Senin, 05 Juni 2017

Kisah untuk Suatu Hari Nanti






Kelak, entah tahun berapa, entah berapa puluh bulan, berapa ratus minggu, berapa ribu hari, berapa miliar detik kemudian setelah hari ini, aku ingin duduk tenang di tepian jendela kamar kita. Ada kursi empuk dan bantal bundar bertuliskan “Everyone has a story to tell”, serta meja kayu yang dipelitur cokelat tua. Tentu meja itu tidak pernah hampa. Ada komputer jinjing, tablet, atau bahkan buku-buku catatan tempat aku menggoreskan pena. Ada jambangan keramik oval dengan kuntum-kuntum edelweiss yang semakin menua di sana—kau hadiahkan itu untukku beberapa tahun lalu usai kau pulang mendaki entah puncak gunung mana lagi. 

Selalu ada secangkir capuccino, cokelat panas, atau sekadar teh manis hangat yang turut menemaniku duduk menghadap jendela besar kamar kita. Rumah kita tak perlu pengharum ruangan, sebab di luar jendela kita yang selalu kubuka telah kutanam rumpun-rumpun mawar dan melati yang jika mekar wanginya akan menguar, merasuk-menyentil saraf-saraf olfaktori. Aku juga merasa tak butuh musik-musik instrumental yang katanya mampu membangkitkan inspirasi. Bukankah gemericik air hujan yang mendenting-denting di atap rumah sudah cukup merdu untuk didengar. Hujan yang menderas tak lain adalah simfoni terindah, melodi paling harmoni, ketika alam bersenandung dengan bahasanya. Lantas, pohon-pohon yang takzim menunduk mengeja syukur, ia nikmati basahnya daun-daun dan bebungaan, bertasbih dengan cara mereka.

Pun aku dan kamu, mengeja syukur dengan cara yang telah kita sepakati jauh-jauh hari, bahkan sebelum kita berteduh dan tinggal di bawah atap yang sama. Kita bersyukur atas cara Allah mempertemukan dan mengatur jalan cerita, dengan tetap bergenggaman tangan meski ada kerikil-kerikil tajam dan hujan badai yang mulai mendera. Kita bersyukur atas karunia limpahan rezeki dengan tetap beramal dan menyederhanakan bahagia. Sebab, cukuplah setia dari masing-masing kita menjadi harta paling berharga. Sebab, mengepak dengan satu sayap tak cukup kuat untuk mengantarkan kita kepada surga-Nya.

Aku berterima kasih, bahwa adamu yang tak pernah kusangka sebelumnya ternyata membuatku semakin lihai menulis beragam kisah dengan penggal-penggal hikmah. Adamu adalah penyulut candu agar aku mampu menuang bahasa-bahasa indah nan santun-bersahaja. Sosok yang tak pernah sekalipun memprotes mengapa aku gemar berlama-lama duduk menyendiri bertemankan sepi, bahkan urung rindu ketika kau seharian pergi bekerja. Karena kita tahu, merawat rindu dalam jarak cukuplah dengan doa-doa yang berpeluk di hening munajat kepada-Nya. 

Kelak, di tepi jendela itu, aku akan menuliskan kisah bagaimana kita berjumpa.





Tulisan lama yang teronggok di folder laptop, dan waktu itu batal diposting



Posting Komentar