Minggu, 18 Agustus 2013

Loving You


 Oleh: Lia Wibyaninggar

Maret 2004
Belakangan ini aku mulai terjangkit penyakit insomnia alias susah tidur. Penyebabnya, bukan karena over dosis kopi. Bukan juga karena over dosis tidur siang. Tapi, karena alam mimpiku sulit dicapai. Pikiranku terus mengembara ke alam lain yang aku sendiri tak tahu alam apa itu.
Di alam itu, kulihat manusia menyemut. Banyak sekali. Mereka itu teman-temanku, keluargaku, tetanggaku, dan… bahkan para selebriti yang selama ini kugandrungi! Kemudian, kulihat ada sosok lain yang mendekat. Semakin dekat, semakin terlihat. Aha! Wajahnya semakin jelas. Wajah itu kukenali. Pandangan mayaku tertumbuk ke orang itu. Dia… LEO!
Ah, dia lagi! Mengapa harus dia yang setiap malam hadir di benakku? Mengapa Leo? Seperti dunia sudah kehabisan cowok cakep saja. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Memandang barisan genteng di langit-langit kamarku yang basah karena terpaan hujan kemarin. Uhh, apa sih istimewanya Leo?
Leo teman seangkatanku di Pelita Bangsa Junior High School. Namanya keren bak selebriti: Vicky Leonardo. Aku sempat mengira dia cowok indo, blasteran. Tapi, ternyata aku terkecoh begitu bodoh. Aku kecewa seribu kali lipat ketika kami berhadapan untuk pertama kalinya. Sungguh, aku hampir pingsan? Di mana tampang indonya? Wajah cakepnya? Kulit putih? Hidung mancung? Semua itu raib! Yang berdiri di hadapanku itu justru sebaliknya! Wajahnya jauuuuuhhh dari yang kuharapkan. Jika dia ikutan audisi untuk mendapatkanku, nggak mungkin masuk nominasi. Tampangnya cuma nilai… nilai nggak lulus. Aku kan maunya yang berkulit putih, berhidung mancung, berbibir agak sensual, dan berambut hitam legam.
Lha ini! Berkulit hitam (walau nggak sehitam orang Negro), hidungnya agak pesek, rambutnya sedikit kepirang-pirangan (mungkin karena kelamaan nongkrong di bawah sang surya), dan..  ampun, bibirnya tebal persis unta! Mana istimewanya, cobaaa?!
Kalau memang ingin jadi ngetop markotop dan jadi rebutan para gadis, nggak usah mengecoh dari nama segala. Sana, deh operasi plastik. Dan sim salabim! Wajahmu yang jauh dari kata ‘handsome’ itu langsung berubah mirip Leonardo Decaprio. Dijamin tahan lama kok, wajah artifisialnya. Dan tentunya, cewek-cewek cantik akan terus menguntitmu. Sorry saja, aku nggak termasuk. Aku bukan cewek bego yang bisa dengan mudahnya tertipu oleh wajah artifisialmu!
Pertengahan Maret 2004
Olala! Ada apa dengan Tita? Aku benar-benar nggak percaya seratus persen dengan ucapannya. Curhatnya kepadaku kali ini benar-benar membuatku kaget seperempat mati. Bagaimana tidak?! Dia… naksir sama… Leo! Bagaimana logikanya cobaa? Tita yang finalis Cover Girl majalah Kesayangan itu.. bisa naksir sama si Leo buruk rupa. Ini sih, ceritanya bulan merindukan pungguk. Bukan malah sebaliknya. Bisa kutaksir saja Leo sudah sangat-sangat beruntung, apalagi Tita yang naksir. Benar-benar beruntung 1000 kali si Leo itu.
Wake up, Tita! Kamu tuh model. Apa kata teman-teman nantinya kalau kamu punya cowok bertampang nilai lima seperti dia? Selera kamu rendahan banget, sih!” protesku. Aku sebagai sahabatnya merasa harus mengingatkan dia. Aku nggak akan membiarkan dia salah jalan, sekalipun dalam memilih pacar.
Tapi, Tita sama sekali nggak menggubris. Ucapanku cuma masuk ke kuping kanannya, setelah itu keluar lewat kuping kirinya. Ah, ya sudahlah! Terusin saja perasaan kamu itu! Terusin sampai sebosan-bosannya!
