Jumat, 13 April 2018

Parameter Sekufu #2





“Untuk mampu diajak berjalan bersama, sepasang sandal memang haruslah berbeda. Namun, tidak mungkin pula untuk memasangkan sandal jepit dengan sepatu berhak tinggi, bukan?”

“Kalau kalian berjodoh, itu artinya kalian sekufu,” lontar seseorang melalui sebuah pesan WhatsApp, suatu hari, sekitar 2 tahun yang lalu. Kalimat itu terngiang-ngiang di kepala saya berhari-hari lamanya. Ketika itu, rasanya saya sudah tidak ingin ambil pusing dengan yang namanya sekufu, selevel, setara, atau apalah sebutannya itu ketika memutuskan membuka pintu untuk seseorang. Siapalah saya, hamba biasa yang tak tahu apa-apa perkara yang terbaik untuk diri saya sendiri di masa depan. Itu sepenuhnya hak prerogatif Sang Maha Pengatur Semesta. Lagipula, apakah sebenarnya parameter yang hakiki dari ‘sekufu’ itu sendiri? Telah bertahun-tahun berlalu semenjak saya menulis ini, telah berlalu pula fase single menjadi sold-out, namun entah kenapa rasanya ingin menulis tentang ini lagi.

Baiklah, mentang-mentang kami sudah menikah, jadi, apakah saya dan suami benar-benar sekufu? Jika berdasarkan lontaran teman di atas, tentu saja jawabannya “iya”. Tetapi, jujur, ketika taaruf dengan si Abi dulu, saya sudah nggak mikir sekufu-sekufuan lagi. Yang penting kami berkomunikasi untuk saling mengenal satu sama lain, dan nyambung, merasa cocok, ya sudah, lanjut! 

Cocok? Eh, kata satu ini juga sempat bikin saya mikir lumayan lama. Sebenarnya kaidah cocok itu apa dan bagaimana? Lha gimana, orang-orang yang sedang galau mencari belahan jiwa selalu mengandalkan kata satu ini, tapi sering enggak menyadari kalau... first thing first, enggak ada dua insan yang benar-benar cocok satu sama lain di muka bumi ini (kalau maunya gitu mah nikah aja sama diri sendiri, berkembang biak dengan cara membelah diri. *eh). Kedua, banyak juga pasangan yang sudah lama menikah malah memutuskan bercerai dengan alasan yang... ehm... “Kita udah nggak cocok lagi!” Nah lhoooo. Ketiga, sesungguhnya seringkali kita juga nggak bener-bener paham, cocok itu apa dan bagaimana (tapi pengennya teh jodoh yang cucok meong sama ngana. Bingung kan?).

Apakah kalau saya hobi baca buku dan dia sukanya naik gunung itu artinya nggak cocok? Apakah ketika kami satu jurusan dan satu pekerjaan itu cocok? Apakah kalau dia koleris yang hobi marah-marah dan saya plegmatis yang gampang nangis itu nggak cocok sama sekali?

Keempat, men are from Mars, women are from Venus. Mengertilah bahwa sampai kapan pun, laki-laki dan perempuan berbeda di banyak hal yang sesungguhnya butuh effort untuk menyatukannya. Perkara cocok dan tidak cocok sejatinya adalah persoalan seberapa lapang ruang penerimaan dalam hati kita sendiri, juga seberapa luas kadar penerimaan seseorang itu tentang kita. Sebab, kita menikah, hidup bersama dalam kurun waktu yang lama dengan manusia biasa yang tentu tidak luput dari keburukan-keburukan yang mungkin kita akan susah menerimanya.

