Jumat, 15 Februari 2013

Jilbabku, Jilbabmu, Jilbab Kita!



Kerudung Biruku
Aku janji,
Tak akan membiarkanmu
Terenggut dariku
Kelak, jika ibu berpesan padaku,
“Jaga dirimu.”
Cukuplah engkau dan Allah
Sebagai penjagaku
(kutipan salah satu puisi saya, 2009)

Selembar kain penutup kepala ternyata membawa big issues dalam kehidupan seorang perempuan, khususnya muslimah.

“Baju muslimnya dipakai dong, Nak. Masa mau silaturahmi ke tetangga pakaiannya kayak gitu!” Ucap Mommy kesal kepadaku.
“Ogah ah! Bajunya norak, aku enggak suka. Pas pondok Ramadhan di sekolah kemarin kan udah pake yang itu. Masa lebaran mau dipake lagi?! Mommy sih, nggak beliin aku baju baru. Gaun kek, atau apalah yang pantes buat aku. Pokoknya aku nggak mau silaturahmi kalau disuruh pake baju yang itu. Aku mau pulang, ganti baju.”
“Mana yang mau kamu pake?”
“Yang ini nih!” ucapku sambil menunjuk sebuah gaun merah you can see kesayanganku.
Mommy mendesah sambil geleng-geleng kepala.
“Ah, ya sudahlah! Terserah!” Mommy akhirnya mengalah.

Itulah diriku kira-kira duabelas tahun lalu. Masih kecil. Masih terlalu imut dan polos. Masih mengenyam pendidikan di bangku Madrasah Ibtidaiyah. Kini aku geli, malu dengan diriku yang begitu norak saat itu. Bayangkan, tidak sepatutnya memakai pakaian seperti itu di saat kita harus bertamu. Tapi, aku percaya bahwa orang-orang tua maklum adanya dengan aku yang masih kecil.
Kendati bersekolah di sebuah sekolah Islam yang cukup unggulan di daerahku, tapi aku tak mau sekalipun memakai jilbab. Memang, sekolahku tak menganjurkan siswinya memakai jilbab. Seragam kami seperti seragam SD pada umumnya, hanya berbeda warna. Warna kebangsaan MI adalah putih-hijau untuk Senin-Selasa, dan putih-biru untuk Rabu-Kamis. Jika ada yang memakai jilbab, itu pun bisa dihitung dengan jari. Dengan kata lain, memakai jilbab hanyalah sebuah sunnah.
Mungkin, bawaan dari kultur MI-ku itulah aku jadi tak suka memakai busana muslim. Gerah. Apalagi, sebuah suara di dalam hati membisikiku bahwa aku jadi kurang cantik kalau harus dijilbabi. Jadi, say no to wear a veil!


Ah ya, jika teringat masa awal-awal memakai jilbab dulu, diri ini sering dilanda rasa geli, entah malu, entah ingin meracau betapa jahiliyah-nya aku dulu. Aku terbilang terlambat menutup aurat, yaitu setelah tiga tahun aku dinobatkan menjadi muslimah baligh. Kelas satu SMA. Mulai ke sekolah memakai seragam serba panjang, kalau dolan juga—meski cara menutup auratku masih sederhana. Jilbab diikat di leher, pakai celana, bajunya masih ketat, nggak pernah pakai kaos kaki. Terkadang, keluar rumah seadanya, tanpa jilbab, gara-gara males ganti baju, beladiri sepekan sekali bercampur dengan laki-laki. Meski statusku ketika itu sudah anak rohis, sudah tahu pula perintah Allah untuk kaum wanita. Ah, kalian tentu juga sudah hapal, Al-Ahzab:59. (tak perlu kutulis di sini kan? Kalau lupa, cari sendiri di Al-Quran noh!)

