Selasa, 12 Maret 2013

"Udah, Putusin Ajah!"




“Assalamualaikum, Ukhti. Sedang apa?”
Sapaan di suatu malam bertahun-tahun silam yang seringkali mampir di kotak pesan ponsel saya. Sialnya, hal itu membuat siswi putih abu-abu macam saya jadi addicted. Merasa kurang ketika sehari saja tak ada sapaannya, merasa kurang ketika tak ada kalimat sederhana darinya meskipun sekadar menanyakan “sudah tidur atau belum” atau “sudah bangun dan salat subuh atau belum”. Kemudian dari sapaan sederhana, obrolan kemudian mengular ke mana-mana, meskipun dunia kami berbeda. Saya masih SMA, dia sudah mahasiswa. Lantas, dia menjanjikan sesuatu. Tak dapat dipungkiri, tentu saja saya berbunga-bunga. Sel abu-abu di benak saya meresponnya dengan sigap. Berlembar-lembar sajak, cerpen, dan muntahan di buku diari menjadi saksi mati betapa virus jambu merah tengah mendera saya ketika itu. Anak ingusan dan masih belum lulus SMA, galau. Dimotivasi, diperhatikan, disanjung oleh lelaki yang jauh lebih dewasa, sopan, alim. Apalagi?
Syukron bukunya ya, Ukh. ‘Afwan pinjamnya lama. Anti nggak pa-pa, kan?”
(bermula dari pinjam-meminjam buku, bertukar syair, lama-lama pinjam-meminjam hati. Astaghfirullahal’adziim..)
**

Apa bedanya sama pacaran?
Saya terantuk pada pertanyaan itu. Ya, apa bedanya kami dengan orang-orang lain yang berpacaran dengan saling memanggil “Sayang”? Saya memang belum pernah berpacaran, dan tidak ingin kecuali setelah menikah. Dan dia tentu juga sudah paham batasan-batasan. But why? Nafsu mengaburkan logika. Ada seribu satu macam alasan untuk membenarkan nafsu.
Lantas waktu memisahkan saya dengan interaksi tak sehat itu. Saya sudah cukup matang untuk memahami arti sebuah silaturahmi. Saya sudah cukup bisa untuk melakukan tindakan tegas; putuskan atau nikahi (ya sudah, karena saya masih imut-imut dan belum waktunya untuk dinikahi, good bye aja dah). Saya sudah cukup dewasa untuk bisa ditipu oleh ikhwan jadi-jadian yang mengatasnamakan silaturahmi demi menjalin khalwat dengan akhwat, dibubuhi dengan konten Islami, potongan-potongan kosakata Arabic khas anak Rohis yang membuat perbincangan jadi manis, and the bla and the bla… tetapi mengajak ke bibir neraka dengan SMS-SMS mesra, ucapan-ucapan hangat dengan kata-kata nyastra. Aih-aih…
  Mentertawakan kejaliahan diri sendiri di masa lampau seolah menjadi stimulan untuk bermetamorfosa lebih indah dari hari ke hari. Ibarat kupu-kupu yang harus bertapa sebelum lahir ke dunia dengan sayap indahnya, mutiara pun ditempa dalam cangkang kerang yang tersembunyi di dasar lautan, mawar menjaga keindahan kuntum-kuntumnya dengan duri yang menajam, maka membuat bidadari surgawi cemburu pun tak serta-merta. Ayolah, bisa! Sama SMS-SMS gitu aja cemen. Bolehlah membuat puisi yang serupa, namun disimpan dulu saja buat seorang yang nanti sudah jelas keabsahannya sebagai pendamping hidupmu. #uhuukk!
Kemudian saya jadi sangat anti sekali dengan kata satu itu: pacaran. Heran dan tak habis pikir dengan muda-mudi yang sangat enjoy tanpa rasa bersalah melakoninya sebelum dihalalkan. Lebih heran lagi ketika curhatan-curhatan tentang pacar dan lika-liku hubungan itu mengalir di depan saya. Pacarku jalan sama cewek lain, apa dia tidak memikirkan perasaanku? Ya Rabbi, ingin tertawa, tetapi kasihan juga. Lagipula, siapa yang suruh pacaran, Mbak? Nggak nurut aturan Allah sih. Jadinya situ sendiri yang repot. Aneh.
Paling aneh lagi ketika kalimat satu ini dilontarkan, “Pacarku itu agamanya lebih bagus daripada aku. Dia saleh, rajin salat.” #tepokjidat. Kalau dia agamanya bagus, nggak mungkin dia ngajak kamu pacaran sebelum dihalalkan. Kalau dia memang menyayangi kamu, dia tidak akan menyeretmu ke jurang maksiat. Dia akan dengan tegas meninggalkan kamu, tidak akan sok memberi harapan palsu, dan jika memang serius dia akan datang nanti di suatu waktu yang sudah pasti kepada orang tuamu untuk melamarmu.
“Li, aku ingin putus dengan pacarku,” keluh-kesahnya kepada saya ketika itu berujung pada kalimat tersebut. Saya mengucap syukur diam-diam. “Ya sudah, tunggu apa lagi,” jawab saya. Saya pinjamkan buku-buku Islam yang memuat tentang cinta dan pernak-perniknya kepadanya. Semoga ia semakin mantap untuk berhijrah. Saya sangat yakin dia akan paham dengan isi buku itu. Dia tipikal mahasiswi cerdas yang aktif di kelas. Tak perlulah saya mengobrol panjang-lebar lagi tentang pacaran dalam Islam dan lain-lainnya.
Ah ya, beberapa waktu kemudian ia menunjukkan sebuah kalung berbandul huruf hijaiah “Allah”, kemilau, luxury. “Ini dari cowokku,” ujarnya tanpa tedeng aling-aling. Ponselnya sibuk berdenyut, padahal jam kuliah masih belum habis. Tentu saja, pacarnya yang merecoki.  
Miris dan ingin menangis. Saya kecewa pangkat sekian juta. Kemarin-kemarin harapan bahwa ia akan sepenuhnya berubah mekar begitu saja. Namun, di mana letak malu itu ketika ia jujur mengatakan masih bersama sang pacar, padahal dulu ingin memutuskan? Ada seribu satu alasan untuk membenarkan nafsu.
**
“Li, ingatkan aku jika kau lihat aku mulai menyimpang ya,” pintanya menghiba. Dia sahabat saya yang lain lagi. Saya mengangguk. Berjanji. Dia miris dengan teman dekatnya yang mulai terlibat pacaran, padahal di sisi lain si teman ini juga menjadi mentor bagi adik-adik angkatan. Serasa langsung tertampar QS As-Shaff di permulaan surah: kabura maqtan ‘indallahi antaqulu ma laa taf’aluun.
Selang beberapa waktu, tak dinyana ia mulai berubah. Intensitas pertemuannya dengan sang murrabiyah juga semakin jarang, hingga tak pernah lagi. Dan saya harus menemui segepok kenyataan pahit: dia pacaran. Rasa bersalah yang berlipat-lipat melingkupi saya, ke mana saya ketika dia futur dan butuh teman sharing? Sesibuk apakah saya hingga saya alpa akan keadaannya, masih istiqomah atau mulai goyah? Dia paham. Tentu saja dia paham batasan-batasan. Rabbi, lagi-lagi di balik itu ada seribu satu alasan untuk membenarkan nafsu.
**
“Mbak, bagaimana menurut Mbak, jika ada seorang hafiz Quran yang tak diragukan lagi pengetahuan agamanya, namun berani mengirimkan harapan-harapan kepada akhwat yang bukan sesiapanya. Masihkah dia bisa disebut saleh, Mbak?”

Duhai, kasus apa lagi ini? Ingatan saya lantas menerawang ke masa silam, ketika diri ini masih jahiliyah dan terbius oleh interaksi tak penting. Saya ucapkan kepadanya, “Bukankah kita sudah sama-sama tahu, Adinda. Orang saleh yang paham agama, berikrar mencintai Allah dan rasul-Nya tak akan berani berbuat sesuatu yang menyalahi aturan-Nya.” Ah, jangan-jangan hafalannya cuma nyangkut di tenggorokan saja, tidak meresap sampai ke hati... Duhai hati, masih Allah yang nomor satu kan?
 Perempuan mana yang tidak mendambakan lelaki saleh sebagai imamnya kelak? Tidak ada. Bahkan perempuan awam belum berjilbab, atau jilbabnya masih belum syar’i pun bercita-cita sama dengan kita, yang sudah tercitrakan sebagai akhwat salehah berjilbab lebar, Adinda. Nah, apa yang bisa kita pelajari dari lelaki ‘saleh’ yang masih takut dan pengecut mengkhitbahmu hingga ia berikan perhatian demi perhatian dan harapan-harapan palsu untuk masa depan kalian. Tidak malukah kita, jari-jemari kita senantiasa memegang mushaf Alquran, namun dengannya juga kita ber-SMS dengan lelaki bukan mahram tentang perkara yang sia-sia.

Perempuan mana yang tidak mengharapkan lelaki saleh sebagai pendampingnya kelak? Tidak ada. Bahkan yang sekarang menjalin pacaran pun menginginkan hal yang serupa. Namun apa yang bisa kita tuai dari hubungan mudharat semacam itu selain dosa dan sakit hati? Ya Muqallibal Quluub, tsabbit qalbi 'ala diinik... Jika dia memang saleh, tentu dia tidak salah untukmu. UDAH, PUTUSIN (NIKAHIN) AJAH! ^_^




[di tengah alunan Tashiru--Maaf untuk Berpisah]



Posting Komentar