Well, duluuuu sekali, saya punya list kriteria calon lelaki yang ideal menurut saya (tapi ujungnya mostly nggak pernah saya tulis di biodata taaruf. Haduuh, maaf ya, Pak Suami :p). Pertama, agamanya harus baik—paling tidak, lebih baik dari sayalah ya (ini udah pasti). Kedua, harus GANTEEEENG! (parameter ganteng saya ituh; putih, minimal kuning langsat, tinggi dan berat proporsional, good-looking menurut banyak orang, gak sipit-sipit amat matanya, dan berkacamata kayak itu tuh... Kanata Hongo pas berperan jadi Izumi #eaa). Ketiga, dia punya hobi yang sama dengan saya, yakni menulis dan baca buku—wabilkhusus buku-buku fiksi dan sastra. Impian absurd saya waktu itu, saya ingin bisa menulis buku berdua dengan suami. Ngomong-ngomong soal impian nulis buku bareng, sudah bisa ditebak, saya mendambakan lelaki yang bisa ROMANTIS. Romantis ini maksudnya, dia juga lihai berkata-kata puitis macam Fahd Pahdepie atau Pak Sapardi. Dia juga bisa main gitar atau sedikit-sedikit menyanyi, soalnya saya suka orang yang punya jiwa seni (wah, kok impian gue dulu ala sinetron atau drama remaja banget gini ya. Haha. Embuhlah). 

Berikutnya, saya ingin nikah sama orang yang sudah saya kenal jauh-jauh hari sebelumnya, bukan dadakan sebulan-dua bulan sebelumnya lalu dia ngajak married. Saya sudah jatuh hati dengannya sebelumnya, kemudian kami menikah (and we live happily ever-after. *langsung inget film Shrek -.-)
Terakhir, karena saya berkarakter plegmatis-melankolis, saya berharap semoga pasangan saya adalah orang sanguinis atau koleris, biar setidaknya bisa mengimbangi saya.

Sekarang, mari kita cocokkan dengan kenyataan yang ada.

“Li, dia ganteng nggaaak?” tanya seorang teman, H minus entah berapa hari menuju hari pernikahan. “Siapaaah?” tanya saya balik, sok bego. “Calon elu.” Saya cengo. “Kok pertanyaanmu gitu sih?” Jawab dia, “Kan kamu biasanya suka sama yang ganteng.” Etdah. *tepok jidat. Dan sebagai sahabat baik, dia tahu parameter ganteng absurd saya seperti apa. Saya harus jawab gimana? Hahaha. Sejak taaruf pertama kali, saya sudah tidak mempersoalkan ganteng-tidaknya secara fisik. Terpenting, agamanya baik, saleh. Gantengnya akan ngikut sendiri, itu sudah cukup. Ini juga tergantung mata hati masing-masing bagaimana menilai orang lain sih. Tapi kemudian, parameter ganteng saya berubah, paling tidak, mukanya harus ada hawa-hawa masjidnya. Adem alias menyejukkan jika dipandang (iyalah, qurrata a’yun kan tidak harus tinggi, putih, berkacamata). Lagi-lagi, perkara ini cuma hati yang bisa menilai.

Lalu, romantis? Hmm, suami saya tidak hobi menulis seperti saya. Bahkan, jurusan kami berseberangan—baik secara jarak maupun disiplin ilmu. Saya dibesarkan di lingkungan ilmu sosial humaniora, dia anak ilmu teknika. Fakultas Ilmu Budaya dan Fakultas Teknik di UGM itu jauh-jauhan, bro. Sudah jauh, tak pernah bertemu di organisasi atau kegiatan yang sama pula. Secara pola pikir mungkin kami akan jomplang dan banyak tak sejalannya. Saya pernah bilang ke diri sendiri kalau saya nggak mau berjodoh sama anak teknik (akibat trauma, pasalnya dulu pernah nemu orang teknik yang kaku dan ampun dah, gak nyambung banget). Namun, perkara jodoh, Allah-lah yang berkuasa. Kun fayakuun, jodoh saya anak teknik. Maka, hati-hati dengan ucapan anda sendiri ya. ^^v

Jangan bayangkan di bawah sinar rembulan dia akan berpuisi, apalagi sok-sokan bersenandung “Zaujati, Antii habiibati anti...” atau Sakinah Bersamamu ala-ala Romantic Duo Kang Suby dan Teh Ina, saya pernah ketawa-ketiwi baca biodata yang dia tulis karena penuh typo. Mak, impianku kandas. L Apatah lagi berani merayu dengan gombalan semacam, “Duhai bidadariku, Ainul Mardhiyahku...” Nggak pernah. Kalau benar terjadi mungkin malah saya akan bergidik lantas membatin, “Kenapa Abi jadi mendadak dangdut gini?”