Dunia SMA memberikan kesan yang berbeda untukku. Teman-temanku sesama jilbaber banyak—meski model jilbab mereka beda-beda. Tak seperti jaman SMP dulu, seangkatanku yang pakai jilbab cuma dua orang. Aku tahu, mereka juga seperti aku, sedang berproses. Berjilbab tidak serta-merta membuat semua jiwa-raga menjadi seputih malaikat. Dan proses itu tidaklah seinstan membikin mie instan. Kemudian, banyak teman-temanku yang semula tidak berjilbab, rela membuat seragam sekolah baru: seragam muslimah. Hidayah itu memang milik-Nya. Meski aku lebih dulu berjilbab, bukan berarti aku lebih baik dari mereka. Core-nya terletak pada konsistensi—bagaimana mempertahankan hidayah yang sudah jatuh itu supaya tidak lari. Memang susah. Susaaaaahhh. Karena syetan nggak akan tinggal diam, sodari-sodari! Pun aku yang ketika itu masih tertatih mengistiqamahkan diri. Aku mulai jadi anak rohis, mulai membatasi diri dengan laki-laki, mulai giat ngaji dan baca-baca buku bernuansa islami. Semata-mata karena Allah dan sehela kain yang kupakai di kepala ini. Sebab, mau tidak mau, orang-orang tentu menganggapku sosok religius yang diharapkan memberi contoh bagi lingkungan sekitar. Tentulah aku tak mau dianggap tidak selaras antara cover dan isi. Luarnya aja pake jilbab, kelakuannya.. hm, sama aja kayak yang lainnya! Uh, nehi-nehi! Jangan sampai! Sekali lagi, aku pakai jilbab karena tahu dasarnya, karena hukumnya yang wajib. Jangan ngaku muslimah kalau belum menutup aurat ya. Setuju?
Seiring berbaurnya aku dengan berbagai macam orang dengan karakter yang berbeda-beda, interpretasiku tentang jilbab di mata kaum hawa ternyata tidak semuanya sama. Ada yang berjilbab tapi masih enjoy pacaran (tapi dalam konteks belum nikah). Plis deh, hari giniii... >_< saya sudah kehabisan kata-kata menjelaskannya. Bahkan saya sudah eneg (baca: bosan) dengan peringatan Allah tentang salah satu dosa besar yang paling dibenci-Nya: zina. Dan pacaran itu sudah pasti mendekati zina. So? Kok ya masih bejibun manusia-manusia yang abai dengan kalimat Allah tersebut. Kalau kita kembalikan ke Al-Ahzab:59, “...yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal karena itu mereka tidak diganggu..” maksudnya tidak diganggu ini sudah jelas, nggak diganggu sama mata-mata lelaki yang lemah iman (bahkan yang sudah hanif saja masih tergoda, apalagi yang lemah iman ya? Mengerikan. Inget hadis Rasulullah bahwa fitnah terbesar bagi laki-laki adalah fitnah perempuan, kan?). Nah, kalau sudah pacaran, di mana letak fungsi jilbab yang seharusnya ‘melindungimu’ biar kamu tidak diganggu itu? Naudzubillah... Kalau si jilbab bisa bicara, pasti ia akan mengadu sambil menangis: “Huaaaa... aku dilecehkan. Ya Rabb, aku cuma dianggap sehelai kain kompensasi fashion masa kini. Kadang dipakai, kadang dicampakkan. Apakah aku yang Kau perintahkan sebagai hijab makhluk-Mu bernama wanita ini terlalu hina-dina?”
Alhaya’u minal iman. Malu adalah sebagian dari iman, teman-teman. Tak malukah engkau jika jilbabmu dicap begini dan begitu? Nah, kata Rasulullah, jika sudah tak punya malu, berbuatlah sekehendakmu. Tapi Allah mengkaruniakan kita rasa malu, dan malu itu merupakan bagian dari iman islam kita.
Hadis Arba’in nomor satu, tahu? Inna mal a’malu binniyat. Amalan itu tergantung niat. Berjilbab karena apakah? Bisa jadi itu yang melatarbelakangi perbuatan-perbuatan kita selanjutnya. Karena tahu bahwa ini fardhu ‘ain, karena permintaan pacar, karena tuntutan lembaga, karena dipaksa orangtua, karena ingin mengikuti tren, atau karena apa...?
Alhamdulillah, di era sekarang ini mudah sekali kita temui jilbab berkibar di mana-mana, kepala-kepala yang sudah tertutup kerudung dengan baju panjang. Itu tidak lepas dari perjuangan muslimah-muslimah Indonesia di era 80an-90an dulu. Dulu jilbab dilarang keras, Sist! Lucu ya, padahal Indonesia ini adalah negeri dengan pemeluk agama Islam terbesar di dunia. Muslimah-muslimah Indonesia di jaman itu bela-belain pakai jilbab sembunyi-sembunyi, pakai kain seadanya, asal syar’i.
Sekarang, ketika kita sudah dikaruniai kenikmatan kebebasan memakai busana muslimah (bahkan toko dan gerai jilbab menjamur di mana-mana), mengapa oh mengapa... malah justru menyimpang dari kaidah berjilbab yang seharusnya? Ada kisah tentang jilbab saringan tahu (itu lho, kain tuiiipiiis yang nerawang plus supermurah harganya, yang kalau dipakai, orang masih bisa melihat rambutmu, kuncirmu, anting-antingmu, tengkukmu.. whoaaa... jilbaban apa jilbaban, Mbakyu?).
Ada pula yang pakai kerudung, tapiiiii.... rambutnya digelung ke atas, jadi keliatan menonjol kayak punuk onta. Well, Rasulullah sudah kasih peringatan begini:
“Akan muncul di akhir umatku, wanita-wanita yang berpakaian namun pada hakikatnya telanjang. Di atas kepala mereka terdapat sesuatu penaka punuk unta, mereka tidak akan memasuki surga, dan tidak juga akan mencium aroma surga. Padahal bau surga itu dapat dicium dari jarak sekian dan sekian.” (HR Muslim)
Belakangan, mucul tren jilbab baru, dengan tampilan yang eye catching, nggak monoton, warna-warni, cantik deh pokoknya kalau dipakai. Ada juga baju model syahrini yang gemerlap di sana-sini. Tapi eits, teteup hati-hati, mata-mata yang lemah iman-lemah godaan masih melirik kesana-kemari. Iya sih, berkerudung, tapi disampirkan di pundak, tidak dijulurkan ke dada, malah menonjolkan apa yang seharusnya ditutupi. Aduh, aku kok malah kasihan kaum laki-laki, banyak godaan di sana-sini. Jangan takut digoda, justru takutlah jika dirimu menggoda. Kau sudah menutup tubuhmu, tapi membuat mereka masih juga tak tahan untuk tidak memandangmu? Weeehhh, syetan akan pongah tertawa selebar-lebarnya kalau begitu.

So, yuk, simak lagi kaidah berpakaian syar’i. Baju yang longgar, nggak sempit—kalo sempit kan nyiksa tubuh juga toh? (bukan baju adek yang dipake). Bukan pakaian tabarruj, kainnya tebal (bukan saringan tahu yang tipis itu. Pengen beli tapi lagi tongpes? Nabung!), tidak menyerupai pakaian laki-laki (jadi inget, sekarang lagi jamannya tren ber-legging-ria, bahkan yang berkerudung pun berlegging. Be careful, legging sama dengan ganti warna kulit doang, belum pake bawahan. Hayo lho, malu dong belum pake bawahan. ihihi… :p. Jadi gimana? Biar aman, pake rok aja, kan cantik, ukhti ^__^), bukan merupakan libasuh-syuhrah (pakaian untuk popularitas), tidak menyerupai pakaian orang kafir (kayak wedding dress orang-orang Eropa non-muslim yang ekornya panjaaaaanggg, sampe butuh beberapa orang buat mengangkat bajunya. We have our own style, right?)

Ketika mendapati bahwa diri ini menjadi satu berbanding buanyaaakkk.... maksudku, style pakaian muslimah yang aku kenakan cenderung tak lazim bagi mayoritas orang, membuatku kadang tertegun, miris, menangis, ingin berontak. Bahwa di dunia ini masih saja keburukan dianggap biasa, sementara kebaikan dianggap aneh. Tentu saja, coba katakan, mana yang aneh; miss universe yang super-buka-bukaan itu apakah orang bercadar hitam-hitam? Miss universe disanjung-dipuja, sementara muslimah bercadar dicap teroris, ninja. Begitu pun saya. Memang susah, menerapkan perintah-Nya tidak lepas dari aral melintang serta onak dan duri. Jalan ke surga memang nggak semulus jalan ringroad, sob!
“Bajumu itu lapis berapa? Nggak boros sabun ya kalau nyuci? Emang nggak gerah apa, panas-panas begini?”
Serenteng pertanyaan yang seringkali kudapatkan dari seorang kawan. Gerah? Kagak, yang penting hati tetep sejuuukkk.... ^_^
“Jilbabmu norak! Kedodoran, nggak pantes!”
Yeeh, biarin aje, mau ada anjing menggonggong kek, serigala melolong, atau kucing mengeong, muslimah tetep berlalu. Norak kan di mata elo, yang penting gue tetep bidadari di mata Allah. Mau jadi bidadari juga? Sok atuh...
Tanggal 14 Februari lalu dinobatkan sebagai Hari Berjilbab Internasional, di mana muslimah-muslimah sedunia memperjuangkan gerakan memakai jilbab. Ini nggak ‘maksa’ lho ya. Tapi mengajak, menyeru, memperlihatkan kepada dunia, betapa nyamannya hidup dengan berhijab. Berhijab yang syar’i tentunya. Analoginya gampang aja kan, mau diibaratkan permen atau baju? Permen emang manis, tapi kalau nggak dibungkus... berapa ekor lalat dan semut yang akan ‘meracuni’ permen itu? Permen ibarat kita. Baju obralan atau baju di etalase yang mahal? Mana yang berpotensi di-emek-emek orang lebih banyak (padahal belum tentu beli)? Baju juga ibarat kita. Pasti kita juga sudah akrab dengan tulisan “Don’t accept if the seal is broken” di botol-botol minuman. Artinya, jika tutupnya aja rusak, bisa dipastikan dalamnya udah nggak bagus. Apalagi yang tidak bertutup?