       Tale as old as time, song as old as rhyme. Beauty and the beast… aku menceracau sembari mengumandangkan lagu milik Celine Dion itu.
Juli 2004 di kafe sekolah.
Tita mengucapkan salam perpisahan untuk kami semua. Aku nggak sanggup berlama-lama menahan air mataku. Begitu pula dengan teman-temanku yang lain. Begitu pula dengan… Leo. Pastilah dia yang merasa suuaangaat kehilangan Tita.  Tita mau pindah ke Jakarta. Hijrah dari kota kelahirannya ini.
Aku tahu Tita sudah putus hubungan dengan Leo sejak sebulan yang lalu. Jadi, sebenarnya Leo sudah lama kehilangan Tita. Tapi aku nggak tahu mengapa Tita memutuskan Leo. Tita bungkam sama sekali tentang hal itu. Dan seperti biasa, aku nggak bisa memaksa.
Ketika berpisah, Tita cuma menyalami Leo. Itu thok! Tanpa berucap sepatah-dua patah kata. Dan dalam kebisuan, Tita menyeret langkah beratnya meninggalkan Leo. Ya, Beauty telah meninggalkan Beast seorang diri. Sungguh kisah roman yang menyedihkan, hiks.. hiks..
Agustus 2004
Kemudian, tirai itu kini tersibak. Tabir itu telah terkuak. Dan aku sadar dari kebutaan. Sekarang aku bisa melihat pesona sejuta cahaya.
Mr.V. Siapa dia? Mengapa harus pakai inisial segala? Memangnya buronan? Kuamat-amati nama pengarang cerpen yang barusan kubaca di mading sekolah. Kata-katanya indah dan menyentuh. Kalau saja aku tahu siapa yang mengarang, aku nggak akan segan untuk meminta resep jitu dalam karang-mengarang. 
“Mr. V, ya? Dia anak kelas sebelah. Apa kamu nggak kenal?”
“Siapa, sih? Ayo, dong beri tahu.” Rengekku manja sembari mengguncang-ngguncang bahu Ranti, sahabatku sepeninggal Tita.
“Siapa lagi kalau bukan mantan pacar sahabatmu. Sejak dulu dia memang hoki ngarang.”
“Maksudmu, Si Beast? Si Leo?” Ranti mengangguk yakin. Aku terperangah, nggak percaya. Masa, sih?
“Nggak, aku nggak percaya!” ucapku.
“Perlu bukti? Ayo kita ke kelas sebelah dan tanya langsung kepada yang bersangkutan!” Ranti menantang. Aku terdiam. Menyelinap sedikit rasa malu di hatiku. Bagaimana aku mau minta resep jitu mengarang jika orang itu Leo? Gengsi, dong!
“Dia itu jago lho, Feb. Nggak cuma bisa ngarang. Lomba MIPA kemarin dia yang menang, lho. Terus, English-nya juga nggak kalah hebat dengan Dendra si ketua OSIS. Orangnya santun lagi. Rajin ikutan rohis. Aku salut sama dia.”
Kata-kata Ranti sepertinya masuk ke kuping kananku kemudian meresap ke hati. Nggak langsung hilang tertiup angin seperti biasanya. Betulkah itu? Si Leo-Beast punya kepribadian sedemikian menganggumkan? Hmm, kayaknya perlu ditayangkan di Ripley’s Believe it or Not.  Aku susah untuk mempercayainya.
Desember 2004.
Ada program English Speech Contest di sekolah. Aku nggak ikutan. Malas. Lebih enak jadi audiens. Tinggal duduk tanpa harus grogi. Aku kan punya penyakit grogi tampil alias demam panggung. Aku nggak mau penyakitku kumat lagi.
Yang tampil lucu-lucu banget. Ada yang speech-nya terlalu puaanjaang sampai mulutnya berbusa-busa. Iih, jijay-jijay deh, nek! Terus, ada yang penyakitan kayak aku sampai keringatnya membanjir bak air ledeng. Ada juga yang kata-katanya hilang saking groginya. Kasihan. Tapi, ada juga yang benar-benar bisa ngomong lancar dan penuh penghayatan. Dan aku nggak bisa mungkir lagi kalau ternyata orang itu Leo. Aku pun nggak bisa mungkir lagi kalau aku salut sama dia.
Applause dari audiens riuh terdengar ketika panitia menyerahkan tropi penghargaan juara pertama kepada Vicky Leonardo.