Kesimpulannya, suami saya tidak romantis. Ia tidak bisa romantis seperti standar saya sebelumnya. Namun, romantisnya ditunjukkannya dengan cara yang berbeda, bukan dengan kata, namun perbuatan. Love is not an adjective, it is a verb. Ye kan?

Kemudian, saya sudah kenal sama dia jauh-jauh hari? Big NO. Perkenalan kami tak lama. Ibarat bulan ini kenalan, kemudian bulan depan lamaran. Saya sudah suka sama dia sebelum-sebelumnya? Enggak juga. Semuanya serba “gercep” (gerak cepat), kalau nggak mau dibilang (digoreng) dadakan (yaelah, tahu bulet dong, Sist).

Pasangan saya sanguinis-koleris? Ini juga salah besar. Ia sebelas-dua belas seperti saya, plegmatis-melankolis. Salah satu dari beberapa persamaan absurd yang saya temukan, selain IPK yang podho plek dan weton (hari lahir menurut penanggalan Jawa yang biasanya digunakan para tetua untuk mencari hari pernikahan kedua mempelai) yang sama persis. -_-

Kesimpulannya lagi, saya tidak benar-benar tahu apa yang terbaik bagi diri saya sendiri. Menurut saya dulu, laki-laki yang tepat bagi saya adalah yang begini-begitu. Namun tidak demikian di mata Allah. Menurut saya dulu, lelaki yang cocok bagi saya adalah A, B, C, D. Namun Allah menggariskan alfabet yang lain. Jadi, saya juga tidak benar-benar mengetahui secara pasti, yang sekufu dengan saya adalah lelaki seperti apa. Maka, ketika istikharah itu berjawaban “ya”, saya yakin ia memang tepat untuk saya, Allah mengatakan bahwa ia adalah yang sekufu dengan saya.

Suatu hari, saya mendapat pesan yang sangat menarik, ditulis oleh Ustaz Fariz Khairul Alam, Pesan itu bertajuk “Mungkin Saja Ia Memang Saleh, Tapi Belum Tentu Kami Cocok.” Lagi-lagi, hadis di bawah inilah yang menjadi dasar pembahasan.

