Selasa, 05 Februari 2013

Tentang Mengheningkan Cinta

 
Kita pasti akan bertemu dengan jodoh kita. Tinggal kita memilih jalan mana yang akan kelak kita lalui. Engkau Ali, aku jatuh hati padamu sedari dulu. Namun sebelum itu aku telah mencintai Allah lebih dari apapun. Aku percaya, bahwa apa yang Allah rencanakan untukku adalah yang terbaik. Aku Fatimah, memang jatuh hati padamu, berkali-kali, namun izinkan aku untuk selalu mengheningkannya. Hingga kelak, biarlah Allah yang menyampaikannya kepada hati yang tepat. Entah engkau, entah siapa. 
( http://akhwatodongsolihah.blogspot.com/2012/06/haru-biru-hati-fatimah.html)
 Rasanya belum lama saya berbincang dengannya tentang pernikahan. Tak lama berselang setelahnya, air matanya tumpah di hadapan saya. Tergambar jelas dilema di pelupuk matanya. "Aku dikhitbah," katanya. "Sementara ibu belum merestuiku untuk menikah sekarang. Padahal pihak lelaki menginginkan agar prosesnya dipercepat." Prioritaskan ridho ibu dulu, Ukh. Kalau dia tak sabar, cari saja akhwat lain yang lebih siap.
"Namun aku menyayanginya."
Sampai pada kalimat itu saya tak mampu berargumen lagi. Hanya menepuk pundaknya pelan, cara menenangkan yang paling sederhana.
Hari-hari berlalu dengan gundah-gulana yang menyerta. Apa sampai sekarang dia belum memberikan jawaban kepada si ikhwan? Ia lebih sering memilih menyepi di Nurul Ashri ketimbang terlibat dalam kerumun jamaah di Masjid Kampus yang riuh. Semoga Allah memberimu jawaban yang terbaik, Ukh.
  
Pagi itu saya masih disibukkan dengan momen Pemira (Pemilihan Raya Mahasiswa) 2012, ketika ia datang menghampiri saya dengan paras yang tak lagi kuyu seperti hari-hari yang lalu.
"Bagaimana?" tanya saya tak sabaran.
"11 Januari," ucapnya penuh senyum.
"Subhanallah... Alhamdulillah." saya tak kuasa menahan haru. Cepat sekali. Bagaimana bisa? Ia bercerita bahwa sang ibu sudah merestui. Tentulah itu bukan sesuatu yang mudah. Butuh proses untuk meyakinkan orang tua. Apalagi dalam kondisi ia masih berstatus mahasiswi, belum lulus. Masih punya adik-adik yang masih kecil-kecil.
"Ibu baru mengizinkan aku menikah setelah lulus S2 dan dapat kerja, Sa."
"Jangan begitu, Li. Berusahalah untuk memahamkan orang tuamu. Ada banyak cara. Jika kau telah siap, pantaskah menunda-nunda untuk beribadah? Apalagi ketika ada orang saleh yang datang melamarmu."
Saya tergugu. Butuh perjuangan memang. Tentu saja, butuh perjuangan.
Jumat itu saya merasa bersalah karena tak bisa menghadiri akad nikahnya. Hanya bisa terharu ketika melihat foto-foto yang diunggahnya melalui jejaring sosial. Ia cantik sekali dengan gaun putih dan rangkaian mawar putih yang menghias kerudungnya.
Indahnya kisahmu, Ukh. Seperti yang pernah kau tulis dalam postingan "Haru-Biru Hati Fatimah" itu. Allah telah menyampaikannya kepada hati yang tepat. Kepada orang yang pernah meraih kekagumanmu. Kepada sosok yang bahkan kau tak pernah berani bermimpi untuk bersanding dengannya kelak.
 
"Tahukah kau? Aku selalu berdoa pada-Nya agar Dia memberi aku yang terbaik dari sisi-Nya.. sungguh tak pernah ku menyebut dia dalam doaku, kecuali memohon pada Allah agar melihat isi hatiku.. dan mengabulkan keinginan hatiku.."
 Buncahlah air mata saya membaca kalimat itu.
 Pada akhirnya, upaya saya untuk selalu mengheningkannya bermuara pada barisan kata, karya fiksi saya nomor sekian puluh:
Maka, biarlah ia menjelma menjadi serenade biru, resital puisi dan melodi yang mengalun tanpa kata-kata--sebab alam yang akan menjadi penerjemahnya. Biarkan hening merasa seutuhnya. Suara langit lindap, menangga jiwa. Biarkan kata-kata tak tereja, hingga Allah bukakan pintu rahasia agar aku mampu mengejawantahkan cinta itu dari beningnya jiwa, sesuci perjanjian agung yang menggetarkan gunung-gunung--mitsaqan ghalizaa. Ketika tak ada lagi jarak centang-perenang yang menjembatani maupun memberi jeda, antara aku dan Sang Entah Siapa.
(Lia Wibyaninggar dalam antologi cerpen Angkasa Rindu, 2013)

"Siapakah lelaki beruntung itu, Li?" tanyanya kemudian.
Saya hilang kata. Serba tak tahu.
Hening.




:: Untuk sahabatku Asa G. Lizadi yang baru menggenapkan separuh agamanya ::
Februari penuh cinta, 2013
Posting Komentar