cangkang kerang di dasar lautan, berkilau, dan tak sembarang orang bisa mendapatkanmu.
Bak melati putih nan suci, tatkala resapan embun pagi di pucuk kelopakmu belum beranjak pergi.
Atau, jika kau menyeberang ke negeri bermusim semi, akan kau dapati kuntum-kuntum merah muda yang mekar bersama. Seperti dirimu jua, “mekar” bersama mewarnai dunia.
Aih, kau juga seperti siluet senja di horison barat ketika sang surya bersiap tenggelam ke peraduan, menyemburatkan jingga-keemasan ke langit dan mega-mega dengan indahnya.
Laiknya kupu-kupu yang bermetamorfosa. Menjadi lebih indah dari hari ke hari.
Bagaikan sinar lembut mentari yang beradu dengan rinai gerimis yang riang, mencipta pelangi dengan spektrum berwarna-warni.
Cantik rupawan yang tak terkatakan.
Sebab kau tunduk dalam syariat-Nya, ridho atas takdir-Nya, tersenyum dalam musibah, tegar dalam ujian, teguh dalam pendirian.
Itulah engkau.
Muslimah sejati yang dicemburui para bidadari surgawi.

Adalah sebuah kenaifan, menginginkan menjadi satu di antara sekian banyak yang ‘istimewa’, namun masih bersuka-cita menjadi yang ‘biasa-biasa’ saja. Analoginya bukan lagi mawar di tepi jurang dan curam, namun mawar di antara banyak mawar di taman kota. Bagaimanalah membuat bidadari cemburu? Ingin menjadi yang istimewa, namun sifat naif membawa kita untuk tidak mau susah-payah menjaga. Lihatlah, berapa banyak orang yang menikmati cantiknya parasmu di jejaring sosial dan dunia maya? Berkacalah, betapa interaksimu dengan bukan mahram telah mengaburkan nuranimu dan perlahan menggoda hatimu menyemai bibit-bibit rindu yang seharusnya tak perlu. Bukankah mutiara tak akan pernah terlihat kilaunya, kecuali jika ada manusia pemberani yang mengambilnya dari cangkang kerang di dasar lautan. Nilainya menjadi sangat mahal karena ia ‘terjaga’. Seperti itu memang seharusnya, ‘menjaga’ hanya untuk yang berhak menerima mahalmu, sebaik-baik perhiasan dunia.

Ah, ‘menjaga’ memang bukan pekerjaan sederhana. Karena itulah hadiahnya surga.

“Sesungguhnya, dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita salehah.” –HR. Muslim
Posting Komentar