Rabu, 10 April 2013

Washiyyah



Bismillahirrahmanirrahiim...

Ukhti, besarnya kerudungmu tidak menjamin sama dengan besarnya semangat jihadmu menuju rida tuhanmu, mungkinkah besarnya kerudungmu hanya digunakan sebagai fashion atau gaya zaman sekarang, atau mungkin kerudung besarmu hanya dijadikan alat perangkap busuk supaya mendapatkan ikhwan yang diidamkan bahkan bisa jadi kerudung besarmu hanya akan dijadikan sebagai identitasmu saja, supaya bisa mendapat gelar akhwat dan dikagumi oleh banyak ikhwan?

Ukhti, lembutnya suaramu mungkin selembut sutra bahkan lebih dari pada itu, tapi akankah kelembutan suaramu sama dengan lembutnya kasihmu pada saudaramu, pada anak-anak jalanan, pada fakir miskin dan pada semua orang yang menginginkan kelembutan dan kasih sayangmu?

Ukhti, lembutnya parasmu tak menjamin selembut hatimu, akankah hatimu selembut salju yang mudah meleleh dan mudah terketuk ketika melihat segerombolan anak-anak Palestina terlihat gigih berjuang dengan berani menaruhkan jiwa dan raga bahkan nyawa sekalipun dengan tetes darah terakhir, akankah selembut itu hatimu ataukah sebaliknya hatimu sekeras batu yang ogah dan cuek melihat ketertindasan orang lain?

Ukhti, rajinnya tilawahmu tak menjamin serajin dengan salat malammu, mungkinkah malam-malammu dilewati dengan rasa rindu menuju tuhanmu dengan bangun di tengah malam dan ditemani dengan butiran-butiran air mata yang jatuh ke tempat sujudmu serta lantunan tilawah yang tak henti-hentinya berucap membuat setan terbirit-birit lari ketakutan, atau sebaliknya, malammu selalu diselimuti dengan tebalnya selimut setan dan dininabobokan dengan mimpi-mimpi jorokmu bahkan lupa kapan bangun shalat subuh.

Ukhti, cerdasnya dirimu tak menjamin bisa mencerdaskan sesama saudaramu dan keluargamu, mungkinkah temanmu bisa ikut bergembira menikmati ilmu-ilmunya seperti yang engkau dapatkan, ataukah engkau tidak peduli sama sekali akan kecerdasan temanmu, saudaramu bahkan keluargamu, sehingga membiarkannya begitu saja sampai mereka jatuh ke dalam lubang yang sangat mengerikan, yaitu maksiat.

Ukhti, cantiknya wajahmu tidak menjamin kecantikan hatimu terhadap saudaramu, temanmu bahkan dirimu sendiri, pernahkah engkau menyadari bahwa kecantikan yang kau punya hanya titipan ketika muda, apakah sudah tujuh puluh tahun ke depan kau masih terlihat cantik, jangan-jangan kecantikanmu hanya dijadikan perangkap jahat supaya bisa menaklukkan hati saudara dengan senyuman-senyuman busukmu.

Ukhti, tundukan pandanganmu yang jatuh ke bumi tidak menjamin sama dengan tundukan semangatmu untuk berani menundukan musuh-musuhmu, terlalu banyak musuh yang akan kau hadapi mulai dari musuh-musuh Islam sampai musuh hawa nafsu pribadimu yang selalu haus dan lapar terhadap perbuatan jahatmu.

Ukhti, tajamnya tatapanmu yang menusuk hati, menggoda jiwa tidak menjamin sama dengan tajamnya kepekaan dirimu terhadap warga sesamamu yang tertindas di Palestina, pernahkah kau menangis ketika mujahid-mujahidah kecil tertembak mati, atau dengan cuek bebek membiarkan begitu saja, pernahkah kau merasakan bagaimana rasanya berjihad yang dilakukan oleh para mujahidah-mujahidah teladan.

Ukhti, lirikan matamu yang menggetarkan jiwa tidak menjamin dapat menggetarkan hati saudaramu yang senang bermaksiat, coba kau perhatikan dunia sekelilingmu masih banyak teman, saudara bahkan keluargamu sendiri belum merasakan manisnya Islam dan iman mereka belum merasakan apa yang kau rasakan, bisa jadi salah satu dari keluargamu masih gemar bermaksiat, berpakaian seksi dan berperilaku binatang yang tak karuan, sanggupkah kau menggetarkan hati-hati mereka supaya mereka bisa merasakan sama apa yang kamu rasakan yaitu betapa lezatnya hidup dalam kemuliaan Islam.

Ukhti, tebalnya kerudungmu tidak menjamin setebal imanmu pada Sang Khalik. Engkau adalah salah satu sasaran setan durjana yang selalu mengintai dari semua penjuru mulai dari depan, belakang, atas, bawah semua setan mengintaimu, imanmu dalam bahaya, hatimu dalam ancaman, tidak akan lama lagi imanmu akan terobrak-abrik oleh tipuan setan jika imanmu tidak betul-betul dijaga olehmu, banyak cara yang harus kau lakukan mulai dari diri sendiri, dari yang paling kecil dan seharusnya dilakukan sejak dari sekarang, kapan lagi coba.

Ukhti, putihnya kulitmu tidak menjamin seputih hatimu terhadap saudaramu, temanmu bahkan keluargamu sendiri, masihkah hatimu terpelihara dari berbagai penyakit yang merugikan seperti riya' dan sombong, pernahkah kau membanggakan diri ketika kesuksesan dakwah telah diraih dan merasa diri paling wah, merasa diri paling aktif, bahkan merasa diri paling cerdas di atas rata-rata akhwat yang lain, sesombong itukah hatimu, lalu di manakah beningnya hatimu, dan putihnya cintamu?