Aku cuma bisa menundukkan muka. Malu. Selama ini aku gengsi gede-gedean di hadapannya. Kupikir, tampangnya kan nilai lima. Sedangkan aku nilai delapan. Buat apa aku sok jaim, toh dia juga nggak akan masuk nominasi? Kupikir, nggak ada untungnya berbaik-baikan dengan cowok macam dia. Jadi, aku lebih memilih cuek-bebek. Aku muak dengan tampangnya! Tampang yang kuanggap lebih mirip unta Persia dari pada mirip manusia.
Tapi, sepertinya aku mulai ketularan Ranti. Aku mulai salut sama Leo. Dibandingkan aku, ibadahnya lebih taat. Malu kan? Si Leo itu muallaf, baru masuk Islam beberapa tahun yang lalu. Sedangkan aku, sudah Islam sejak lahir. Tapi, ibadahku nggak lebih baik dari Leo. Dia ikutan rohis seminggu dua kali. Sementara, aku sama sekali nggak ada niatan untuk ikut. Menjadi anggota rohis kan disugesti untuk berjilbab. Dan aku belum mau dipaksa menutup mahkotaku yang indah ini. Aku juga nggak mau kalau nanti disangka teroris di keluarga besar nenek yang agamanya beragam.
Sudah tiga malam Leo mampir di dalam mimpiku. Anehnya, wajahnya tidak separah di dunia nyata. Di mimpiku, wajahnya begitu tampan seperti Nabi Yusuf. Dan di mimpiku itu pula, aku merasa berperan sebagai Siti Zulaikha. Oh, tidak! Aku bukan Siti Zulaikha. Bukan!! Aku Febi.
Esoknya, aku menceritakan mimpiku kepada Ranti. Ranti tergelak mendengarkannya.
“Itu tandanya kau mulai tertarik-itik sama Leo. Jangan bohong. Kamu ingin menggantikan posisi Tita, kan?” refleks aku mengangguk. Hatiku takkan bisa berbohong. Mungkin inilah rasa yang dulu dialami Tita mengenai Leo.
Sejak itu aku mulai pe-de-ka-te ke Leo. Dalihku, cuma ingin diajari bahasa puitis. Tapi, sebenarnya, aku ingin mengenal kepribadiannya lebih dalam. Ternyata, dia punya kharisma. Luar biasa mengagumkan!
“Kamu nggak nyari pengganti Tita?” tanyaku suatu kali.
“Maksudnya?” ucapnya berlagak bego.
Girl friend. Tita kan sudah mutusin kamu.”
Leo menghela nafas panjangnya. “Aku dan Tita nggak pacaran. Hanya berteman. Aku memintanya untuk tidak terlalu intim denganku. Eh, dia marah dan seolah menjadikanku musuh.” Ucapnya menerawang.
“Lho, apa kamu nggak tahu kalau sebenarnya Tita tuh naksir abis sama kamu?”
“Aku tahu itu, Feb. Tapi…” kalimatnya menggantung.
“Tapi apa?!”
“Seharusnya kamu nggak usah tanya. Sebagai sesama Muslim seharusnya kita sama-sama tahu… Oh, iya! Hari ini aku ada les privat. Sorry, Feb diskusinya dilanjutin lain kali aja.” Leo berlari meninggalkanku sendiri di serambi kelas yang kini mulai sepi.
Diskusi katanya? Cuma obrolan biasa dianggapnya diskusi. Huh, dasar manusia jenius yang sok jenius. Apa yang akan diajarkannya kepadaku, ya? Soalnya, tanpa kusadari, ternyata aku memang harus belajar banyak darinya. Leo itu manusia unik. Bertampang rendahan tapi berotak jenius dan taat beragama. Berlawanan dengan aku. Oleh karena itulah aku ingin belajar banyak darinya. Siapa tahu nanti aku ketularan jeniusnya dia!
***
Malam bergulir, insomnia-ku hadir. Aku merenung. Kemudian terjadilah kontes debat cukup seru antara aku dan AKU. Antara sisi hatiku yang satu dengan sisi hatiku yang lain. Antara menyalahkan dan membenarkan. Aku salah. Ya, aku memang salah. Aku sombong setengah mati, menganggap orang lain yang bertampang jelek itu perlu dihindari. Aku terlalu egois dan ingin menang sendiri. Aku sok mengatur orang lain. Dan aku.. suka meremehkan perasaan orang lain, sampai-sampai kena hukum karma. Dulu aku merendahkan perasaan Tita. Tapi, akhirnya aku tertular perasaan itu. AKU SUKA LEO. Semata-mata bukan karena wajahnya. Tapi karena hatinya yang sebening mutiara, dan kecerdasannya yang mungkin nanti akan mengantarkannya ke planet tetangga, jadi astronot, seperti cita-citanya.
Rasanya, aku ingin menyanyikan lagu Nurhaliza keras-keras malam ini tanpa harus membangunkan para penghuni rumahku yang sedang terlelap begitu nyenyaknya:
            cintaku bukan kerana harta, cintaku bukan kerna paras rupa. Sedarilah kasih
Leo. Dia bukan raja hutan, tapi dia.. raja hatiku. Malam semakin kelam. Detik-detik di jam dinding kamarku berlalu dan berlalu. Tapi, perasaan satu ini nggak bisa berlalu begitu saja.
Agustus 2005
Cintailah segala sesuatu dengan sederhana. Karena cinta sejati tak ada di dunia ini. Meski kau arungi beribu samudra, kau daki gunung paling tinggi sekali pun, kau takkan pernah menemukannya
Itulah kata-kata Kak Farida, sang mentoring rohis yang kutemukan di Wall Magazine SMA 456 hari ini. Bagiku, kata-kata itu begitu tajam hingga menembus ke lubuk hatiku. Meresap hangat seperti sentuhan ukhrawi. Eh, bukankah ini sentuhan ukhrawi?
Setamat SMP, aku menelusuri kehidupan baruku di SMA. Aku sedih berpisah dengan semuanya. Terutama dengan Leo. Aku merasa hal yang belum kupelajari darinya masih sangat banyak. Tapi, Tuhan memang Mahapemurah. Di lembah kehidupan baruku ini, aku menemukan sesuatu yang dulu telah benar-benar hilang dari diriku. Aku menemukan setitik cahaya terang yang menghangatkan. 
Aku ingat ketika aku bertemu Leo di perpustakaan kota minggu lalu. Ia kaget bukan main melihat mahkotaku sudah tak nampak lagi. Dan hei, ia tersenyum melihatku berubah. Aku pun ikut tersenyum.
“Kenapa diam saja?” tanyanya. Ya Rabb, aku baru sadar bahwa sekian menit pertemuan kami, cuma dihabiskan dengan diam.
“Pikir sendiri. Kamu kan Je-ni-us.”
“Lho?” ia terbengong. Jika ekspresinya seperti ini, siapapun mungkin akan menyangkanya bego.
“Apanya yang ‘lho’? Kita sebagai sesama Muslim seharusnya sama-sama tahu. Kita bukan mahram. Nggak baik kan terlalu intim.” Kataku menimpali.
“Ooohhh..” balasnya. Kemudian, ia kembali tersenyum.
“Kamu pinjam buku apa?” tanyaku kemudian.
“Ini.” katanya sembari mengacungkan novel  ‘Ayat-Ayat Cinta’-nya Habiburrahman El-Shirazy. Sejak dulu Leo memang peminat sastra. Tak heran dia pandai merangkai kata-kata.
“Feb, aku duluan. Assalamualaikum.”
“Wa'alaikumsalam.” Dan sosok itu menghambur keluar, kemudian menghilang di antara lalu-lalang orang.
Malam tiba. Pikiranku hinggap ke Leo. Ah, Leo aku memutuskan untuk tetap mencintainya. Ya, mencintainya dengan sederhana. Takkan berlebih-lebihan, hingga membuatku gelisah semalaman. Karena cinta sejati tak ada di dunia ini. Kini aku menemukan cinta yang lain.
Jam weker berdering nyaring. Aku terbangun dari tidur yang begitu nyenyaknya. Kabur segala insomnia-ku. Waktu masih pukul 02.30 dini hari. Oh ya, aku ingat! Aku harus salat tahajjud!
Aku tiba-tiba ingat kalimat itu:  kemudian tirai itu kini tersibak, tabir itu kini terkuak. Dan aku sadar dari kebutaan. Sekarang aku bisa melihat pesona sejuta cahaya.
Kini aku pun bersimpuh di atas sajadah. Aku melihat cahaya itu datang!


[Akhir bulan di akhir tahun 2005]

Tidak ada komentar: