Sabtu, 18 Februari 2012

Serenade Biru

Sudahkah kau lihat binar itu, Ukhti?

Binar sayu yang menghiasi kejora mata milikmu…

Dengan seribu ragu kau tatap rangkaian bangau kertas yang menggantung indah di sudut kamarmu, meliuk-liuk diterpa semilir angin pagi musim penghujan.

Kepada siapa lagi kau akan menuliskan cinta di tiap helaian sayapnya?

Lalu kau suruh mereka terbang menyampaikan cintamu kepada entah siapa—Sang Pendamba Syurga.
Ah, rinai hujan tiap pagi, tentu tak akan membuatmu menerbangkan bangau-bangau kertasmu. Sekarang justru kulihat rintik air di mukamu yang sendu.

Ada apa? Aku ingin bertanya, namun sepertinya jawaban yang kukais dari manik matamu itu tak bisa diurai hanya dengan sekata-dua kata.

Engkau sudah teramat lelah, sepertinya. Lelah dengan rasa bersalah. Bersalah akan hati yang lancang bercabang-cabang menaruh rindu, bukan untuk-Nya. Sudah berapa kali, Ukhti? Tiga kali, empat kali, lima kali? Berkali-kali… Awalnya ia akan mengirimkan seratus macam bunga semerbak yang melingkupi hatimu, menaburinya dengan serbuk berwarna merah jambu, membuatmu menyeketsa rupa manusia itu dari awal terjaga di mulanya pagi, hingga berangkat terlelap kembali, bahkan ia hadir menjelma mimpi yang mencumbui tidurmu. Kau berpayah menanamnya tanpa ada timbal-balik yang serupa. Ya, kau pandai sekali rupanya menyimpan kode-kode rahasia. Tak ada yang tahu. Peti dalam hati itu sempurna kau kunci dengan gembok ber-security code. Tak ada yang berani mengintip rahasiamu, tak ada yang bisa memecahkan bongkahan misteri nama—jangankan nama—inisial pun dunia tak pernah tahu. Namun, nampaknya semua berakhir serupa: duka. Aku sedih melihat ending tragis yang membungkam hatimu dalam nuansa kelabu-ungu. Kau kecewa dengan manusia itu. Memang benar, tak ada manusia yang sempurna—kau paham itu. Namun, kau—telah terlanjur dilingkupi serbuk merah jambu yang menumbuhkan seratus mawar semerbak—tentu penciumanmu tak akan sampai pada bangkai busuk yang disimpan di sela semak.

Sayounara, kau telah menghapus jerejak kisahnya dalam sejarah hidupmu. Terlupa. Amnesia. Tak hirau akan sefolder puisi dengan diksi puitis-romantis yang dia titipkan di komputermu. Acuh tak acuh akan segenap memori tentang potongan diskusimu dengannya: tentang cinta. Dia yang memulai. Ah, sudahlah. Makan tu cinta! Bagimu, itu sekarang hanyalah rentetan kata-kata seorang yang ingin belajar menjadi Gibran. Sayang sekali, engkau sama sekali tak tertarik menjadi Laila Majnun.

Ah, kau juga sudah menimbun ingatan tentang manusia yang sempat mengajakmu menanam rindu tentang tanah impianmu—di mana akan kau temui hamparan sakura yang merona diterpa hangatnya mentari musim semi. Lantas ketika ia berhasil meluluhlantakkan harapan yang kau bangun, itu tak ubahnya sukses menggugurkan kelopak-kelopak sakura bahkan ketika musim semi belum lagi beranjak pergi.
Lantas, sekarang?

Kau coba-coba menanam mawar itu lagi, dengan sosok yang sama sekali berbeda? Dia bukan Ryan Fikri dalam kisah Diorama Sepasang Al-Banna, juga bukan Fahri dalam Ayat-Ayat Cinta, apalagi Azzam yang menyunting Anna Althafunnisa. Namun... kau bilang ia mirip Ryan Fikri—bisa menempatkan diri, bahkan di komunitas yang sama sekali berbeda, Fahri—yang disukai banyak hawa, juga Azzam yang tengah berjuang demi ridha-Nya. Perkara engkau akan menjadi Inda Maharani, Aisha, atau mungkin Anna, itu tak terlalu penting. Kau tak ingin patah hati, bukan? Tentu saja. Lalu, apa masalahnya sekarang? Kisahmu bukanlah novel roman yang selalu berakhir mengharukan, Ukhti. Kisahmu entah—masih tersimpan di balik langit, di buku takdirmu, yang kisahnya sudah Ia goreskan dengan pena yang paling berkuasa, jauh sebelum kau menarik nafas pertamamu. “Allah takkan mengubah nasib seorang manusia, melainkan manusia itu yang berusaha merubahnya.” Engkau paham itu. Lantas apa yang akan kau lakukan sekarang?

Aih, aku tahu posisimu sekarang, lantas kau bimbang dengan itu semua. Wahai, apa yang membuatmu bimbang? Kau sudah memutuskannya semenjak beberapa tahun yang lalu, ini jalan terbaik yang engkau pilih. Kau merasa tak pantas berada di sana, dengan segala keterbatasan yang kau punyai?

Ada atau tidaknya engkau di sana, dakwah akan tetap diperjuangkan. Namun, jika tidak bersama dakwah, kau akan bersama siapa?

Hanya gara-gara rasa entahlah yang menumbuhkan mawar itu? Lantas, karena kau malu merasai aib itu, kau lari dan bergegas pergi, menghilang dari barisan para penyampai kebaikan itu? Itu sama sekali bukanlah solusi...

Namun.... kau pun tak bakal tega menjadi peniup angin ribut yang mengusir keberkahan dalam forum kebaikan itu. Kau tak bakal tega. Sebab kau tahu, rasamu bisa jadi penyebab hilangnya keberkahan itu, meski kau pun tahu—bukan hanya kau yang turut andil meruntuhkan bangunan keberkahan itu.

Hingga tiba di suatu titik kulminasi, aku ingin memarahimu. Ya, aku ingin memarahimu. Seharusnya kau sudah selesai dengan ini semua. Tak penting lagi buatmu merengek dan bermelankolis umpama Juliet. Kau sudah berkali-kali menonton video itu, sekarang renungkanlah! Alih-alih sempat menulis, memelihara, dan mengirimkan surat cinta, mereka hanya punya satu cinta. Setiap detiknya adalah perjuangan antara hidup dan mati. Mereka mempersembahkan semuanya, demi tegaknya Islam di muka bumi. Desing peluru dan tebasan pedang bukanlah sebuah ancaman, justru melalui itulah mereka menjemput seni kematian yang paling indah: syahid. Tidakkah kau ingin menjejakkan kaki ke bumi itu? Bumi yang dirindu para jundullah dan syuhada...

Engkau? Apa yang sudah kau persembahkan? Belum terlampau banyak, malah berasyik-masyuk dengan setetes rasa yang Ia titipkan, namun belum kau legalkan. Malu: satu kata yang harus kau sematkan mulai saat ini.

Tapi, siapakah yang paling menepati janjinya selain Allah?

Dia yang merajut adamu, Dia yang menitipkan bongkahan rasa itu kepadamu. Menitipkan. Artinya suatu saat Ia akan mengambilnya kembali, biar engkau menjejak kembali kepada cinta tertinggimu—Ia Sang Pemilik. Aku terheran, untuk apa kau merenung dan merutuk akan janggalnya keadaan hatimu baru-baru ini, hanya karena manusia baru yang hadir dalam episode dua-dasawarsamu. Padahal, engkau meragu tentangnya. Ia (mungkin) bukan siapa-siapa. Dia yang merajut adamu, semenjak waktumu masih benih, telah mengguratkan nama itu dengan indahnya. Jangankan nama—inisial pun kau tak pernah tahu. Dia, yang merajut adamu sebagai kepingan yang telah tercuri darinya. Hilang berpisah dalam dimensi ruang dan waktu yang berbeda. Namun, siapakah yang paling menepati janjinya selain Allah? Tiada. Sebab, tulang rusuk tak akan pernah tertukar... Sebab, yang baik hanya tertakdir untuk yang baik, dan yang buruk untuk yang buruk. Segalanya berjalan seiring sunnatullah. Kau yakin itu.

Jangan belokkan langkahmu, jangan tolehkan wajahmu, tetaplah menuju kepada satu. Semoga Allah meneguhkan hatimu. Selalu. Sampai pada detik ada ucapan janji yang kau saksikan sepenuh hati, janji yang menggetarkan gunung-gunung dan semesta.

Ah, ukhti. Kau tak bisa bemain piano, apalagi menggesek biola. Alih-alih memetik gitar. Menyanyi? Kau berjanji tak akan menyanyi selain di depan mahrammu, tentu. Melukis? Kau pernah melukis bunga sakura dengan warna bercampur baur yang amburadul. Kau tak akan mengulangi melukis lagi. Kau hanya bisa menulis, dengan kata-kata sederhanamu, sebab kau tak begitu piawai menerjemahkan bahasa-bahasa perasaan yang meruyak lantak dalam kalbumu. Terlampau sulit. Maka, biarlah ia menjelma menjadi serenade biru, resital puisi dan melodi yang mengalun tanpa kata-kata—sebab alam yang akan menjadi penerjemahnya.

Lihat, ukhti, angin tak lagi mengganggu bangau-bangau kertasmu. Seharusnya mereka diterbangkan ke Gaza, bukan ke Hiroshima, menjadi sejuta doa perdamaian buat mereka.

Binar wajahmu tak lagi sayu, kutemukan segores pelangi di horizon matamu....






(lagi-lagi) solilokui
January 29, 2012
Posting Komentar