Ukhti, ngajimu tidak menjamin serajin infakmu ke masjid atau musala, sadarkah kau kalo kotak-kotak nongkrong di masjid masih terliat kosong dan menghawatirkan, tidakkah kau memikirkan infak sedikit saja, bahkan kalaupun infak, kenapa uang yang paling kecil dan paling lusuh yang kau masukan, maukah kau diberi rezeki seperti itu?

Ukhti, rutinnya halaqahmu tidak menjamin serutin puasa sunnah Senin-Kamis yang kau laksanakan, kejujuran hati tidak bisa dibohongi, kadang semangat fisik begitu bergelora untuk dilaksanakan, tapi semangat ruhani tanpa disadari turun drastis, puasa yaumul bidh pun terlupakan apalagi puasa Senin-Kamis yang dirasakan terlalu sering dalam seminggu, separah itukah hatimu, makanan fisik yang kau pikirkan dan ternyata ruhiyah pun butuh stok makanan, kita tidak pernah memikirkan bagaimana akibatnya kalau ruhiyah kurang gizi.

Ukhti, manisnya senyummu tak menjamin semanis rasa kasihmu terhadap sesamamu, kadang sikap ketusmu terlalu banyak mengecewakan orang sepanjang jalan yang kau lewati, sikap ramahmu pada orang yang kau temui sangat jarang terlihat, bahkan selalu dan selalu terlihat cuek dan menyebalkan, kalau itu kenyataannya bagaiamana orang lain akan simpati terhadap komunitas dakwah yang memerlukan banyak kader. Ingat, dakwah tidak memerlukanmu, tapi kaulah yang memerlukan dakwah, kita semua memerlukan dakwah!

Ukhti, ramahnya sikapmu tidak menjamin seramah sikapmu terhadap Sang Khalik, masihkah kau senang bermanjaan dengan tuhanmu dengan salat duhamu, salat malammu?

Ukhti, dirimu bagaikan kuntum bunga yang mulai merekah dan mewangi, akankah nama harummu disia-siakan begitu saja dan atau sanggupkah kau ketika sang mujahid akan segara menghampirimu?

Ukhti, masih ingatkah kau terhadap pepatah yang masih terngiang sampai saat ini bahwa akhwat yang baik hanya untuk ikhwan yang baik, jadi siap-siaplah sang syuhada akan menjemputmu di pelaminan hijaumu.

Ukhti, baik buruk parasmu bukanlah satu-satunya jaminan akan sukses masuk dalam surga Rabb-mu. Maka, tidak usah berbangga diri dengan parasmu yang molek, tapi berbanggalah ketika iman dan takwamu sudah betul-betul terasa dan terbukti dalam hidup sehari-harimu.

Ukhti, muhasabah yang kau lakukan masihkah terlihat rutin dengan menghitung-hitung kejelekan dan kebusukan kelakuanmu yang dilakukan siang hari, atau bahkan kata muhasabah itu sudah tidak terlintas lagi dalam hatimu, sungguh lupa dan sirna tidak ingat sedikit pun apa yang harus dilakukan sebelum tidur, kau tidur mendengkur begitu saja dan tidak pernah kenal apa itu muhasabah sampai kapan akhlak busukmu dilupakan, kenapa muhasabah tidak dijadikan sebagai momen untuk perbaikan diri bukankah akhwat yang hanya akan mendapatkan ikhwan yang baik adalah yang terbaik.

Ukhti, pernahkah kau bercita-cita ingin mendapatkan suami ikhwan yang ideal, wajah yang manis, badan yang kekar, dengan langkah tegap dan pasti, bukankah apa yang kau pikirkan sama dengan yang ikhwan pikirkan yaitu ingin mencari istri yang salehah dan seorang mujahidah, kenapa tidak dari sekarang kau mempersiapkan diri menjadi seorang mujahidah yang salehah?

Ukhti, apakah kebiasaan buruk wanita lain masih ada dan hinggap dalam dirimu, seperti bersikap pemalas dan tak punya tujuan atau lama-lama nonton TV yang tidak karuan dan hanya akan mengeraskan hati sampai lupa waktu, lupa bantu orang tua, kapan akan menjadi anak yang birrul walidain? kalau memang itu terjadi sampai kapan, mulai kapan kau akan mendapat gelar mujahidah atau akhwat salehah?

Ukhti, apakah pandanganmu sudah terpelihara, atau pura-pura menunduk ketika melihat seorang ikhwan dan terlepas dari itu matamu kembali jelalatan layaknya mata harimau mencari mangsa, atau tundukan pandangannmu hanya menjadi alasan belaka karena merasa berkerudung besar?

Ukhti, hatimu di jendela dunia, dirimu menjadi pusat perhatian semua orang, sanggupkah kau menjaga izzah yang kau punya, atau sebaliknya kau bersikap acuh tak acuh terhadap penilaian orang lain dan hal itu akan merusak citra akhwat yang lain, kadang orang lain akan mempunyai persepsi disamaratakan antara akhwat yang satu dengan akhwat yang lain, jadi kalau kau sendiri membuat kebobrokan akhlak maka akan merusak citra akhwat yang lainnya.

Ukhti, dirimu menjadi dambaan semua orang, karena yakinlah preman sekalipun, bahkan berandal sekalipun tidak menginginkan istri yang akhlaknya bobrok, tapi semua orang menginginkan itsri yang salehah, siapkah kau sekarang menjadi istri salehah yang selalu di damba-dambakan oleh semua orang? MULAILAH DENGAN KITA PERBAIKI KELALAIAN KITA.



NB: bukan tulisan saya. Begitu menohok, sampai ingin memposting ulang.
sumber: http://catatansebuahhati.blogspot.com/search/label/my%20dien


Tidak ada komentar: