Selasa, 13 November 2018

Kepada Anakku, Yasmina: Ini Hidupmu, Jalanilah




Matamu yang bundar itu mengerjap-kerjap, sesekali kau tersenyum bahkan tergelak—entah apa yang kau tertawakan. Apapun itu, Nak, kau berhak untuk selalu menyunggingkan senyum kebahagiaan, senyum keceriaan, selayaknya anak-anak pada umumnya yang masih bersih dari lumuran dosa. Bunda pun tersenyum. Terima kasih ya, Nak. Bolehkah Bunda menyebutmu Peri Kecil saja? Sebab sedih dan luka yang datang seketika hilang karena memandang senyum lesung pipitmu.

Sayangku, tahukah kamu, terkadang Bunda berpikir, apakah hadirmu kini adalah ujian? Apakah hadirmu adalah beban? Ataukah hadirmu merupakan ujian dan berkah sekaligus dari tuhan? Semuanya repot dan mendadak sibuk karena ada kamu di tengah-tengah kami. Semuanya seolah ikut lelah karena ada kamu di tengah-tengah kami. Nak, patutkah kamu dipersalahkan? Tidak sama sekali. Hadirmu adalah kesyukuran tiada tara. Berapa banyak perempuan yang telah menikah bertahun-tahun, namun belum ada tanda-tanda diberi keturunan? Sedangkan hanya tiga bulan berselang sejak akad terucap, engkau sudah hadir mengisi hari-hari kami sebagai calon orang tua. Bahkan kehadiranmu sudah Bunda rindukan semenjak dulu, jauh sebelum Bunda tahu siapa abimu. Maafkan atas berlapis-lapis kesedihan yang menumpuk semenjak dulu, sejak waktumu masih benih di dalam rahim. Jika kelak kamu menjumpai Bunda menangis, jangan takut ya. Itu air mata yang keluar karena Bunda sangat mencintaimu. Jangan kau tiru air mata Bunda, sebab—sekali lagi, kau berhak untuk selalu tersenyum bahagia. Meski demikian, lewat beragam luka, Bunda belajar banyak hal. Semoga menjadi hikmah dan pelajaran bagi kami, orang tuamu, untuk mendidikmu dengan cinta.

Nak, kamu terlahir perempuan. Adalah tugas berat bagi Bunda (dan juga Abi) untuk mendidikmu kelak menjadi wanita salehah sesuai koridor agama kita. Mendidikmu sesuai fitrahmu sebagai perempuan. Dengar, Sayang, kemuliaanmu nanti tidak ditentukan oleh beragam prestasi duniawi, sekolah tinggi hingga bergelar master ataupun doktor, atau menjadi wanita karier yang sibuk di luar rumah. Kemuliaanmu kelak ditentukan oleh seberapa taatnya kamu kepada Rabb Semesta Alam yang menciptakan kita, seberapa pandai kamu menjaga diri sebagai seorang muslimah, serta bagaimana taatmu kelak kepada suamimu setelah menikah. Bunda harap, kamu mau patuh kepada orang tuamu jika menyuruhmu untuk patuh jua kepada aturan agama. Kebahagiaan terbesar Bunda bukan ketika kelak kamu sukses mendapatkan serenteng gelar akademik, lalu menjadi wanita karier. Kebahagiaan terbesar Bunda nanti ada pada doa-doa tulusmu untuk kami, sebab itulah amalan anak Adam yang tak terputus jika telah tiada, Nak. Bunda tak akan memaksamu kau harus jadi apa. Ini hidupmu, jalanilah. Jangan sampai kau seperti Bunda, tersandera oleh obsesi orang tua. Namun, kau harus ingat, segala keputusan yang kau ambil harus tetap berada dalam koridor yang telah ditetapkan oleh-Nya.

Yasmin cantik, saat ini mungkin ada ratusan bahkan ribuan perempuan seperti Bunda. Meninggalnya egonya sebagai perempuan bekerja di rumah. Lebih memilih memakai daster lusuh di rumah dan berpeluh karena asap dapur, daripada berdandan rapi dan wangi sedari pagi, berkejaran dengan waktu dan rutinitas jalanan. Kalau kamu sudah sekolah nanti, lalu ada temanmu yang bertanya apa pekerjaan bundamu, janganlah kau sedih dan malu. Bunda mungkin tidak seperti ibu teman-temanmu yang guru, perawat, dokter, PNS, dan pekerja kantoran lainnya. Namun, Bunda bisa menemanimu sepanjang waktu, tidak harus menitipkanmu di daycare atau meninggalkanmu bersama baby sitter. Doakan kami bisa membersamaimu (dan adik-adikmu kelak) hingga kalian dewasa ya, Sayang. 

Tidak ada yang salah dengan para ibu yang bekerja di luar sana, Nak. Mereka memilih berkorban meninggalkan anak-anaknya di rumah tentu bukan tanpa alasan. Ada yang memang harus diperjuangkan di sela rasa bersalahnya karena tak bisa selalu membersamai buah hatinya. Tidak ada salahnya pula dengan para ibu yang memilih ‘bekerja’ di rumah, tersebab bakti dan cintanya pada sang suami dan anaknya. Tapi, Nak, kata nenek, Bunda tak berguna, hina, dan menyedihkan. Hanya karena Bunda tidak bekerja di luar rumah, memilih mengikuti abimu dan mengasuhmu. Karena Bunda mengecewakannya, orang yang telah menyekolahkan Bunda hingga perguruan tinggi. Nak, dari sini Bunda belajar, Sayang. Bahwa tak semua harapan harus selalu dipaksakan untuk mewujud dalam kenyataan. Bahwa memiliki anak perempuan, suatu saat akan menjadi istri orang. Ketika telah menikah, rida suamimulah yang lebih utama. Jangan sekali-kali kau menggugat takdir, sebab ia adalah ketentuan Yang Maha Kuasa.

Anakku, bundamu hanyalah manusia biasa. Teramat sangat biasa. Bunda bisa marah, kesal, jengkel, dan juga mengomel. Untuk itu, ingatkan Bunda agar selalu berlemah-lembut kepadamu. Bunda selalu berdoa, supaya Allah menjaga lisan Bunda dari kata-kata yang tak seharusnya dikeluarkan mulut ini. Sebab omongan orang tua itu doa, Nak. Kita mungkin sanggup bertahan dari omongan orang lain yang tak mengenakkan. Namun, akan sangat pedih jika kalimat-kalimat pahit itu terucap dari bibir orang terdekat. Orang yang menghujani kita cinta, namun juga hujatan sekaligus. Semoga Allah menjaga telinga mungilmu dari kata-kata kotor yang—sengaja atau tidak—terucap oleh orang tuamu atau bahkan nenekmu.

Sayang, surat ini akan sangat panjang kalau diteruskan. Sementara kau sudah terlelap dipeluk mimpi. Jalan masih panjang, Nak. Tak sependek mimpimu semalam. Terpenting, ini hidupmu. Kau berhak untuk bahagia. 


Lots of Love,
Bunda
Posting Komentar