“Jika datang padamu lelaki yang kau ridai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Jika tak kau lakukan, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang panjang.” (HR Turmudzi dan Ibnu Majah)
Perhatikan, Nabi saw tidak mengatakan, “Jika datang padamu lelaki beragama dan akhlaknya baik,” namun Nabi saw mengatakan, “Jika datang padamu lelaki yang kau ridai agama dan perangainya.” Apa bedanya? Pernyataan pertama—dan itu tidak diucapkan oleh Nabi saw—bermakna, orang tua harus menikahkan anaknya dengan lelaki saleh, dan bahwa lelaki saleh itu pasti akan menjadi suami saleh.
Namun, pernyataan kedua—yang diucapkan Nabi saw—memberikan pengertian pada kita bahwa orang tua dalam memilih calon menantu, syaratnya harus rida terhadap agama dan perangainya, karena memang tidak semua lelaki saleh, kau setujui cara beragama dan perangainya. Jadi, ada unsur penilaian manusia di sini. Sedang penilaian manusia itu hanya terbatas pada sesuatu yang lahiriah atau tampak.
Kisah Fathimah binti Qays menjelaskan hal ini. Alkisah, Fathimah binti Qays dilamar oleh dua orang lelaki. Tak tanggung-tanggung, yang melamarnya adalah dua pembesar sahabat, yakni Mu’awiyah dan Abu al-Jahm. Namun, setelah dikonsultasikan ke Rasulullah saw, apa yang terjadi? Rasulullah saw menjelaskan bahwa kedua lelaki tersebut tidak cocok menjadi suami Fathimah binti Qays.
Apa yang kurang dari Mu’awiyah dan Abu al-Jahm? Padahal keduanya adalah lelaki saleh yang memiliki keyakinan agama yang baik. Namun, Rasulullah saw tidak menjodohkan Fathimah dengan salah satu dari keduanya, karena Nabi saw mengetahui karakter Fathimah, juga karakter Mu’awiyah dan Abu al-Jahm.
Lebih lanjut, Nabi saw menawarkan agar Fathimah menikah dengan Usamah bin Zaid, seorang sahabat yang sebelumnya tidak masuk “nominasi” Fathimah. Setelah Fathimah menikah dengan pilihan Nabi saw itu, apa yang dikatakannya kemudian?
Fathimah mengatakan, “Allah melimpahkan kebaikan yang banyak pada pernikahan ini dan aku dapat mengambil manfaat yang baik darinya.”
Jadi, kepala rumah tangga yang ideal bagi Anda dan seluruh wanita muslimah adalah: pertama, lelaki saleh. Kedua, memiliki perangai yang sesuai dengan karakter Anda, dan ini nisbi atau relatif, yang tidak mungkin bisa dijawab kecuali oleh Anda sendiri.
Kesalehan seorang lelaki memang menjadi syarat bagi wanita yang ingin menikah. Namun, itu saja tak cukup. Perlu dilihat kemudian munasabah (kesesuaian gaya hidup, meski tak harus sama), musyakalah (kesesuaian kesenangan, meski tak harus sama), muwafaqah (kesesuaian tabiat dan kebiasaan).
Sekali lagi, aspek kedua sifat ini sifatnya relatif, tidak bisa dijawab kecuali oleh wanita yang akan menikah dan keluarganya. Oleh karena itu, kalau ada yang datang melamar, tanyakanlah karakter dan perangainya pada orang-orang yang mengetahuinya, baik dari kalangan keluarga atau teman-temannya.
Terakhir, bagi yang belum menikah dan sedang mencari jodoh, agama mensyariatkan adanya musyawarah dan istikharah. Lakukanlah keduanya. Sementara bagi yang sudah menikah, terimalah keberadaan suami Anda apa adanya, karena menikah itu ‘satu paket’; paket kelebihan dan paket kekurangan dari pasangan. Tinggal bagaimana Anda menyikapi kelebihan dan kekurangan itu. Orang bijak menyikapi kelebihan dengan syukur, menyikapi kekurangan dengan sabar. Orang bijak itu “pandai mengubah kotoran yang tidak bermanfaat menjadi pupuk yang bermanfaat.”
Sesuatu yang baik dari suami, ajaklah dia untuk makin meningkatkannya. Sedang yang jelek darinya, bersama Anda, hilangkan dari lembar kehidupannya. Janganlah memikirkan lelaki lain. Karena boleh jadi lelaki lain itu dalam pandangan Anda baik, namun ternyata ia tak baik dan tak cocok untuk menjadi suami Anda. Boleh jadi Anda melihat sepasang suami istri yang hidupnya bahagia. Lalu, Anda berkhayal seandainya lelaki itu yang menjadi suami Anda, pasti hidup Anda akan bahagia. Wah, itu belum tentu. Karena ternyata, bisa jadi lelaki itu memang cocok untuk perempuan yang sekarang menjadi istrinya, namun tidak sesuai bila menjadi suami Anda.
Satu yang pasti, percayalah bahwa pasangan hidup Anda adalah manusia terbaik yang diberikan Allah untuk Anda.

Tak ada yang salah dengan perbedaan dalam pernikahan—apapun itu, baik berbeda latar belakang kesukuan, perbedaan status sosial, maupun berbeda dalam harakah, karena sejatinya perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Namun, bisa jadi, akan ada usaha yang lebih ekstra untuk menjalankan rumah tangga demi meminimalisasi friksi-friksi atau konflik yang akan timbul setelahnya. Baiklah, pada akhirnya ini memang pilihan masing-masing kita.
Posting Komentar