Tanggal 14 Februari, di saat warna pink dan ikatan tak halal dibudayakan dan merajalela—seakan membius kaum muda dalam perjuangan cinta yang semu dan abu-abu. Kita, muslimah seluruh dunia berteguh hati dengan semarak jilbabnya, nyaman dan teduh dalam balutan busana muslimah, memperjuangkan cinta dan ridha Illahi.
Sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah. Bukan emas, perak, berlian, intan, permata, uang, atau materi yang lain. Tetapi engkau, yang shalihah. Yang tidak menampakkan perhiasannya kecuali kepada mahramnya. Bidadari surga pun cemburu kepadamu. Aduhai…
Eh, bidadari cemburu sama kita? Emang bisa?

Aku bertanya, “Ya Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari bermata jeli?”
Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari seperti kelebihan apa yang nampak dari apa yang tidak terlihat.”
Aku bertanya, “Mengapa wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari?”
Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakainnya berwarna hijau, perhiasannya kekuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati. Kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali. Kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali. kami ridha dan tak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.’” (HR Ath-Thabrani, dari Ummu Salamah)

Gimana? Mau dicemburi para bidadari syurga? Caranya, bukan dengan tepe-tepe alias tebar pesona fisik, tentunya. But, menshalihahkan diri dari hari ke hari, ibarat larva buruk rupa yang kelak akan menjadi kupu-kupu cantik jelita. Metamorfosa, begitulah istilahnya.
Kita patut berbangga hati menjadi muslimah. Ketika perempuan-perempuan di masa jahiliyah Makkah dianggap najis, menjijikkan, pemuas nafsu syahwat, bayi-bayi perempuan dibunuh, di Yunani wanita-wanitanya dipenjara dan dianggap pelacur, di Romawi disiksa, di Cina diperjualbelikan sebagai budak, peradaban Hammurabi menganggap wanita sama dengan hewan, orang Yahudi mensejajarkan wanita dengan pembantu, wanita-wanita Hindu harus rela mati dikremasi bersama suaminya.... Islam begitu memuliakan kedudukan kita (bukan feminisme loh ya!), Ia dudukkan mereka sejajar denga pria untuk berdiskusi, saling mengingatkan, saling memberi wasiat tentang kebenaran, kesabaran dan kasih sayang (Ust. Salim A. Fillah-Agar Bidadari Cemburu Padamu).

Bukan dari tulang ubun dia dicipta
Sebab berbahaya membiarkannya dalam sanjung dan puja
Tak juga dari tulang kaki
Karena nista menjadikannya diinjak dan diperbudak

Tetapi dari rusuk kiri
Dekat ke hati untuk dicintai
Dekat ke tangan untuk dilindungi

Subhanallah, indah ya syairnya... Bikin melambung! Ah, jangan dulu melambung lah, mari bersiap-siap ke medan jihad, eh berjihad—di mana aja boleh, nggak cuma di Palestina atau Irak atau Amerika, berjihad kepada dirimu sendiri, di mana engkau harus berperang melawan hawa nafsu. Biarkan rayuan berjilbab (yang syar’i) sukses menggodamu (ini tagline di sebuah web. Hehe^___^)
 Jika sudah begitu, nggak bakal ragu, bersama-sama ke jannah-Nya, semoga reuni di sana ya. Jilbabku, jilbabmu, jilbab kita! Sama-sama mahkota pelindung dan identitas muslimah kita yang suci lagi berharga, makanya jangan suka copot sekenanya. Biarkan ia bersemi indah selamanya, hingga nafas terakhirmu di dunia. Wakarimasu ka?[1]
Ah, rasanya aku ingin mengutip lagi puisi ini:

Kerudung Biruku
Aku janji,
Tak akan membiarkanmu
Terenggut dariku
Kelak, jika ibu berpesan padaku,
“Jaga dirimu.”
Cukuplah engkau dan Allah
Sebagai penjagaku

Wallahu ‘alam bisshawab.
Salam muslimah mewarnai dunia! ^___^


[1] Bahasa Jepang, artinya “do you understand?”

Tidak ada komentar: